
Louis mengatakan hal itu dengan menyandarkan kepalanya di kursi serta memejamkan ke dua matanya.
Saat ini bayang - bayang masa lalu kembali teringat di dalam benaknya, Negara Swiss menjadi awal kisah cinta Lydia dan Louis namun di Negara tersebut juga hubungan mereka pada akhirnya harus kandas, rasa yang masih tertinggal di dalam diri Louis saat ini sedang berusaha untuk di lepaskan.
"Mas Reino yang datang?"
Siang ini di rumah sakit Diandra kembali hanya mendapatkan Reino saja yang menjemputnya.
"Ya mbak Diandra, hari ini mbak Diandra sudah boleh keluar dari rumah sakit dan saya yang akan mengantarkan mbak Diandra untuk pulang."
"Ah seperti itu, baiklah mas Reino ayo."
Dengan cepat Reino membantu Diandra untuk turun dari tempat tidurnya dengan cepat pula Reino membantu Diandra untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Mas Ren, beberapa hari ini aku tidak melihat mas Louis, apakah mas Louis saat ini sedang begitu sibuk?"
Di dalam mobil, Diandra kembali mengatakan hal tersebut kepada Reino yang saat ini sedang berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.
"Ya mbak Diandra mas Louis hari ini sangat sibuk, jadi tidak bisa untuk ikut menjemput mbak Diandra."
"Ah seperti itu, baiklah mas Reino, terima kasih untuk informasinya yah."
"Sama - sama mbak Diandra."
__ADS_1
Untuk pertama kalinya Reino harus berbohong tentang keadaan Louis yang sebenarnya terhadap Diandra.
Saat ini Diandra masih belum menyadari bahwa Louis sedang menghindari nya.
Buku harian yang telah di baca Louis sampai habis membuat Louis harus melakukan langkah tersebut kepada Diandra.
"Terima kasih mas Reino."
"Sama - sama mbak Diandra, jika nanti membutuhkan sesuatu mbak Diandra bisa menghubungi saya, sekarang saya harus kembali lagi ke kantor."
"Ya mas Ren."
Diandra yang telah di antarkan oleh Reino sampai teras rumah kini dengan perlahan masuk ke dalam rumah besar itu lagi.
"Selamat datang mbak Diandra."
Diandra yang tiba - tiba mendapatkan sambutan dari orang asing di ruang Louis kini menjadi sangat terkejut.
"Perkenalkan nama saya bi Inah, saya dikirimkan ndoro putri dari Yogyakarta untuk membantu bersih - bersih di rumah mas Louis."
Diandra kini melihat satu wanita paruh baya dengan logat Jawa tengah nya yang khas.
"Ah terima kasih bi Inah, perkenalkan nama ku Diandra, aku juga bekerja di rumah ini sama seperti bi Inah."
__ADS_1
"Ya mbak Diandra, ndoro putri Sekar sudah menceritakan banyak hal tentang mbak Diandra kepada bibi."
"Oh seperti itu?"
"Ya mbak Diandra, ayo mbak bibi bantu menaruh barang-barang nya ke kamar, bibi juga sudah diberitahukan mas Louis kalau mbak Diandra baru saja keluar dari rumah sakit dan hal ini tidak boleh ada yang tau bukan?"
"Iya bi, aku tidak mau kalau sampai kakek Surjono tau keadaan ku."
"Sama bibi pasti beres mbak Diandra."
"Terima kasih bi Inah."
Diandra tersenyum hangat kepada bi Inah, setidaknya kini Diandra tidak merasakan kesepian karena Louis yang akhir - akhir ini jarang pulang ke rumah.
"Mbak Diandra mau di masakin apa mbak?"
"Apa saja bi."
"Baiklah, soalnya mas Louis pesan untuk menjaga mbak Diandra juga."
"Mas Louis yang mengatakan hal itu kepada bibi?"
Dengan cepat bi Inah langsung menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Iya mbak Diandra."