NONA DIANDRA

NONA DIANDRA
BEBAN LYDIA


__ADS_3

Tentu saja mbak, mari mbak saya bantu."


Reino dengan cekatan membantu Diandra untuk turun dari tempat tidurnya saat ini.


Dari dalam hatinya yang paling terdalam Diandra sangat berharap saat ini yang melakukan semua hal ini adalah Louis.


Namun pengharapan Diandra seperti nya belum bisa terwujud dengan baik.


Di dalam mobil pada akhirnya Diandra menatap malam bagi Diandra mendadak menjadi sangat sepi.


"Terima kasih mas Reino."


"Sama - sama mbak Diandra, jika mbak butuh sesuatu mbak Diandra tinggal meminta tolong kepada saya."


"Ya mas Reino."


Malam hari ini setelah sampai di rumah, Diandra juga tidak melihat batang hidung Louis, Diandra mencoba mencari ke sekeliling ruangan dan tetap berharap jika pada akhirnya Louis muncul di hadapannya, namun lagi - lagi itu hanya khayalan nya saja.


Dengan perlahan, Diandra melihat Reino yang kini semakin jauh dari pandangan matanya.


"Yang aku butuhkan adalah kehadiran mu mas Louis, Tuhan sepertinya aku mulai ketergantungan dengan mas Louis, Tuhan apakah ini baik - baik saja?"


Dengan menatap langit - langit kamar, dan di atas tempat tidur Diandra mengatakan hal tersebut seorang diri.

__ADS_1


Sungguh saat ini hatinya sangat terkoyak sepertinya Diandra sudah mulai menjadi ketergantungan terhadap Louis.


"Mas, Diandra sayang kepada mas Louis, baru kali ini Diandra bisa merasakan cinta mas, mas Louis adalah cinta pertama untuk Diandra."


Sambil memeluk guling Diandra mengatakan hal tersebut, dengan sekuat tenaga Diandra mencoba untuk memejamkan ke dua matanya, awal yang sangat sulit untuk melakukan nya, namun pada akhirnya dengan sekuat tenaga ke dua mata Diandra pada akhirnya terpejam juga.


Sementara itu Louis yang saat ini masih berada di rumah duka, sama sekali tidak berpikiran untuk kembali pulang ke rumahnya, apalagi ingat dengan Diandra.


"Ini untuk mu Lydia."


Louis yang melihat Diandra murung di ruang tamu langsung memberikan secangkir teh hangat agar hati Lydia lebih baik.


"Apakah lebih baik Lydia?"


Louis yang melihat Lydia mulai meminum teh yang di buatkan kembali bertanya apakah keadaan Lydia sudah jauh lebih baik.


"Its, ok Lidya."


"Aku capek Louis, seharian tamu datang silih berganti dan sama sekali tidak berhenti."


Saat Lydia mengatakan hal tersebut Louis dapat melihat guratan demi guratan rasa lelah yang terlihat dengan jelas dari wajah Lydia.


"Kalau mau istirahat tidurlah disana."

__ADS_1


Louis menunj satu kamar di dalam rumah duka tersebut untuk Lydia bisa beristirahat


"Tidak mungkin aku bisa beristirahat Louis, bagaimana jika nanti ada tamu yang datang?"


Louis langsung tersenyum kepada Lydia ketika mendengarkan apa yang telah di ucapkan Lydia kepadanya.


"Ada aku Lydia, jadi kau bisa beristirahat, jangan khawatir aku tidak akan meninggalkan mu sampai proses kremasi selesai."


Tatapan teduh Louis saat mengatakan hal tersebut sungguh kini membuat Lydia tenang, bagaimanapun Louis pernah menemani dirinya di setiap masa di kala perkuliahan mereka di Swiss.


Keputusan Lydia yang berselingkuh dengan sahabat dekat Louis adakah keputusan bodoh Lydia yang sampai saat ini masih menjadi penyesalan terdalam yang tidak akan pernah Lydia lupakan.


"Aku istirahat dulu ya Louis, sekali lagi terima kasih karena hari ini kau sangat banyak membantu ku."


"Sama - sama Lydia."


Lydia langsung beranjak dari tempat duduknya untuk masuk ke dalam kamar.


Louis memandang punggung Lydia yang pada akhirnya semakin menjauh.


Lydia, kau menanggung banyak beban tapi kau tutup semuanya sendiri.


Louis mengatakan hal tersebut di dalam hatinga dan tiba - tiba sajat terlintas satu wajah gadis yang saat ini sedang berada di rumahnya.

__ADS_1


"Astaga Louis apa yang kau pikirkan sebenarnya? aku sedang membayangkan wajah Lydia, kenapa yang muncul kini wajah Diandra."


Sambil memijit - mijit kepalanya Louis mengatakan hal tersebut.


__ADS_2