NONA DIANDRA

NONA DIANDRA
KEBODOHAN LOUIS


__ADS_3

Kangker?"


Dengan cepat Lydia langsung menganggukkan kepalanya saat Louis mengatakan hal tersebut kepadanya.


"Ya Louis, dan hanya aku cucunya yang masih ada, ke dua orang tua ku sudah meninggal akibat kecelakaan satu tahun yang lalu."


Louis dengan jelas dapat melihat guratan kesedihan dari Lydia.


Ya Lydia wanita yang pernah dia cintai dan sampai saat ini masih berada di dalam hatinya.


"Louis apakah kau tidak mau menanyakan sahabat mu itu?"


Perkataan Lidya langsung membuat Louis mengernyitkan dahinya, karena sahabat yang di maksudkan oleh Lydia adalah laki - laki yang saat itu merebut Lydia dari dalam genggaman tangannya.


"Frans yang kau maksudkan?"


Lydia langsung menganggukkan kepalanya ketika mendengarkan pertanyaan Louis.


"Untuk apa aku menanyakan dirinya lagi, saat ini kau pasti sudah bahagia dengan Frans bukan?"


Mendengarkan ucapan Louis, Lydia kini hanya bisa tersenyum sinis, hatinya ingin menangis ketika mendengarkan perkataan Louis.


"Kau salah!"


Satu ketegasan keluar dari mulut Lydia yang membuat Louis menjadi sungguh sangat terkejut.


"Salah?"


Lydia langsung menatap tajam ke arah Louis sambil menganggukkan kepalanya.


"Kami sudah putus Louis."


Setelah mengatakan hal tersebut Lydia kembali mengarahkan pandangannya lurus ke depan.


"Saat itu aku sungguh sangat menyesal dengan semua hal yang telah aku lakukan kepada mu, aku yang mengkhianati cinta mu yang begitu tulus, aku yang membuat kehidupan mu hancur, dan pada akhirnya aku yang sadar bahwa aku begitu kehilangan mu saat semuanya sudah terlambat."


Lydia kini memandang Louis dengan tatapan tajam.


"Saat itu, aku beberapa kali ingin menghubungi mu kembali, saat itu aku berharap bahwa kau masih bisa memberikan aku maaf, namun..."


Lydia tiba - tiba saja berhenti berbicara, ke dua tangannya ******* - ***** ujung roknya untuk menutupi rasa sedihnya, dengan sekuat tenaga Lydia berusaha untuk tidak menangis di hadapan Louis yang saat ini sedang menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


"Namun, di saat aku begitu menyesal dengan perbuatan ku, aku mendapatkan kabar dari Indonesia bahwa kedua orang tua ku meninggal karena kecelakaan, rasa sesal rasa sedih begitu kuat menyapa relung jiwa ku Louis."


"Aku yang anak tunggal tidak bisa meninggalkan perusahaan begitu saja harus langsung kembali ke Indonesia, aku yang dulunya bercita - cita menjadi seorang dokter harus terhenti dengan seketika ketika ke dua orang tua ku meninggal."


"Jadi kau tidak melanjutkan kuliah mu?"


Lydia kini hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika mendengarkan pertanyaan Louis untuk yang kesekian kalinya


"Tidak Louis, aku langsung kembali ke Indonesia dengan setumpuk pekerjaan di perusahaan ke dua orang tua ku yang sama sekali tidak aku mengerti."


"Rasa kehilangan yang belum sembuh ditambah dengan beban berat pekerjaan di pundak ku, rasanya saat itu sangatlah berat."


"Dan di saat itulah aku hanya bisa pasrah dengan hubungan ini."


"Jadi kau meninggalkan Frans dan pulang ke Indonesia?"


Lydia hanya bisa menatap Louis dan sekali lagi harus menggelengkan kepalanya.


"Bukan aku yang meninggalkan Frans, tapi Frans yang meninggalkan aku."


"Saat itu aku melihat Frans menghubungi wanita lain dan di saat itulah aku sadar, semua yang aku lakukan salah."


