NONA DIANDRA

NONA DIANDRA
IBU MENINGGAL


__ADS_3

Tidak ada yang bisa di ucapkan lagi Anindita dan Aditya ketika Amanda sudah mengambil keputusan tersebut.


"Baiklah mbak, kami akan pergi dan kami akan menghargai keputusan mbak Amanda, tapi satu hal yang pasti, suatu saat jika Diandra membutuhkan kami, dengan senang hati kami akan membantu nya."


Setelah selesai mengatakan hal tersebut Anindita dan Aditya langsung keluar dari ruang rawat Amanda.


Kini di dalam ruang rawat tersebut hanya tersisa Amanda yang menatap langit - langit kamar.


"Mas, Mas Giandra, mas...."


Amanda beberapa kali memanggil nama suaminya dengan berlinang air mata, satu kerinduan yang berbalut dengan rasa penyesalan terdalam karena satu peristiwa di masa lalu yang tidak dapat di ungkapkan dengan kata - kata.


"Mas, apakah mas Giandra mengizinkan aku untuk ikut pergi bersama dengan mas Giandra? sebagai bentuk kesetiaan ku terhadap mas Giandra?"


Deg


Kata - kata itu yang tanpa sadar keluar dari mulut Amanda di tengah - tengah isak air matanya.


Dan tiba - tiba saja pintu ruang rawat kembali terbuka, muncul satu gadis yang keringatnya bercucuran masuk ke dalam ruang rawat.


"Buk, ibuk kenapa? ibuk menangis?"


Deg


Amanda yang menyadari kehadiran putri kandungnya langsung berusaha untuk menghapus air mata meskipun sebenarnya Amanda belum puas untuk menyelesaikan tangisan nya.


"Nduk kemarilah nduk."


Dengan lembut Amanda memanggil Diandra untuk mendekatkan diri kepadanya.


"Buk, ibuk kenapa? ibuk ada yang sakit? aku panggilkan dokter ya buk."


Diandra yang saat masuk ke dalam ruangan melihat air mata sang ibunda langsung panik dan ingin berbuat banyak hal untuk Amanda.


"Tidak usah nduk, ibuk hanya ingin dekat dengan kamu, jangan pergi yah nduk, temani ibuk disini, ibuk kesepian."


Beberapa kata yang di ucapkan oleh sang ibunda langsung membuat Diandra terdiam, selama ini Diandra tidak pernah melihat ibunya mengatakan hal tersebut.


"Iya buk, Diandra akan tunggu ibuk di sini, tadi pekerjaan Diandra di rumah dokter Louis juga sudah selesai, ini buk Diandra di bawakan makanan sama ibu Sekar Ayu, ibuk nya dokter Louis."


Dengan bangga Diandra mengangkat satu kantong plastik makanan yang dia dapatkan dari ibu Sekar Ayu, ibunda dari Louis.


"Tampaknya keluarga dokter Louis sangat baik kepada mu nduk?"


"Ya bu, ibuk Sekar baik sekali dengan ku."


Diandra mengatakan hal tersebut sambil mengupas buah yang diberikan oleh ibu Sekar Ayu.

__ADS_1


"Ibu makan buah ini ya, biar ibu cepet sehat, Diandra bahagia jika ibu sehat."


Dengan tersenyum Amanda menerima buah yang diberikan Diandra kepadanya.


Mas Giandra, lihat putri mu sudah besar, putri mu menjadi gadis yang dewasa sebelum waktunya, beban yang di pikulnya sungguh tidak ringan, tapi anak mu sangat kuat mas, mirip kamu.


Amanda hanya bisa mengatakan hal itu di dalam hatinya, sampai saat ini Amanda belum berani untuk memberitahukan kebenaran itu kepada Diandra.


Hari itu Diandra pada akhirnya menemani sang ibunda hingga malam hari, Amanda banyak mendengarkan cerita Diandra tentang kebaikan ibu Sekar dengan sesekali membelai rambut putri kesayangannya itu.


Malam yang larut berganti dengan pagi, Diandra yang sudah bangun terlebih dahulu langsung membuka jendela ruang rawat yang posisinya langsung menghadap ke taman rumah sakit.


"Buk, sudah pagi, ayo buk kalau mau ke kamar mandi."


Diandra membangunkan Amanda dengan lembut, namun Diandra melihat Amanda masih memejamkan ke dua matanya.


