NONA DIANDRA

NONA DIANDRA
CERITA PILU LYDIA


__ADS_3

Seketika itu juga air mata Louis mengalir dengan sangat deras ketika setiap kata - kata tersebut sudah keluar dari dalam mulutnya.


Ada rasa rindu yang sudah lama hilang kini perlahan mulai masuk ke dalam relung hatinya yang paling terdalam.


Di tengah keheningan malam, ada satu laki - laki yang saat ini sedang menangis dengan begitu hebatnya.


"Bagaimana apakah kau sudah siap?"


Pagi ini Louis menanyakan hal tersebut kepada Diandra di sela - sela makan pagi mereka.


"Iya mas Diandra sudah siap, mas."


"Hemm."


"Boleh Diandra meminta satu permohonan kepada mas Louis?"


"Katakan saja langsung ada apa?"


"Mas jangan bilang sama kakek yah jika pagi ini aku operasi."


"Kenapa?"


"Aku tidak ingin membuat kakek Surjono khawatir mas, kakek sudah tua biarkan beliau menikmati masa tuanya dengan baik."


Louis menatapa wajah Diandra yang seakan - akan kini memohon dengan sangat agar permintaan ini dapat di kabulkan dengan baik.


"Baiklah, aku akan mengabulkan permohonan mu ini."


"Terima kasih mas Louis."


"Ayo berangkat."


"Ya mas Louis."


"Baju dan semua keperluan mu nanti di rumah sakit apakah sudah kau siapkan?"


"Ya mas ini sudah Diandra bawa."


Louis melihat kantong plastik yang kini berada di tangan Diandra, sungguh miris hatinya ketika melihat tas yang dipakai oleh Diandra adalah tas plastik yang biasa dipakai untuk membuang sampah.


"Kenapa kau memakai tas ini untuk isi pakaian mu? apakah kau tidak ada tas yang lainnya lagi?"


Dengan polos Diandra langsung menggelengkan kepalanya di hadapan Louis.


"Tidak ada mas, Diandra hanya punya satu koper dan itupun sudah agak rusak."


Dengan menarik nafas panjang pada akhirnya Louis melirik Reino yang saat ini sudah berada di hadapannya.


"Kau tau kan Ren apa yang karus kau lakukan?"


"Ya mas Louis, mari mas, mbak."


Reino yang pagi ini sudah menerima perintah dari Louis segera memesan satu tas menggunakan aplikasi online dan setelah itu masuk ke dalam mobil.


"Kita berangkat ya mas Louis, untuk tas nanti akan dikirimkan oleh kurir ke rumah sakit."


"Ya berangkat saja sekarang Ren."

__ADS_1


Mobil pun melaju dengan pelan keluar dari dalam kediaman Louis, untuk menuju ke rumah sakit tempat dimana Diandra akan melakukan pengobatan.


"Mas Louis."


"Hmmm."


"Boleh Diandra menanyakan satu hal lagi?"


"Langsung saja, tidak dengan cara seperti itu."


"Baiklah, mas pagi ini aku tidak melihat mbak Vivian?"


Deg


Louis kini baru teringat bahwa dirinya belum memberitahukan Diandra jika semalam Vivian telah di usirnya keluar dari dalam rumah.


"Vivian sudah pulang kembali ke Yogyakarta."


"Cepat sekali ya mas mbak Vivian sudah pulang."


"Issst ,kau itu banyak mengurusi orang saja, mending sekarang kau urusin penyakit mu itu dulu ya."


Tatapan tajam Louis yang kini mengarah ke Diandra sambil mengatakan hal tersebut membuat Diandra langsung terdiam.


"Mas ini berhenti di unit gawat darurat atau bagaimana mas?"


Sesampainya di rumah sakit Reino langsung meminta petunjuk kepada Louis untuk memarkirkan mobilnya.


"Ke unit gawat darurat saja langsung Ren."


"Baik mas."


"Mas apakah aku perlu memakai kursi roda untuk masuk ke dalam sana?"


Diandra yang masih berada di dalam mobil kembali memastikan kepada Louis apakah dia perlu memakai kursi roda atau tidak.


"Ya, pakai saja ikuti apa yang dokter dan katakan."


