NONA DIANDRA

NONA DIANDRA
ASISTEN REINO


__ADS_3

"Hati - hati yah nduk, ibuk percaya Louis pasti akan menjagamu dengan baik, betul kan Louis? di Jakarta nanti kau harus menjaga Diandra, sekarang dia juga menjadi tanggung jawab mu sebagai adik mu juga."


Pagi ini Diandra yang sudah siap pergi ke Jakarta, di jemput oleh supir ibu Sekar untuk mampir terlebih dahulu ke kediaman ibu Sekar.


Diandra dan pak Surjono datang ke rumah ibu Sekar untuk melepaskan kepergian Louis dan Diandra ke Jakarta.


Louis yang sejak tadi sudah muak melihat pertemuan keluarga ini, dirinya yang memilih untuk berada di pojok ruangan terpaksa harus memberikan respon ketika mendengarkan namanya di sebut oleh sang ibunda.


"Ya bu Louis akan menjaga Diandra semampu Louis, namun satu hal yang harus ibuk tau, Diandra ini sudah besar, dia sudah mengerti mana yang baik dan buruk, jadi Louis tidak mungkin mengurung dia di dalam kamar saja kan bu?"


Sindiran Louis membuat ibu Sekar hanya bisa menggelengkan kepalanya, sejak dulu perkataan Louis itu selalu menjadi perkataan yang tajam untuk di dengarkan, namun ibu Sekar yang lembut bisa mengerti akan pribadi anaknya tersebut.


"Tentu saja tidak, kau tidak perlu mengurung Diandra di dalam kamar, namun kasihilah dia sebagai saudara perempuan mu, jadi jaga dia seperti itu, apalagi kau anak tunggal, merupakan suatu anugerah kalian bisa bertemu dan bisa menjadi akrab layaknya seperti saudara."


Louis yang mendengarkan hal tersebut hal bisa tersenyum sinis, batinnya mengatakan bahwa dia tidak sudi untuk memiliki adik seperti Diandra.


Dan Diandra yang mendengarkan perkataan ibu Sekar tersenyum dengan penuh kemenangan.


"Baiklah bu, dad kita harus segera ke bandara karena pesawat akan berangkat."


Louis mengatakan hal tersebut sambil sesekali melihat arlojinya.


"Ya sudah ati - ati yah nduk."


Ibu Sekar sekali lagi berpesan kepada Diandra dan Louis agar hati - hati di dalam perjalanan mereka..


"Terima kasih ibu Sekar, Mr Richard, kakek."


Diandra mengatakan hal tersebut sambil mencium tangan mereka satu per satu dan Louis yang melihat hal itu hanya memandang nya saja, satu kebiasaan yang sudah lama Louis tidak lakukan lagi.


"Kami berangkat dulu."


Dengan cepat Louis mengatakan hal tersebut lalu masuk ke dalam mobil yang membawa mereka ke bandara.


Sepanjang perjalanan sesekali Diandra melihat pemandangan melalui jendela mobil dan tiba - tiba saja Diandra ingat akan sesuatu hal yang harus dia tanyakan kepada Louis.


"Dokter Louis."


"Hemm."

__ADS_1


Louis yang duduk di sebelah Diandra hanya menjawab sekilas karena dirinya kini sibuk untuk memilih gadis yang akan berkencan dengan nya setelah dia tiba di Jakarta melalui aplikasi di dalam ponsel yang saat ini berada di dalam genggaman tangannya.


"Boleh aku bertanya."


"Hemm."


Diandra yang mendengarkan jawaban Louis sejak tadi kini hanya bisa mengernyitkan dahinya.


"Jadi aku belum pernah sama sekali naik pesawat dokter, aku takut jika aku nanti mabuk."


Seketika itu juga Louis langsung menutup aplikasi di dalam ponselnya ketika mendengarkan satu pernyataan Diandra yang cukup mengejutkan bagi nya.


"Kau itu hidup di mana sih? belum pernah makan ini dan itu, sekarang kau bilang kau juga sama sekali belum pernah naik pesawat ha?"