"Buk, ayo buk bangun kalau mau ke kamar mandi."


Diandra mencoba membangunkan untuk yang ke dua kalinya dengan lembut, namun ke dua mata Amanda masih terpejam.


"Buk, ayo bangun buk."


Kini Diandra mulai mengoncang pelan tubuh ibundanya, namun Amanda sama sekali tidak memberikan respon.


"Buk, buk, buk, buk!"


Dengan kencang pada akhirnya Diandra mengoncangkan tubuh ibunya dan tetap tidak ada respon, Diandra yang sudah mulai panik mulai memeriksa denyut nadi sang ibunda.


Seketika itu juga Diandra lari keluar ruang rawat dan berteriak - teriak memanggil perawat.


"Suster ibuk, sister Ibuk."


Dengan penuh berlinang air mata Diandra tidak bisa melanjutkan perkataannya.


"Ada apa ini?"


Tiba - tiba saja dari belakang Diandra terdengar suara Louis yang baru saja tiba di rumah sakit.


"Dokter Louis tolong ibuk, ibu tidak bangun."


Air mata Diandra mengalir dengan luar biasa ketika mengatakan hal tersebut kepada Louis.


"Suster siapkan peralatan medis, cepat!"


"Baik dokter Louis."


Louis yang hendak menuju ke ruang praktek langsung berbalik arah menuju ruang rawat ibunda Diandra.

__ADS_1


Louis yang melihat keadaan Amanda langsung melakukan pertolongan pertama, bersama beberapa tim medis yang pada akhirnya ikut masuk ke dalam ruang rawat ibunda Diandra mencoba menolong Ibunda Diandra.


"Dokter Louis, sudah selesai, ibu Amanda sudah tidak ada."


Dokter Wahyu yang saat itu bersama dengan Louis di dalam ruangan mengatakan hal tersebut sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya dokter Wahyu, Ibu Amanda sudah meninggal, suster catat waktu dan harinya, lepaskan semua peralatan medis dari tubuh ibu Amanda."


"Baik dokter Louis."


"Dokter Wahyu biar aku saja yang memberitahukan hal ini kepada mbak Diandra."


"Baik dokter Louis "


Setelah mengatakan hal tersebut Louis segera keluar dari ruang rawat untuk menjumpai Diandra yang sejak tadi sudah menunggu di luar ruangan.


"Dokter bagaimana keadaan ibuk? ibuk baik - baik saja kan dokter?"


Louis melihat air mata yang masih mengalir dari ke dua mata Diandra saat Diandra mengatakan hal tersebut kepada dirinya.


"Ayo ikut aku."


Louis mengajak Diandra untuk duduk kembali di ruang tunggu.


"Dokter bagaimana keadaan ibuk? dokter belum mengatakan keadaan ibuk kepada ku."


"Ibu Amanda sudah meninggal dunia."


Beberapa perkataan Louis yang detik itu juga sanggup menghancurkan dunia Diandra.


"Gak mungkin! dokter bohong!"


Dengan sangat kencang Diandra mengatakan hal tersebut kepada Louis yang posisinya masih duduk di depan Diandra.


"Aku tidak berbohong, Ibu Amanda sudah meninggal pada pagi ini Diandra."


Seketika itu juga Diandra menjerit, Diandra berteriak, Diandra menjerit berkali - kali.


Dan karena hal tersebut Louis langsung memeluk Diandra.


"Jangan seperti itu, ini rumah sakit, banyak orang yang masih berjuang juga melawan penyakitnya."


"Aku mau mati saja dokter Louis, aku tidak akan pernah sanggup untuk hidup tanpa ibuk."


Dengan hancur hati dan dengan air matanya yang masih deras mengalir, di dalam dekapan sang dokter Diandra terus mengatakan hal tersebut sambil memukul - mukul pelan lengan Louis.


"Untuk apa aku hidup dokter!"

__ADS_1


Louis yang sejak tadi terus mendengarkan kata - kata tersebut keluar dari mulut Diandra hanya bisa memeluk nya saja.


Hal pertama yang Louis lakukan terhadap keluarga pasien ketika menyampaikan kabar duka, Louis membiarkan jas putihnya penuh dengan air mata Diandra, tanpa mencoba untuk menghindarinya.


__ADS_2