NONA DIANDRA

NONA DIANDRA
LOUIS DAN DIANDRA BERTEMU


__ADS_3

"Kakek Ibu kenapa?"


Pagi itu Diandra yang diberitahukan kesehatan ibunya memburuk langsung kembali ke rumah dan mendapatkan ibunya sudah tidak sadar.


"Kakek tidak tau nduk, ibumu tiba - tiba sudah pingsan seperti ini."


"Sudah telepon ambulans kek?"


"Sudah nduk, kakek sudah menghubungi rumah sakit."


"Syukurlah."


"Nah nduk itu ambulans nya sudah datang."


Kakek yang mendengarkan satu mobil berhenti segera melihat ke jendela dan benar ambulans tersebut sudah datang.


Dengan segera ibu Diandra di larikan ke rumah sakit pada pagi hari ini.


"Buk, cepet sadar ya buk, Diandra takut terjadi sesuatu pada ibuk."


Di dalam mobil ambulans Diandra terus mengatakan hal tersebut sambil menangis, sungguh Diandra tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu hal terhadap ibu nya.


Selama ini Diandra mati - matian bekerja hanya untuk sang ibu yang saat ini menderita penyakit jantung.


"Sabar ya nduk, kita serahkan pada Tuhan."


"Iya kek."


Kakek mengatakan hal tersebut sambil mencoba untuk menenangkan Diandra yang sejak tadi gemetar sambil menangis.


Ambulans yang kini terus melaju dengan kencang mengarah kepada salah satu rumah sakit terbesar di kota Jogjakarta membuat Diandra dan kakek yang berada di dalam mobil tersebut pada akhirnya hanya bisa terdiam.


Sementara itu di rumah sakit.


"Selamat datang dokter Louis."


"Om Aditya, astaga om masih saja awet muda."


Louis yang kini masuk ke dalam ruang praktek nya yang baru langsung di sambut hangat oleh dokter Aditya.


"Hahaha, wes kamu itu bisa saja toh, bagaimana apakah ruangan praktek ini sudah cukup nyaman untuk mu?"


Dokter Aditya adalah direktur di rumah sakit milih orang tua Louis yaitu Mr. Richard, dokter Aditya yang memutih rambut nya sama sekali tidak mengurangi ketampanan nya yang masih tetap ada.


"Sudah om, ini sudah lebih dari cukup."


Louis yang memandang sekeliling ruang praktek nya kini tersenyum dengan penuh kehangatan.


"Ini jadwal praktek mu Louis."


Dokter Aditya memberikan satu kertas kepada Louis dan Louis segera membaca isi kertas tersebut.

__ADS_1


"Hari ini aku praktek setelah jam makan siang?"


"Tepat sekali Louis, setelah makan siang baru kau yang akan menggantikan dokter Wahyu."


"Masih ada waktu, apakah om Aditya bisa mengantarkan aku untuk berkeliling rumah sakit besar ini?"


Louis mengatakan hal tersebut sambil melirik arloji kesayangannya.


"Tentu saja, ayo Louis."


"Terima kasih om Aditya."


Setelah mengatakan hal tersebut dua laki - laki tampan yang berbeda usia keluar dari dalam ruang praktek baru milik Louis.


Perbincangan dua laki - laki dewasa tersebut menjadi perbincangan selama mereka di dalam perjalanan berkeliling rumah sakit milik Mr. Richard tersebut.


Sementara itu mobil ambulans yang di dalamnya berisi keluarga Diandra kini sudah masuk ke dalam halaman rumah sakit, dengan segera mobil ambulance tersebut langsung mengarahkan diri ke unit gawat darurat agar ibu Diandra segera mendapatkan pertolongan pertama.


"Maaf untuk keluarga ibu Amanda harap tunggu di sana."


Satu perawat langsung mengatakan hal tersebut ketika Amanda sangat ingin masuk ke dalam ruang Unit Gawat Darurat tersebut.


"Wes nduk manut dokter yah."


Kakek yang sepertinya melihat bahwa Diandra hendak bersiap melawan perawat langsung mengatakan hal tersebut.


