NONA DIANDRA

NONA DIANDRA
BERPAMITAN


__ADS_3

Detik itu juga Diandra mengambil satu keputusan dengan sangat tiba - tiba.


Keputusan yang di ambil atas dasar luka hati yang kini sudah mulai tergores dengan sangat tajam.


"Maafkan Diandra kek, tapi Diandra sudah tidak kuat lagi, maafkan Diandra ya Bu, Tuhan sampaikan maaf Diandra kepada Ibuk yang Tuhan di surga."


Malam hari itu pada akhirnya Diandra bangkit dari tempatnya menangis.


Diandra mengambil koper yang ada di atas lemari dan mulai memasukkan bajunya satu per satu ke dalam koper tersebut.


"Aku datang kepada mas Louis dengan baik - baik, dan kini aku harus tetap pamit apapun resiko nya, ya pamit berhenti bekerja dan pulang kembali ke Jogyakarta."


Setelah Diandra selesai membereskan barang - barang Diandra duduk di tempat tidurnya dan mengatakan hal tersebut.


Meskipun saat ini Diandra mengalami luka hati yang tertoreh cukup dalam, namun Diandra akan tetap berpamitan kepada Louis atas pengunduran dirinya tersebut.


Malam hari ini dengan sekuat tenaga Diandra mencoba untuk memejamkan ke dua matanya.


Diandra sejenak mencoba untuk tidak mengingat rasa malunya karena Louis telah membaca semua isi di dalam buku hariannya tersebut.


Diandra yang bukan siapa - siapa, Diandra yang tidak memiliki kuasa apapun di dalam rumah ini seakan - akan tidak memiliki hak untuk marah karena Louis dengan seenaknya membaca buku harian tersebut tanpa izin darinya.


"Selamat pagi mas Louis."


Pagi hari ini seperti biasa Louis yang sudah bangun segera menuju ke meja makan untuk sarapan.


"Pagi bi Inah."

__ADS_1


Louis cukup heran karena pada pagi hari ini hanya melihat bi Inah saja di dapur.


"Bi sarapan ini bibi yang memasaknya?"


Louis mengatakan hal tersebut karena kini di meja makan ada beberapa makanan yang bukan menjadi seleranya.


"Iya mas Louis, mbak Diandra sudah bibi bangunkan beberapa kali tapi sepertinya sampai sekarang mbak Diandra belum bangun mas."


Louis yang mendengarkan perkataan bi Inah langsung mengernyitkan dahi.


"Jam segini belum bangun bi? astaga Diandra aku membayar mu mahal - mahal bukan untuk jadi tukang tidur saja!"


Louis mengatakan hal tersebut seolah -olah tadi malam sedang tidak terjadi apa -apa.


"Mas Louis aku sudah bangun dari tadi mas."


Deg


"Kau, untuk apa kau bawa - bawa itu?"


Louis mengatakan hal tersebut dengan menunjuk koper yang saat ini berada di samping Diandra.


"Bisa kita bicara sebentar mas?"


Louis terdiam dengan pertanyaan Diandra.


"Ya, ayo kita ke ruang kerjaku."

__ADS_1


"Baik mas Louis."


Dengan segera Louis mengambil roti tawar, memakannya sambil berjalan ke ruang kerja.


Sedangkan Diandra mengikuti Louis dari belakang.


"Duduklah dan apa yang ingin kau bicarakan pagi - pagi seperti ini?"


Sesampainya di ruang kerja, Louis meminta Diandra untuk duduk di hadapannya.


"Diandra mau pamit mas Louis."


"Pamit?"


Sungguh beberapa kata dari Diandra yang saat ini membuat Louis sangat kaget.


"Ya mas Louis, Diandra mau mengundurkan diri dari pekerjaan Diandra di sini."


Deg


Sungguh di luar dugaan Louis jika pagi ini dirinya harus mendengarkan hal tersebut keluar dari mulut Diandra.


"Mengundurkan diri dari pekerjaan? enak sekali kau mengatakan hal ini, kau harus ingat kau masih terikat kontrak dengan ku!"


Hai Hai pembaca novel Nona Diandra, terima kasih sudah setia sampai bab ini.


Jangan lupa voter, like yang banyak yah agar author nya semangat. Yuk lanjut bab selanjutnya yah😘

__ADS_1


__ADS_2