
Diandra yang masih bingung pada akhirnya hanya memandang ke arah Louis yang memberikan kartu nama tersebut ke dalam tangannya.
"Baiklah, sepertinya urusan ini sudah bisa kita tangani dengan baik, ayo om Aditya aku harus berkeliling lagi."
Dokter Aditya yang cukup tercengang dengan apa yang baru saja di lakukan oleh Louis kini hanya bisa terdiam, karena bagaimanapun Louis adalah putra pemilik dari rumah sakit ini.
"Ayo Louis, dokter Wahyu selanjutnya aku serahkan kepada mu."
Dokter Aditya mengatakan hal tersebut kepada dokter Wahyu sambil menepuk - nepuk pundaknya.
Diandra yang masih menatap ke pergi an Louis kini dengan perlahan mulai mengalihkan pandangannya kepada dokter Wahyu.
"Dokter siapa laki - laki tadi?"
"Dia dokter Louis mbak Diandra."
"Dokter Louis?"
"Ya, dokter Louis adalah dokter yang akan praktek di dalam rumah sakit ini, sekaligus putrar Mr. Richard pemilik dari rumah sakit ini."
Deg
Kaki Diandra langsung gemetar ketika mendengarkan apa yang yah dikatakan oleh dokter Wahyu.
Bagi Diandra wajah dokter Louis seperti wajah yang tidak asing lagi, namun sampai detik ini Diandra masih belum mengingat apakah dia pernah bertemu dengan Louis sebelumnya, pikiran Diandra saat ini hanya tentang kesembuhan ibunya saja.
"Dokter Wahyu, lalu sekarang saya harus melakukan apa?"
"Mbak Diandra tidak perlu melakukan apa - apa lagi karena semua biaya telah di tanggung oleh dokter Louis."
"Baiklah, terima kasih dokter Wahyu."
Setelah mengatakan hal tersebut dokter Wahyu langsung beranjak pergi dari hadapan Diandra.
"Nduk, apa tidak sebaiknya kamu datang kepada dokter Louis dan mengucapkan terima kasih secara pribadi kepadanya?"
Suara kakek langsung menyadarkan Diandra jika saat ini dirinya masih menggenggam kartu nama Louis di dalam tangannya.
"Ya kek, aku pasti akan datang dan mengucapkan terima kasih secara pribadi kepadanya."
Tatapan ke dua mata Diandra lurus memandang ke depan saat Diandra mengucapkan hal tersebut kepada sang kakek.
Hari ini cukup membuat Diandra kelelahan sehingga pada akhirnya Diandra memilih untuk beristirahat sejenak di rumah sakit.
Operasi sang ibunda yang dalam waktu dekat akan segera dilakukan membuat Diandra menyiapkan banyak hal.
__ADS_1
Sementara itu di satu ruangan sore hari ini nampak satu laki - laki paruh baya sedang memandang beberapa foto lama.
"Tidak aku sangka ternyata aku bertemu dengan pak Sujono di dalam rumah sakit ini,dan beliau sudah tidak mengenali aku lagi dan lebih mengejutkan adalah siapa pasien yang dibawa oleh pak Surjono."
"Aku tidak boleh egois, Anindita harus mengetahui kebenaran yang aku temukan ini."
Setelah mengatakan hal tersebut dokter Aditya laki - laki yang masih berwajah tampan di usia senja nya segera mengambil kunci mobil dan langsung pergi meninggalkan ruang praktek tersebut untuk menceritakan apa yang baru saja di temuinya.
Sementara itu menjelang malam Diandra yang pada akhirnya meninggalkan rumah sakit untuk menuju ke alamat yang diberikan oleh Louis mendadak menghentikan motor yang di kendarainya.
Diandra menatap taman kota yang tampak cantik, disana Diandra melihat satu orang gadis kecil dengan wajahnya yang penuh kebahagiaan sedang bercanda dengan ayahnya
Gadis kecil tersebut sesekali memeluk dan mencium pipi sang ayah lalu kembali menyantap makan malam mereka di warung tenda lesehan.
Hati Diandra begitu teduh saat Diandra melihat peristiwa tersebut, Diandra bahkan rela menghentikan langkahnya untuk beberapa saat hanya demi untuk memperhatikan aktivitas gadis kecil tersebut bersama dengan ayahnya.