Louis mengatakan hal tersebut sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya itu benar apa adanya dokter, aku belum pernah naik pesawat, naik pesawat kan mahal, uang hasil bekerja ku tidak akan cukup untuk ongkos aku naik pesawat."


"Astaga, jangan bilang bahwa ini pertama kalinya kau pergi ke Jakarta?"


Dengan cepat Diandra langsung menganggukkan kepalanya.


Seketika itu juga Louis langsung tertawa dengan keras.


"Astaga tabah kan hati mu Louis, ternyata kau sedang berhadapan dengan orang udik."


Diandra yang mendengarkan perkataan tajam Louis kini kembali terdiam dan hanya bisa menundukkan wajahnya.


"Iya dokter, Diandra memang udik, Diandra kampungan, Diandra memang miskin, tapi Diandra bangga dengan diri Diandra."


"Bangga? apa yang bisa kau banggakan ha?"


Dengan mengernyitkan dahi Louis langsung kembali bertanya apa maksud dari perkataan Diandra, karena yang Louis lihat tidak ada yang bisa di banggakan dari diri Diandra.


"Ya aku bangga, karena aku bisa hidup mandiri, aku bekerja, dan dari hasil bekerja ku itu aku bisa mencukupi semua kebutuhan ibuk dan kakek, karena dari hasil bekerja ku itu aku bisa membelikan ibuk dan kakek baju setiap awal bulan setelah gajian, ya tidak mahal sih dokter karena belinya di Malioboro yang bagian emperan nya."


Louis kini menatap tajam ke arah Diandra dengan semua perkataan yang telah Diandra ceritakan di dalam mobil.


Seketika itu juga Louis baru ingat bahwa dia jarang sekali membelikan hadiah istimewa untuk ke dua orang tuanya.

__ADS_1


Keadaan keluarga Louis yang kaya membuat mereka sama sekali tidak pernah melakukan hal itu.


"Apakah memberikan hadiah untuk keluarga itu wajib?"


Tiba - tiba terlontar beberapa pertanyaan yang diberikan Louis kepada Diandra.


"Tergantung dari masing - masing keluarga dokter, ada yang sekeluarga suka memberikan hadiah sebagai bentuk rasa sayangnya, tapi ada juga dengan hal yang lain."


"Bagi ku pribadi bukan apa yang kita berikan untuk keluarga, namun sikap dan hati saat melakukan hal itu, jika sikap dan hati kita salah maka apapun yang kita berikan untuk keluarga kita akan tetap salah, dan kita tidak pernah merasa puas di dalam hal memberi."


Deg


Perkataan demi perkataan Diandra cukup membekas di hati Louis, perkataan Diandra tersebut masuk ke dalam relung hati Louis paling terdalam.


"Tau apa kau soal kasih sayang ha?"


Pada akhirnya untuk menutupi gengsi, untuk menutupi ego hal tersebut yang Louis katakan terhadap Diandra.


"Ayo turun kita sudah sampai."


"Dokter mau mengajarkan aku untuk naik pesawat kan?"


"Astaga kau kira aku pilot atau pramugari nya ha? nanti kau juga tau sendiri, ikuti aku saja di belakang."


"Baik dokter Louis."


Dengan patuh pada akhirnya Diandra mengikuti Louis dari belakang sampai pesawat lepas landas menuju satu tempat baru untuk Diandra.


"Selamat datang mas Louis."


Satu orang laki - laki masih muda dengan pakaian rapi sudah menunggu mereka di bandara Soekarno-Hatta.


"Siang Reino, bagaimana keadaan perusahaan selama aku tidak ada di sana?"


"Semuanya aman mas Louis."


Reino adalah salah satu asisten pribadi Louis yang hari ini di minta untuk menjemputnya di bandara, dan Reino sangat merasa aneh karena sejak tadi ada satu gadis yang terus berdiri belakang Louis.


"Kenapa Ren?"

__ADS_1


"Ah maafkan saya mas Louis, saya hanya sedang memperhatikan sesuatu yang tidak biasa."


__ADS_2