
Malam yang tenang, malam yang melelahkan bagi Diandra, sekaligus malam yang cukup membuatnya kaget ketika melihat Louis yang kembali dengan mabuk berat seperti itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan mu dokter Louis? kenapa kau sampai mabuk seperti itu? apakah ini gaya hidup mu?"
Diandra mencoba untuk menerka - nerka kenapa seolah - olah Louis memiliki kehidupan berbeda yang tidak diketahui oleh siapapun.
Namun rasa kantuk Diandra pada akhirnya tidak bisa membuatnya untuk berpikir kembali, ke dua matanya dengan perlahan terpejam dengan segudang tanda tanya aman perubahan diri Louis ketika tidak dekat dengan kedua orang tuanya.
Pagi ini seperti biasa Diandra bangun lebih pagi dan langsung menuju ke dapur untuk memasak makanan pagi.
Diandra yang sudah lebih dari dulu mengenal kebiasaan makan Louis tanpa butuh waktu lama langsung menyiapkan beberapa potong sandwich dengan jus wortel yang Louis sangat suka.
"Apakah kau mendengarkan apa saja yang aku ucapkan semalam?"
Deg
Diandra begitu kaget karena tiba - tiba saja Louis berdiri di belakangnya ketika Diandra hendak meletakkan semua makanan yang telah di buat di meja makan.
"Apa yang dokter Louis maksudkan?"
Sambil mengatakan hal tersebut Diandra membawa makanan dan meletakkan di meja makan.
"Aku semalam mabuk, lalu aku tidak ingat lagi apa yang terjadi, pagi - pagi aku sudah berada di atas tempat tidur, yang aku ingat terakhir adalah aku memanggil - manggil namamu lalu setelah itu entahlah".
Louis mengatakan hal tersebut dengan duduk dan mencoba untuk mengambil satu potong sandwich yang berada di meja.
Timbul rasa iba di hati Diandra saat dirinya melihat keadaan Louis, dari depan matanya Louis memang laki - laki tampan yang memiliki kekuasaan, namun entah mengapa timbul rasa iba terhadap Louis dari dalam diri Diandra.
"Hei kenapa kau memandang aku sampai seperti itu?"
Seketika itu juga Diandra langsung sadar dan langsung membantu Louis untuk mendekatkan jus wortel nya.
"Tidak penting apakah aku mendengarkan apa saja yang dokter Louis katakan semalam, karena aku juga tidak mengerti dan mengenal nama - nama yang dokter Louis sebutkan saat dokter Louis tidak sadar."
"Nama? aku menyebutkan nama?"
Diandra langsung menganggukkan kepalanya saat Louis kembali bertanya atas apa yang telah dia lakukan semalam.
"Ya dokter, nama satu orang wanita yang dokter Louis sebut berkali - kali."
Seketika itu juga Louis mencengkram lengan Diandra dengan sangat kuat ketika Diandra mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
"Dengar, apapun yang kau dengar semalam, termasuk siapa pun nama wanita yang aku sebutkan aku minta kau tutup mulut, apakah kau mengerti!"
Diandra yang merintih kesakitan akibat cengkraman tangan Louis hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Dan satu lagi, apapun kejadian yang kau lihat di depan mata mu tentang ku nanti, kau juga tidak boleh mengatakan kepada siapapun, termasuk kepada ke dua orang tua ku, apa kau mengerti!"
Tatapan tajam Louis kepada Diandra kini betul - betul sudah membuat Diandra takut.
"Mengerti dokter, boleh tolong lepaskan ini!"
Diandra meminta Louis untuk melepaskan cengkraman tangannya yang kini membuat lengan Diandra langsung memerah.
"Pergilah, aku sedang tidak ingin melihat mu pagi ini di depan ku aku sarapan, satu jam lagi kau harus siap, karena ku harus ikut aku pergi."
Diandra yang sebenarnya ingin bertanya kemana Louis akan membawa nya pergi langsung mengurungkan niatnya ketika melihat melihat tatapan tajam Louis yang belum beranjak dari dirinya.
