
Satu Minggu telah berlalu, sejak kematian Amanda yang membuat Diandra mengetahui segalanya, kini dengan perlahan Diandra mencoba untuk menerima kematian dari sang ibunda.
Namun luka hati yang Diandra simpan kini bersiap untuk semakin besar, luka yang timbul dari cerita masa lalu ke dua orang tuanya.
Rasa rindu akan kehadiran seorang ayah yang semakin besar dan rasa kecewa kepada Tuhan karena Diandra merasakan Tuhan yang tidak adil di dalam perjalanan kehidupannya.
Pagi ini dengan motor kesayangannya Diandra menuju ke pusat kota Jogyakarta untuk bertemu dengan Louis.
Secara mengejutkan enam hari setelah kematian dari ibunda Diandra, Louis tiba - tiba saja menghubungi Diandra dan meminta bertemu dengannya di sebuah cafe yang berada di pusat kota Jogjakarta.
"Jadi apa yang akan dokter Louis bicarakan siang ini?"
Tanpa basi - basi begitu Diandra masuk ke dalam cafe, Diandra yang sudah melihat Louis duduk di sudut ruangan segera menghampiri dan langsung menanyakan untuk apa dirinya harus bertemu dengan Louis di tempat seperti ini.
"Duduklah ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan kepada mu."
Dengan santai Louis meminta Diandra untuk duduk di kursi yang berada di hadapannya.
"Ya dokter, ada apa?"
"Ini."
Louis langsung mengeluarkan satu berkas dan meletakkan nya di atas meja.
"Apa ini dokter Louis?"
"Kau buka, dan kau baca, jangan bertanya terlebih dahulu sebelum melakukan hal itu."
Diandra yang sebenarnya malas untuk membaca isi berkas tersebut membukanya dengan enggan.
Dengan cepat Diandra membaca kata demi kata yang tertuang di dalam kertas tersebut.
"Perjanjian ke dua?"
__ADS_1
Diandra yang seolah - olah tidak paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Louis Kembali bertanya dengan tatapan mata uang tajam.
"Ya perjanjian ke dua antara kau dan aku."
"Tapi dokter Louis, ibu ku sudah meninggal dan aku juga sudah melakukan perjanjian awal kita, lalu ini apa lagi."
Setelah mengatakan hal tersebut Diandra langsung meletakkan berkas itu kembali di atas meja.
"Kau lupa jika biaya ibu mu besar sekali? perjanjian pertama yang aku berikan kepada mu tidak bisa menghapus hutang - hutang mu begitu saja, lihat saja ini tagihan rumah sakit yang baru saja aku lunasi hari ini."
"Meskipun Mr. Richard adalah papa ku, tapi karena dari awal ini sudah menjadi tanggung jawab ku, maka aku tetap membayarkan semua sisa biaya ibu mu itu."
Diandra terdiam dengan semua perkataan dari Louis, dengan perlahan ke dua matanya mulai melirik nominal angka yang tidak sedikit pada tagihan rumah sakit yang baru saja di lunasi oleh Louis.
"Jadi secara tidak langsung dokter meminta aku untuk tetap tanda tangan pada perjanjian ke dua bukan?"
"Tepat sekali, besok aku akan meninggalkan Jogyakarta dan akan menetap di Jakarta dalam waktu yang lama, dan kau harus ikut dengan ku, karena kau adalah pembantu pribadi ku!"
Dengan tersenyum penuh arti Louis mengatakan hal tersebut kepada Diandra.
Diandra yang sudah muak melihat wajah Louis langsung mengambil kembali berkas tersebut dan membubuhkan tanda tangan nya, tanpa membaca dengan rinci isi perjanjian ke dua tersebut.
"Ini sudah aku tanda tangani dokter Louis, apa yang anda katakan memang benar, aku tidak akan pernah memiliki kekuatan untuk bisa melawan anda, karena secara tidak sadar hidup ku sudah anda beli, dan anda yang saat ini berhak untuk menentukan nya."