Diandra kini hanya bisa menganggukkan kepalanya dan seketika itu juga tangan nya langsung menggenggam erat lengan Louis.


"Hei ada apa lagi ini?"


"Mas Diandra takut, bisakah mas Louis berdoa untuk Diandra?"


Deg


Kata - kata Diandra kini mampu membuat Louis langsung diam seperti patung, bagaimana tidak sudah sangat lama dia tidak berdoa untuk dirinya sendiri, namun kini di hadapannya ada seorang gadis yang sedang ketakutan dan minta di doakan oleh nya.


"Apakah kau tidak bisa untuk berdoa sendiri saja?"


Dengan cepat Diandra langsung menggelengkan kepalanya.


"Diandra takut mas, Diandra takut, ini pertama kalinya Diandra masuk ke ruang operasi."


Sungguh hati Louis sangat iba dengan wajah ketakutan Diandra, dan dengan berat hati pada akhirnya Louis mengabulkan permintaan Diandra, di dalam mobil Louis mendoakan Diandra yang akan melakukan tindakan operasi.


"Sudah lebih tenang sekarang?"

__ADS_1


Dengan cepat Diandra langsung menganggukkan kepalanya saat Louis menanyakan hal tersebut.


"Sekarang turunlah, ikut masuk ke dalam bersama dengan tim medis, karena aku akan ke bagian administrasi."


"Ya mas Louis."


Setelah mengatakan hal tersebut Louis dan Diandra turun dari dalam mobil, Diandra langsung menggunakan kursi roda untuk melakukan persiapan selanjutnya, sementara itu Louis langsung menuju ke bagian administrasi untuk melunasi biaya Diandra.


"Ren, kau tinggalkan saja aku disini, katakan kepada staff kantor aku datang terlambat."


"Baik mas Louis."


Reino yang mengerti bahwa atasannya ingin menunggu operasi Diandra langsung meninggalkan Louis di rumah sakit.


Kini Louis berjalan - jalan ke arah taman sambil menunggu ruang operasi dipersiapkan.


Saat ini Diandra sedang menjalani puasa untuk persiapan operasi nya.


Dengan langkah cepat Louis berjalan ke arah taman dan duduk di sana memandangi banyaknya orang - orang lansia yang sedang berjalan-jalan disana.


Tiba - tiba matanya tertuju pada satu sosok wanita yang sudah lama dia kenal, wanita tersebut sedang mendorong seorang nenek di atas kursi roda.


"Lydia? untuk apa dia disini?"


Dan tepat di saat yang sama Lydia melihat Louis yang sedang duduk di bangku taman, dengan cepat Lydia langsung melambaikan tangan kepada Louis.


"Sepertinya aku salah berada di taman ini."


Ingin sekali Louis untuk bisa menghilangkan diri di saat itu juga, namun sepertinya semua sudah terlambat, karena kini Lidya datang menghampiri nya.


"Halo Louis, boleh aku duduk di samping mu?"


Lydia yang melihat bangku kosong di samping Louis kosong segera meminta Louis untuk mengizinkan dirinya duduk di sana.


"Duduklah Lydia."


"Terima kasih Louis."


Seperti biasa senyum manis Lydia pasti selalu bisa membuat hati Louis terenyuh.


"Sedang apa aku disini Louis? apakah ada orang terdekat mu yang sedang sakit?"


Lydia mengatakan hal tersebut sambil menatap ke arah Louis.


"Bukan keluarga ku, namun asisten ku yang hari ini akan menjalani operasi."


"Ah seperti itu."


"Lalu untuk apa juga kau berada disini Lydia?"


Lydia langsung terdiam ketika mendapatkan pertanyaan dari Louis.


"Aku sedang menunggu nenek ku, sudah satu bulan ini beliau harus menjalani pengobatan kangker."


"Kangker?"


Dengan cepat Lydia langsung menganggukkan kepalanya saat Louis mengatakan hal tersebut kepadanya.

__ADS_1


"Ya Louis, dan hanya aku cucunya yang masih ada, ke dua orang tua ku sudah meninggal akibat kecelakaan satu tahun yang lalu."


__ADS_2