Dengan cepat Diandra langsung pergi dari hadapan Louis, Diandra masuk ke dalam kamar dan langsung bersiap - siap, seperti apa yang telah di perintahkan Louis kepadanya.
"Selamat pagi mas Louis, bagaimana mas apakah kita berangkat sekarang?"
Louis yang pada akhirnya telah selesai sarapan dan langsung bersiap - siap kini sudah kembali di halaman depan dengan di temani oleh Reino asisten pribadinya.
"Ya mas Louis."
Tak beberapa lama terlihat Diandra berlari keluar dari dalam rumah menuju ke halaman depan.
"Lama sekali kau bersiap - siap, kau tidur lagi?"
Diandra yang masih mengatur nafasnya langsung terpesona melihat Louis yang pagi ini sudah rapi dengan kemeja, dasi dan juga jas hitamnya.
"Hei, aku sedang bertanya dengan mu, bukan dengan setan!"
"Maafkan aku dokter, sungguh tadi aku sakit perut jadi aku..."
Belum sempat Diandra menyelesaikan kata - katanya Louis sudah masuk ke dalam mobil dan tidak menoleh lagi kepada Diandra.
"Ayo masuk!"
Diandra yang mendapatkan perintah tersebut langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Louis.
"Jalan Ren."
__ADS_1
"Baik mas Louis."
"Dokter kita akan kemana?"
"Ke perusahaan ku!"
Satu kata - kata singkat yang mampu membuat Diandra terdiam, kini Diandra semakin sadar bahwa laki - laki yang saat ini berada di sampingnya bukanlah laki - laki sembarangan.
"Ada satu hal lagi yang akan aku pesankan kepadamu."
Louis mengatakan hal itu tanpa menoleh ke arah Diandra.
"Ketika di perusahaan ku nanti aku bukanlah seorang dokter, namun aku adalah direktur utama, jadi hilangkan panggilan mu yang selalu menyebutku dengan dokter Louis, apakah kau mengerti?"
"Iya dokter!"
"Aku bukan dokter mulai sekarang, apakah kau mengerti!"
"Baik mas Louis."
"Ya itu lebih baik daripada kau sebut - sebut aku dengan sebutan dokter Louis padahal kita sedang tidak di dalam rumah sakit."
Setelah mengatakan hal tersebut Louis kembali terdiam, sedangkan Diandra menetap kaca jendela mobilnya.
Kemacetan di Jakarta yang pagi ini sudah tampak terlihat membuat mobil berhenti untuk beberapa lama.
Di dalam mobil Diandra kembali melihat satu laki - laki paruh baya sedang menenangkan putrinya kecilnya yang sedang menangis.
Perasaan Diandra kembali hangat ketika melihat hal - hal kecil tersebut, rasa ingin di peluk oleh seorang ayah membuat Diandra hati Diandra selalu tersentuh ketika melihat hal - hal itu.
Tuhan, aku ingin dipeluk seperti itu oleh ayah, Tuhan kenapa aku tidak bisa merasakan hal itu? Tuhan bagaimana cara agar aku bisa merasakan kasih sayang seorang ayah? Tuhan bagaimana rasanya punya ayah?
Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling terdalam Diandra kembali mengatakan hal tersebut.
Saat itu juga Diandra langsung menoleh ke samping dan melihat Louis memejamkan mata menggunakan waktunya untuk beristirahat di tengah kemacetan kota Jakarta.
Dan aku sekarang malah terdampar bersama - sama dengan laki - laki ini, sampai kapan aku akan disini Tuhan? dan apa yang akan terjadi di depan sana?.
Setelah selesai mengatakan hal tersebut Diandra kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela dan kembali melihat ke arah laki - laki paruh baya yang kini sudah berhasil memenangkan putri kecilnya.
Sesekali Diandra tersenyum dan membayangkan jika putri kecil tersebut adalah dirinya.
__ADS_1