
Diandra boleh bantu mengantarkan kopi ini ke ruangan pak Dimas?"
Sang manager yang kebetulan masuk ke dapur dan bertemu dengan Diandra langsung meminta Diandra untuk mengantarkan dua cangkir kopi ke dalam ruangan Dimas.
"Mbak Laras yang biasa mengantarkan pesanan belum datang, tadi izin datang terlambat, apakah kau bisa mengantarkan ini Diandra?"
"Ya pak Diandra bisa."
Tanpa berpikir panjang Diandra mengatakan hal tersebut kepada sang manager, tanpa Diandra mengetahui siapa sebenarnya yang berada di sebalik ruangan itu.
Dengan penuh semangat Diandra membawa nampan tersebut untuk menuju ke ruangan Dimas.
"Permisi saya yang mengantarkan kopi."
"Ya masuklah."
Terdengar suara Dimas dari balik ruangan yang menyetujui Diandra untuk masuk ke dalam.
"Ini pak kopinya."
Deg
Tepat di saat itu juga ke dua mata Diandra beradu dengan ke dua mata Louis.
"Ya taruh saja di atas meja."
__ADS_1
Sadar akan perkataan Dimas, Diandra langsung kembali menundukkan kepala dan menaruh kopi tersebut di atas meja.
"Terima kasih ya, oh iya siapa nama mu?"
"Nama saya Diandra pak."
"Ah baiklah, terima kasih Diandra."
Setelah mengatakan hal tersebut Diandra langsung meninggalkan ruangan Dimas, sungguh saat ini jantungnya bergetar sangat cepat.
Satu perasaan yang tak karuan tiba - tiba hadir menyelimuti hatinya ketika Diandra mengetahui siapa laki - laki yang berada di balik ruangan tersebut.
"Tenang Diandra, tenang, tenang."
Dengan menarik nafas panjang Diandra berusaha untuk membuat dirinya tenang setelah perjumpaan nya dengan Louis.
"Hei Louis siapa yang kau lihat terus sejak tadi? jangan katakan bahwa kau juga ingin mengenal salah satu pelayan di cafe ku itu?"
Dengan tersenyum Dimas mengatakan hal tersebut kepada Dimas.
"Ah kau bisa saja Dim."
"Aku melihat mu memandangi nya tanpa berkedip bukan salah ku jika pada akhirnya aku memiliki asumsi seperti itu kepada mu."
Louis langsung tertawa ketika mendengarkan candaan Dimas.
__ADS_1
Sungguh hatinya akan selalu terhibur ketika dekat dengan sahabat nya tersebut.
"Jadi Louis, bagaimana dengan kasus mu ?"
Dan pada akhirnya Dimas mulai kepada pembicaraan nya yang serius.
"Aku masih menjalani pemeriksaan dan status ku masih berupa saksi, aku dengar hari ini Vivian yang di panggil oleh pihak kepolisian."
"Vivian? ya Vivian aku percaya dia tidak bergerak sendiri di dalam kasus mu ini."
Louis langsung menganggukkan kepalanya ketika Dimas memberikan asumsinya tersebut.
"Ya kau benar Dim, asisten ku Reino juga mengatakan hal yang sama."
"Lalu apakah kau sudah memiliki rencana untuk membantu pihak kepolisian membongkar pelaku utama akan hal ini?"
"Apakah aku perlu untuk melakukan nya juga Dim?
Louis kembali mengatakan hal tersebut kepada Dimas, karena Louis merasa bahwa dia tidak perlu melakukan apa - apa lagi.
"Ya memang sih, kita akan menyerahkan semua ini kepada pihak kepolisian, namun apa salahnya jika kita melakukan investigasi secara mandiri? jika kita mendapatkan sesuatu kita bisa langsung melaporkan hal ini kepada kepolisian."
Louis terdiam dengan perkataan Dimas.
"Ya kau benar Dim."
__ADS_1
Hai Hai pembaca novel Nona Diandra, terima kasih sudah setia sampai bab ini.
Jangan lupa voter, like yang banyak yah agar author nya semangat. Yuk lanjut bab selanjutnya yah😘