"Sungguh bahagia sekali adek itu."
Kata - kata tersebut yang pada akhirnya keluar dari bibir Diandra, Diandra mengatakan hal tersebut sambil menghapus air matanya yang tiba - tiba saja mengalir.
"Seandainya aku punya papa, pasti aku juga akan melakukan hal yang sama, Tuhan Diandra kangen papa."
Di pinggir jalan sambil menangis Diandra mengatakan hal tersebut secara perlahan, sungguh hatinya menjadi sangat sedih ketika Diandra mengucapkan satu permohonan doanya kepada Tuhan yaitu Diandra sangat merindukan ayahnya.
Di pinggir jalan, di menit yang sama Diandra langsung mengatakan hal yang sama untuk menguatkan hatinya sendiri.
Cara ini yang terus Diandra lakukan agar dirinya bisa tetap kuat, atau lebih tepatnya berpura - pura untuk kuat.
Dengan kencang Diandra pada akhirnya mengendarai sepeda motornya tersebut menuju ke alamat yang diberikan Louis kepada nya.
"Astaga mewah sekali apartemen ini."
Sungguh hal yang sangat mengejutkan bagi Diandra ketika alamat yang berada di dalam kartu nama tersebut membawa nya ke dalam kompleks apartemen mewah.
"Lantai sepuluh, ya di kartu nama ini dituliskan lantai sepuluh, baiklah aku akan langsung kesana."
Setelah masuk ke dalam lobby Diandra segera meminta satpam untuk mengantarkan dirinya ke lantai sepuluh.
"Ayo masuklah."
Begitu sampai di lantai sepuluh,belum sempat Diandra mengetuk pintu kamar tersebut, tiba - tiba saja pintu kamar itu sudah terbuka dan keluar lah laki - laki tampan sama persis yang Diandra jumpai di rumah sakit tadi.
"Terima kasih dokter Louis."
Kau mau minum apa?"
__ADS_1
Diandra masuk ke dalam apartemen tersebut, Diandra terpesona dengan isi di dalam apartemen sehingga ketika Louis menawarkan minum, Diandra sama sekali tidak mendengarkan pertanyaan nya.
"Hei kau mau minum apa!"
Deg
Suara kencang Louis pada akhirnya membuat Diandra tersadar.
"Memaafkan saya dokter, air putih saja sudah cukup."
"Baiklah tunggu sebentar di ruang tamu, dan satu hal lagi kau tidak boleh bengong di dalam apartemen ku, jika tidak ingin pada akhirnya kerasukan."
Louis mengatakan hal tersebut sambil tersenyum dan pada akhirnya menuju ke arah dapur.
"Jadi apa yang membuat mu datang kemari secepat ini? bukankah semua buaya ibu mu sudah aman."
Louis mengatakan hal tersebut sambil meletakkan satu gelas berisi air mineral dingin di meja yang berada di depan Diandra.
"Anu dokter, Diandra datang kemari ingin mengucapkan terima kasih kepada dokter Louis yang telah membuat gratis semua perawatan ibu."
"Siapa bilang semua yang aku lakukan itu adalah gratis?"
Deg
Diandra sungguh sangat terkejut ketika mendengarkan perkataan dari Louis kepada nya.
"Maksud dokter bagaimana?"
"Louis langsung tersenyum sinis ketika mendengarkan pertanyaan Diandra."
"Pertama kau harus tau bahwa di dalam dunia ini tidak ada yang gratis, apalagi biaya kesehatan penyakit jantung seperti yang ibumu saat ini alami."
"Lalu apa yang dokter Louis mau?"
"Bocah pintar, kau tanya kan apa yang aku mau?"
Dengan cepat Diandra langsung menganggukkan kepalanya.
"Ini, di dalam berkas ini adalah semua hal yang aku mau, yang akan di tukar dengan semua perawatan untuk ibu mu nanti."
Deg
Diandra melihat amplop berwarna cokelat yang kini diletakkan di atas meja.
"Jangan kau pandangi saja amplop itu, tapi kau perlu untuk membacanya!"
__ADS_1