"Tepat sekali, kau bocah yang pintar."
"Aku bukan bocah dokter Louis, aku wanita dewasa!"
"Dan bagi ku kau tetap bocah, sudah sama pergi, besok pagi kau harus datang ke rumah ku karena pasti ibu dan daddy ini bertemu dengan mu, apa kau mengerti!"
"Ya aku mengerti dokter Louis."
Setelah mengatakan hal tersebut Diandra berdiri dari tempat duduknya dan langsung berlari meninggalkan Louis dari cafe tersebut.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan kembali ke rumah, di atas motor air mata Diandra kembali mengalir, mengalir karena kembali mengutuk keadaannya, air mata yang mengalir karena perkataan demi perkataan Louis yang seolah - olah menjadikan dia budak dan tidak ada hak untuk bersuara.
Banyak hal yang saat ini membuat sesak dada Diandra, namun Diandra tidak dapat mengungkapkan hal itu.
Sesampainya di rumah Diandra segera menceritakan pertemuannya dengan Louis dan apa yang di inginkan oleh Louis kepada pak Surjono.
"Wes nduk gapapa, dokter Louis itu baik, keluarga nya juga baik, kakek percaya jika kamu bekerja di Jakarta bersama dengannya."
Di penghujung cerita Diandra hal itu yang pak Surjono katakan.
"Jadi kakek setuju?"
"Ya nduk, biar kamu tambah pengalaman, Jakarta itu kotanya besar, jadi kamu bisa belajar banyak disana, kakek percaya kepada dokter Louis dan keluarga nya."
"Terima kasih kek."
Diandra mengatakan hal tersebut sambil tidak menoleh lagi kepada kakeknya, Diandra masuk ke dalam kamar dan langsung melemparkan dirinya di atas kasur.
Dengan mengigit dan memukul bantal Diandra mencoba untuk melepaskan kekesalannya, pak Surjono tidak pernah mengetahui jika cucu kesayangan nya tersebut sudah terikat lebih dari satu perjanjian dengan Louis, jadi apapun keputusan pak Surjono sebenarnya tidak akan mempengaruhi keberangkatan Diandra ke Jakarta.
Seandainya kakek tau, bahwa secara tidak sadar aku sudah menjual separuh hidup ku untuk dokter itu, seandainya kakek tau bahwa untuk mencukupi biaya ibuk yang besar , aku seperti telah mengadaikan hidup ku kepadanya.
Dengan memukul - mukul bantal dan mengigit nya Diandra mengatakan hal tersebut di dalam hati dan dalam keadaan menangis.
Seharian itu pada akhirnya Diandra memilih untuk berada di dalam kamar, sesekali Diandra keluar hanya untuk makan dan keperluan kecil.
"Tuhan malam ini mungkin terakhir aku tidur di kamar ini, di atas tempat tidur ini, esok hari aku harus berangkat ke kota yang belum pernah aku singgahi, kota yang selalu aku lihat di televisi, kota banyak artis, kota dengan kehidupannya yang berat, Tuhan lindungilah aku, maafkan aku yang masih sedikit marah kepada Mu, namun aku sungguh - sungguh takut Tuhan akan apa yang terjadi selanjutnya."
Malam hari ini sebelum Diandra menutup mata Diandra banyak berdoa dan meminta Tuhan untuk tetap melindungi nya.
Kemarahannya kepada Tuhan, tidak membuat Diandra untuk lupa berdoa.
Dengan sekuat tenaga malam hari ini pada akhirnya Diandra mencoba untuk memejamkan matanya.
__ADS_1
Rasa takut akan apa yang terjadi esok hari membuatnya tidak punya kekuatan untuk membuat ke dua matanya terpejam.
Seorang gadis yang kini sudah menjadi yatim piatu dengan segala ketakutan, dan mimpi - mimpinya yang sudah di tutup nya lama karena keadaan.