"Saat ini aku sedang belajar untuk menerima segala konsekwensinya, saat ini pada akhirnya aku memutuskan untuk tetap sendiri dan merawat nenek yang dinyatakan positif terkena kangker otak stadium lanjut."


Louis cukup terpana melihat semua pengakuan satu gadis yang saat ini berada di sampingnya.


Ingin sekali Louis memeluk pundak wanita itu, namun tangan Louis seakan - akan tidak sampai untuk menyentuhnya, tangan Louis terasa berat ketika akan membawa gadis tersebut ke dalam pelukannya.


"Bapak Louis?"


Deg


Suara dari orang perawat membuat Louis langsung sadar dari lamunannya.


"Ya saya suster, ada apa?"


"Anda keluarga dari pasien bernama Diandra?"


"Ya betul suster, bagaimana apakah operasi nya sudah selesai?"


"Sudah, saat ini pasien sudah di pindahkan ke ruang perawatan pak."

__ADS_1


"Ah baiklah jika seperti itu, terima kasih sister."


"Lydia maafkan aku, sepertinya kita harus menyudahi percakapan kita, karena aku harus pergi."


Lydia menatap Louis, bibirnya ingin sekali mengatakan bahwa jangan tinggalkan aku saat ini, namun ucapan itu nampaknya begitu berat untuk di ucapkan oleh Lydia.


"Pergilah Louis."


Beberapa kata tersebut yang pada akhirnya keluar dari mulut Lydia, sungguh kata - kata yang sangat berbanding terbalik dengan hatinya saat ini.


Tuhan apakah sudah betul - betul hilang untuk kesempatan ku bersama dengan laki - laki ini? apakah tidak bisa Engkau memutar waktu dan aku kembali kepada waktu itu.


Lydia hanya bisa mengatakan hal itu di dalam hatinya dengan menatap punggung Louis yang semakin menjauh, rasa cinta yang tidak dapat untuk dipaksakan membuat Lydia tidak dapat berkata apa - apa, membuat Lydia tidak dapat menahan kepergian Louis untuk saat ini.


Rasa kehilangan yang muncul ketika seseorang sudah tidak bersama dengan kita terkadang menimbulkan kenangan yang tidak dapat untuk dilupakan.


Hanya air mata yang kini ada di balik ke dua mata Lydia, pertahanan Lydia untuk mempertahankan agar tidak menangis pada akhirnya harus terpatahkan.


Di tengah taman saat dirinya duduk sendiri, dengan air mata yang sangat deras mengalir dengan hancur hati pada akhirnya Lydia harus menerima kenyataan bahwa waktu tidak akan pernah untuk dapat di putar ulang kembali.


"Bagaimana dokter keadaan Diandra?"


Louis yang kini sudah sampai di depan ruang rawat Diandra langsung menanyakan hal tersebut kepada tim medis.


"Dokter Louis tidak perlu khawatir, saat ini mbak Diandra masih belum hilang dari pengaruh obat bius, dan operasi nya tidak ada masalah."


"Syukurlah jika seperti itu, baiklah terima kasih dokter."


"Sama - sama dokter Louis."


Setelah selesai mengatakan hal tersebut Louis langsung masuk ke dalam ruangan dan melihat Diandra masih memejamkan ke dua matanya.


Dengan tenang Louis maju mendekatkan diri ke arah Diandra.


Louis menatap erat satu gadis yang saat ini berada di hadapannya.


"Hei gadis ndeso, bagaimana caranya kau membuat aku bertindak sampai sejauh ini, aku rela membayari pengobatan ibu mu, aku yang tiba - tiba saja menaruh satu kepercayaan besar kepada mu dengan menjadikan mu sebagai asisten ku."


"Lalu kau sakit dan sekarang aku mau untuk membiayai operasi mu."


"Astaga Louis baru kali ini kau mau mengeluarkan banyak untuk untuk wanita yang bukan siapa - siapa mu sampai banyak seperti ini."

__ADS_1


Louis saat ini tiba - tiba saja menertawakan dirinya sendiri ketika dengan sadar pada akhirnya dia mau mengeluarkan banyak uang untuk Diandra yang bukan orang spesial di hati Louis.


__ADS_2