
"Apa hak mu bertanya siapa tamu ku? itu semua bukan urusan mu!"
Perkataan Louis yang tegas langsung menyadarkan Diandra.
"Maafkan Diandra mas Louis."
"Siapkan saja makanan dan minuman untuk nya nanti."
Mobil yang telah sampai di depan kediaman Louis membuat Louis keluar dari dalam mobil begitu selesai mengatakan hal itu kepada Diandra.
"Perintah ini, perintah itu, perintah terus saja mas Louis."
Diandra mengatakan hal tersebut sambil keluar dari dalam mobil dan membanting pintu mobil dengan keras.
"Mbak Diandra mungkin lebih baik agak pelan dalam menutup pintu mobilnya nanti ya."
Deg
Diandra langsung mencari satu suara yang tiba - tiba mengatakan hal itu.
"Mas Ren, aku kira sudah masuk ke dalam bersama mas Louis?"
"Belum mbak Diandra."
"Baiklah mas, aku masuk terlebih dahulu."
"Ya mbak, jangan lupa apa yang telah di pesankan oleh mas Louis nanti dikerjakan ya mbak, karena ini termasuk tamu penting mas Louis."
Diandra yang hendak melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, kembali berpaling kepada Reino.
"Kapan aku tidak mengerjakan perintah mas Louis? dia bisa langsung marah mas Ren jika apa yang telah dikatakan tidak langsung di lakukan."
Dengan tersenyum dan segera masuk ke dalam rumah Diandra mengatakan hal tersebut.
Sore menjelang malam, terlihat satu mobil masuk ke dalam halaman kediaman Louis dan dari dalam mobil tersebut keluar satu wanita cantik nan juga seksi dengan membawa satu koper besar.
"Selamat datang Vivian."
Louis yang telah lama menyambut kedatangan Vivian langsung memeluk Vivian begitu Vivian turun dari dalam mobil.
"Halo Louis, bagaimana kabar mu? nampaknya kau sudah tidak sabar berduaan dengan ku?"
Vivian membalas pelukan Louis dengan mengatakan hal tersebut.
"Ya aku merindukan mu, jika aku tidak merindukan mu maka aku tidak akan mengundang mu kemari Vivian."
"Ya kau benar, jarak Jogyakarta dengan Jakarta bukan jarak yang dekat sayang."
Pelukan mesra segera Vivian berikan kepada Louis sambil mengatakan hal tersebut.
"Anu mas Louis, ini minuman untuk mbaknya yang itu."
Diandra datang di saat yang tepat, rupanya Diandra kembali melihat Louis dan Vivian berpelukan.
"Sayang siapa dia?"
__ADS_1
Vivian langsung memalingkan pandangannya kepada Vivian dengan nada menghina, bagaimana tidak hari ini Vivian datang dengan tubuh seksi dan pakaian modis nya.
Sedangkan Diandra hanya menggunakan piyama dan juga membawa nampan dengan isi minuman untuk tuannya saat ini.
"Ah dia adalah asisten pribadi ku, jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa meminta tolong dengan nya."
Setelah mengatakan hal tersebut Vivian segera mendekat ke arah Diandra, mengambil minuman yang berada di dalam nampan.
"Terima kasih untuk minumannya, tolong angkat semua koperku ke kamar mas Louis."
Deg
Diandra langsung mengernyitkan dahi ketika mendengarkan perintah dari Vivian.
Diandra gadis polos yang tidak terbiasa melihat wanita dan laki - laki satu kamar tidak dalam pernikahan yang sah membuatnya hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Baik mbak Vivian."
Setelah selesai mengatakan hal tersebut Diandra langsung membawa koper Vivian masuk ke dalam kamar Louis.
Astaga koper ini berat sekali, wanita itu membawa apa saja yah?.
Diandra mengatakan hal tersebut sambil menyeret koper tersebut masuk ke dalam kamar Louis.
"Terima kasih kau boleh pergi."
Di dalam kamar, sungguh Diandra sangat terkejut karena Vivian dengan berani melepaskan baju tanpa ada rasa malu ketika Louis melihat nya.
"Hei kau pergi sana, untuk apa masih disini?"
"Ya mas Louis Diandra keluar ya."
Louis kini hanya melambaikan tangan kepada Diandra dan langsung kembali mengunci pintu kamar tersebut.
"Tumben sekali kau memelihara bocah kecil itu Louis?"
Vivian mengatakan hal tersebut sambil mengalungkan ke dua tangannya di leher Louis.
