NONA DIANDRA

NONA DIANDRA
KEBANGKITAN DIANDRA


__ADS_3

Hari ini menjadi hari yang sungguh padat bagi Louis, dengan sekuat tenaga Louis kembali berpikir apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan penjualan produk barunya tersebut.


Ancaman para investor saat rapat berlangsung membuat Louis harus memutar otak untuk bekerjasama dengan marketing perusahaan di dalam memasarkan produk barunya kepada orang banyak.


"Jadi aku bisa bekerja lagi pak di cafe ini?"


Hari ini Diandra yang mendapatkan kabar bahagia ini sangat senang sekali ketika sang pemilik cafe pada akhirnya menghubungi nya lagi.


"Baik pak terima kasih."


Selesai mengatakan hal tersebut Diandra langsung menutup panggilan ponselnya dan langsung berlari menghampiri sang kakek Surjono.


"Nduk kenapa lari - lari seperti itu?"


"Kek besok Diandra bisa kembali bekerja lagi di tempat yang sebelumnya."


"Ah syukur lah kalau begitu kakek ikut senang."


Namun belum sempat perkataan kakek Surjono berlanjut tiba - tiba ada satu mobil mewah berhenti di depan rumah mereka.


"Nduk itu mbak Anindita, ayo nduk kita sambut."


Sang kakek yang kini berada di ruang tamu segera berdiri dari tempat duduknya dan lamb membukakan pintu untuk Anindita.

__ADS_1


"Siang kek, sehat kan?"


"Wes pasti sehat nduk."


Mata Anindita langsung terpaku pada satu gadis yang saat ini masih duduk mematung di kursi ruang tamu.


"Diandra? astaga Diandra, kamu ada disini dek?"


Dengan cepat Anindita segera menghampiri Diandra yang sejak tadi masih belum berdiri dari tempat duduknya tersebut.


"Kapan pulang dari Jakarta?"


"Hari mbak."


Diandra untuk kesekian kalinya harus berbohong bahwa sebenarnya dia menginap terlebih dahulu di tempat Merry baru kembali ke rumah.


"Ah seperti itu kek, iya kamu disini saja yah biar kita satu keluarga tidak ada yang berpisah lagi."


"Nduk Diandra Anindita itu bude mu, jadi sekarang jangan di panggil mbak Anindita lagi yah, tapi bude Anindita."


Sang kakek mengatakan hal tersebut sambil memandang ke arah Anindita.


"Iya, aku ini bude mu, mas Giandra suami mbak Amanda itu adalah mas ku, meskipun kami bukan saudara kandung, tapi mas Giandra itu adalah mas angkat ku, jadi sekarang kalau ada apa - apa jangan sungkan untuk cerita yah nduk."

__ADS_1


Anindita memberikan senyuman yang hangat kepada Diandra dan senyuman tersebut sungguh sangat menyejukkan hatinya.


"Iya bude Anindita."


"Ya wes ayo nduk ikut ke dapur, ini bude bawakan semur daging sama tempe goreng, ayo makan siang bareng."


Anindita langsung berdiri dari tempat duduknya di ruang tamu dan mengajak Diandra untuk ke dapur mempersiapkan hidangan yang dibawa Anindita.


Sungguh saat ini hati Diandra terlalu lembut untuk memiliki dendam terhadap Anindita, perlakuan hangat Anindita membuat hati keras Diandra pada akhirnya luluh.


"Diandra apa rencana mu selanjutnya nduk?"


Di sela - sela makan siang Anindita kembali bertanya kepada Diandra.


"Diandra mau kembali kerja di cafe lagi bude."


"Oh apa tidak capek nduk kerja disana?"


Dengan cepat Diandra langsung menggelengkan kepalanya.


"Semua pekerjaannya tidak ada yang tidak capek bude."


"Iya bude tau, nduk kamu suka masak?"

__ADS_1


Hai Hai pembaca novel Nona Diandra, terima kasih sudah setia sampai bab ini.


Jangan lupa voter, like yang banyak yah agar author nya semangat. Yuk lanjut bab selanjutnya yah😘


__ADS_2