Diandra yang pada awalnya ingin beradu mulut dengan perawat tersebut pada akhirnya kembali duduk di ruang tunggu bersama dengan kakeknya, tak cukup beberapa menit mereka menunggu, namun hampir satu jam Diandra belum mendapatkan kepastian dari hasil pertolongan pertama di ruangan Unit Gawat Darurat tersebut.


Satu perawat pada akhirnya mengatakan nama tersebut dari depan kamar Unit Gawat Darurat.


"Ya kami keluarga ibu Amanda, suster bagaimana keadaan ibu?"


Diandra langsung mengatakan hal tersebut karena sudah tidak sabar untuk mengetahui keadaan sang ibunda nya.


"Apakah anda putri dari ibu Amanda bernama mbak Diandra ?"


Diandra langsung menganggukkan kepalanya ketika melihat satu dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Mbak Diandra ibu mbak Diandra harus secepatnya dilakukan tindakan operasi jantung."


Deg


Perkataan dari sang dokter kini membuat lutut Diandra langsung melemah.


"Operasi dokter? memang apa yang telah terjadi dengan ibu saya dokter?"


"Operasi bypass jantung dilakukan untuk mengatasi penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah hal ini untuk mencegah serangan jantung mbak Diandra."


"Berapa kisaran biaya operasi tersebut dokter?"


"Sekitar seratus juta rupiah mbak Diandra."

__ADS_1


Seketika itu juga Diandra mundur beberapa langkah.


Seratus juta? darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu?.


Hanya hal tersebut yang pada akhirnya keluar dari dalam hati Diandra.


"Nduk, kamu baik - baik saja?"


Kakek yang melihat keadaan wajah Diandra yang tiba - tiba pucat langsung saja bertanya.


"Tidak apa - apa kek."


"Dokter apakah tidak ada keringanan untuk kami, apakah operasi itu tidak bisa dibayar dengan cicilan? dokter saya berjanji akan mencicilnya dengan rutin, jika perlu sampai tua, atau seumur hidup saya."


Air mata yang pada awalnya mencoba di tahan oleh Diandra, kini langsung mengalir dengan sendirinya.


"Maafkan kami mbak Diandra, namun kami tidak bisa membantu mbak Diandra, rumah sakit ini memiliki aturan."


"Jadi dokter akan membiarkan saja pasien terus memburuk tanpa melakukan tindakan apapun?"


Entah mendapatkan kekuatan darimana, tiba - tiba saja Diandra mengatakan hal tersebut sambil berteriak-teriak di depan dokter.


"Ada apa ini dokter Wahyu?"


Deg


Dokter Wahyu segera menoleh untuk mencari tahu asal suara tersebut.


"Dokter Aditya, dokter Louis, ada satu pasien yang harus segera dilakukan tindakan, namun belum ada deposit untuk hal itu."


Dokter Aditya yang langsung mengerti akar permasalahannya hanya bisa mengangguk - anggukan kepalanya saja.


"Ada apa om Aditya?"


"Ah Louis pasien perlu tindakan tapi biaya belum bisa di cukupi."


Seketika itu juga Louis langsung memandang satu gadis yang saat ini berdiri di hadapan mereka dengan menundukkan wajah sambil menangis.


Cukup lama Louis memandang perawakan gadis tersebut, karena Louis merasa tidak asing dengan gadis yang saat ini berada di hadapannya.


Dan seketika itu juga Louis mengingat siapa sebenarnya gadis yang saat ini berada di hadapannya sambil menangis.


"Om Aditya, bagaimana prosedurnya jika seperti ini?"


"Mr.Richard memang biasa memberikan keringanan atau memberikan biaya gratis kepada para pasien yang tidak mampu, namun harus melalui rekomendasi para dokter, biasanya satu dokter berhak mengajukan satu sampai dua pasien selama tiga bulan untuk hal ini Louis."


"Baiklah om Aditya, hari ini aku akan mengajukan satu untuk gadis yang saat berada di hadapan ku, aku minta berikan pelayanan terbaik untuk ibunya."


Deg


Diandra yang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Louis langsung memandang tajam ke arah Louis.

__ADS_1


"Ini kartu nama ku, besok datanglah ke alamat ini."


__ADS_2