"Ya, karena aku membutuhkan dia untuk menjadi pembantu ku, untuk menyiapkan segala keperluan ku."
Vivian tersenyum mendengarkan penjelasan dari Louis.
"Hati - hati jangan kau terlalu memberikan perhatian pada gadis seperti itu, karena sedikit saja kau memberikan perhatian lebih maka dia bisa jatuh cinta kepada mu."
Mendengarkan perkataan Vivian Louis langsung tertawa.
"Mana mungkin aku jatuh cinta pada bocah seperti dia, sungguh kau ini lucu sekali."
"Di dalam dunia ini tidak ada yang tidak mungkin bukan?"
"Ya kau benar, tapi mungkin itu bisa terjadi jika di bumi ini sudah tidak ada satupun wanita, baru aku bisa jatuh cinta pada bocah seperti itu."
"Hei kenapa kau malah membicarakan dia? kenapa kau tidak memberikan pelayanan terbaik mu seperti waktu itu?"
Dengan nakal Louis kini menatap Vivian dari atas bawah.
__ADS_1
"Tenang saja, aku akan memberikan yang terbaik untuk direktur tampan seperti mu."
Setelah selesai mengatakan semua hal tersebut Vivian langsung melepaskan semua pakaiannya dan menerkam Louis dengan kasar.
Malam itu di dalam kamar kedap suara terdengar desaha demi ******* panjang ke dua insan yang sudah di mabuk oleh hawa nafsu yang tidak terkendalikan.
Sementara itu malam ini Diandra di dalam kamar sedang berlutut dan berdoa.
Di dalam doanya, Diandra sangat merindukan sosok seorang ayah yang tidak pernah dia dapatkan.
"Tuhan, ajarkan aku untuk bisa memberikan maaf kepada keluarga ibuk yang sudah melakukan hal itu, Tuhan ajarkan aku untuk bisa menerima kenyataan dan cerita yang telah di sampaikan oleh keluarga ibuk. Amin."
Di akhir doanya Diandra mengatakan hal itu, karena tidak dapat dipungkiri sampai saat ini rasa sakit di dalam Diandra masih ada, saat Aditya dan Anindita membuka siapa sebenarnya ayah kandungnya di saat semuanya sudah terlambat.
"Tuhan, aku tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya, namun berikan aku kekuatan untuk bisa menghadapi semuanya, saat ini aku hanya memiliki engkau Tuhan, aku sudah tidak punya siapa - siapa lagi kecuali Engkau."
"Tuhan, Diandra lelah Tuhan, Diandra lelah dengan semuanya, berikan Diandra kekuatan yang luar biasa."
Selesai mengatakan semua hal tersebut Diandra langsung memejamkan ke dua matanya.
Tempat tidur yang nyaman, kamar yang luas rupanya tidak mampu mengobati rasa lelah yang saat ini berada di dalam diri Diandra.
Diandra tertidur dengan terlelap di saat kamar disebelahnya masih terdengar suara ******* demi ******* panjang yang belum selesai.
"Selamat pagi mas Louis."
Pagi ini Diandra seperti biasa sudah bangun dan menyiapkan makanan untuk Louis.
Louis yang baru saja bangun langsung menuju meja makan untuk sarapan.
"Bawakan ke dalam kamar saja sarapan pagi untuk Vivian."
Pagi ini itu adalah perintah pertama Louis untuk Diandra.
"Ya mas Louis."
Dengan cekatan pada akhirnya Diandra mulai menyiapkan sarapan dan segera membawa sarapan tersebut ke dalam kamar Vivian.
"Terima kasih."
Deg
Ketika Diandra masuk ke dalam kamar, Diandra bisa melihat tempat tidur Louis yang sangat berantakan, baju Vivian yang bertebaran di segala arah.
Dan Vivian yang menerima makanan dari tangan Diandra hanya dengan berbalut selimut putih saja.
"Hei kenapa? kau tidak pernah melihat suasana seperti ini?"
Vivian yang mengetahui jika sejak tadi Diandra memperhatikan isi kamar mencoba untuk kembali bertanya.
"Maafkan saya mbak Vivian."
"Tidak ada yang perlu untuk dimaafkan, karena ini biasanya dialami oleh gadis ndeso seperti mu yang tidak pernah mengerti akan nikmat nya kehidupan bebas.
Senyum sinis menjadi sapaan hangat yang diterima oleh Diandra pada pagi hari ini.
__ADS_1