
Mer, bisa kita berbicara nanti saja?"
"Ah tentu, sekarang kita pulang dulu yah."
Diandra langsung kembali meraih tangan Merry begitu tau Merry akan mengajaknya untuk kembali pulang.
"Boleh aku pinjam uang mu beberapa? seharian ini aku belum makan."
Merry tersentak dengan pengakuan sahabatnya tersebut.
"Astaga jadi dari pagi sampai malam ini kau belum makan Diandra?"
Dengan cepat Diandra langsung menggelengkan kepalanya.
"Belum Mer, jadi apakah kau bisa meminjamkan uang mu untuk aku makan?"
"Tentu saja Diandra, sebentar aku lihat dulu di dompet ada berapa yah."
Dengan cepat Merry langsung mengeluarkan dompetnya dari dalam tas, menghitung uang yang ada di dalamnya.
"Ini ada tiga ratus ribu, kau bawa saja dulu."
"Tapi Mer ini kebanyakan."
__ADS_1
"Sudah kau bawa saja, sepertinya sekarang kau sangat membutuhkan uang tersebut, jika kau menganggap aku ini sahabat mu kau pasti akan menerimanya dengan baik."
Sungguh rasa haru kini menyelimuti hati Diandra, ucapan syukur langsung dia ucapkan di dalam hati saat Merry sahabat baiknya tanpa segan - segan membantunya seperti ini.
"Terima kasih Mer, aku pasti akan menggantinya dengan cepat."
"Tak usah kau pikirkan Diandra, santai saja, jadi mau makan dimana kita malam hari ini?"
"Gudeg Mer, aku kangen banget dengan gudeg."
"Boleh, ayo kita lihat di sekitar jalan Kaliurang yah Diandra, sini aku bawakan koper mu."
"Tidak perlu Mer ini berat."
"Ini tidak berat Diandra, kau pasti sangat lelah di tambah kau belum makan jadi tenaga mu sudah terkuras habis, jadi aku saja yang bawa dan di larang menolak."
"Terima kasih ya Mer."
"Sama - sama, ayo kau pasti sudah sangat lapar."
Diandra dan Merry pada akhirnya berjalan menuju ke parkiran motor di dalam terminal tersebut.
Malam hari ini pada akhirnya Diandra kembali ke Jogyakarta, kota masa kecilnya yang sangat dia sayang, sepanjang perjalanan tak henti - henti nya Diandra menghirup udara malam Jogyakarta yang saat ini begitu Diandra rindukan.
__ADS_1
"Nah jadi sekarang apakah kau bisa memulai bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan mu? tiba - tiba saja kau menghubungi ku dan meminta ku untuk menjemput mu di terminal, isst sungguh itu sangat mengejutkan Diandra."
Merry mulai kembali bertanya kepada Diandra setelah mereka sampai pada tempat makan gudeg favorit mereka.
"Mer, aku tidak tau apakah aku berlebihan dengan keputusan ku ini."
"berlebihan bagaimana Diandra?"
"Keputusan ku untuk kembali ke Jogyakarta adalah keputusan dadakan yang tidak pernah aku rencanakan sebelumnya."
"Dadakan? jadi kau tidak merencanakan ini semua sebelumnya?"
Dengan cepat Diandra langsung menganggukkan kepalanya.
"Ya Mer semua keputusan ku adalah keputusan instan."
Setelah mengatakan hal tersebut Diandra mulai menceritakan permasalahan nya dengan Louis sehingga dia pada akhirnya mengambil satu keputusan dadakan seperti ini.
"Bukan soal perasaan ku yang kini di ketahui oleh mas Louis saja Mer, tapi rasa malu ku, rasa marah ku terhadap mas Louis yang membaca buku harian tanpa persetujuan dari ku."
Dengan mata memerah Diandra mengatakan hal tersebut kepada Merry.
Merry yang mendengarkan hal tersebut kini hanya bisa terdiam tanpa kata.
__ADS_1
Hai Hai pembaca novel Nona Diandra, terima kasih sudah setia sampai bab ini.
Jangan lupa voter, like yang banyak yah agar author nya semangat. Yuk lanjut bab selanjutnya yah😘