
Cukup lama Diandra menunggu di depan kamar tersebut, ke dua tangannya masih dengan erat menggenggam ke dua telinga nya dan rasa lelah terasa dengan amat sangat bercampur dengan air mata pada akhirnya membuat Diandra tertidur di depan pintu kamar dua kosong satu.
"Hei siapa gadis ini!"
Pagi dini hari saat dokter Louis keluar dari kamar dua kosong satu, dokter Louis begitu terkejut di depan pintu kamarnya tergeletak satu gadis yang sedang tertidur.
"Ada apa Louis?"
Vivian yang mendengarkan teriakan dari dokter Louis langsung beranjak dari tempat tidur dengan hanya berbalut selimut putih saja.
"Siapa dia Louis?"
"Mana aku tau, kau tanya kepadaku lalu aku bertanya kepada siapa?"
Dengan gusar dokter Louis menjawab pertanyaan Vivian.
"Sebentar, aku akan menghubungi resepsionis di lantai satu."
"Percuma, kau tidak akan mendapatkan jawaban apapun, sekarang sebaiknya kau melihat jam."
Deg
Vivian langsung melihat jam dinding di dalam kamar dan setelah itu dia baru menyadari bahwa ini baru pukul lima pagi.
"Louis ternyata kita melakukan hal itu semalam suntuk, sungguh aku bangga kepada mu."
Vivian langsung memeluk pinggang Louis dan Vivian pun berharap mendapatkan pujian yang sama dari Louis.
"Lepaskan tangan mu dari tubuhku Vivian!"
Dokter Louis mengatakan hal tersebut sambil melepaskan tangan Vivian yang masih melingkar di pinggang nya.
"Tapi Louis."
"Sssst diam."
Tatapan tajam Louis menjadi hiasan di pagi hari ini, dan hal itu lah yang pada akhirnya membuat Vivian terdiam.
"Hei bangun, bangun gadis bodoh, bangun!"
Louis mengatakan hal tersebut sambil menendang pelan tubuh Diandra.
"Tidur mu seperti kebo, sudah begitu kau masih bisa ngorok dengan kencang meskipun kau tidur di lantai yang dingin ini."
"Hei bangun!"
Louis pada akhirnya berteriak dengan sangat kencang ketika tidak bisa membangunkan Diandra dengan suara yang biasa - biasa saja.
Diandra yang tubuhnya di goncang kan Louis dengan kakinya langsung membuka mata dan begitu kaget ketika mendapatkan wajah Louis tepat di depan wajahnya.
"Siapa kau!"
__ADS_1
Dengan kencang Diandra berteriak dan langsung terduduk.
"Justru aku yang bertanya kepada mu siapa kau? pagi - pagi aku keluar kamar sudah ada orang yang aku sangka orang gila."
Deg
Ucapan Louis yang tanpa berpikir terlebih dahulu langsung membuat wajah Diandra memerah karena marah.
"Apa kau bilang? aku orang gila? kau yang gila, mendesah semalam suntuk bersama dengan dia."
Dengan berteriak Diandra mengatakan hal tersebut sambil menunjuk tangannya kepada Vivian yang masih berdiri ditutup oleh selimut tebal di depan pintu kamar.
"Pergi atau aku satpam!"
"Tidak perlu kau panggil satpam, aku bisa pergi dengan ke dua kaki ku sendiri."
Diandra kembali mengatakan hal tersebut kepada Louis dengan membala tatapan tajam Louis ke arahnya.
Setelah mengatakan hal tersebut Diandra segera berlari turun dari lantai tiga.
"Dasar wanita gila!"
Louis mengatakan hal tersebut dengan pelan dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
Sementara itu Diandra terus berlari turun hingga menuju ke parkiran sepeda motor.
"Arrrh Diandra gara - gara cowok itu kau jadi lupa kan untuk membersihkan lantai tiga, mas Rudi bisa marah kepada mu, dan tidak akan memberikan kepercayaan lagi kepada mu!"
Diandra mengatakan hal tersebut di depan motor kesayangan nya sambil sesekali kali melihat spion motor.
Belum sempat melanjutkan kata - kata nya sendiri, tiba - tiba saja ponsel Diandra berbunyi.
"Baiklah kek Diandra segera pulang."
Setelah menutup ponselnya Diandra segera kembali ke rumah dengan tergesa - gesa seperti ada sesuatu yang penting.
Sementara itu pagi ini di kediaman keluarga Louis.
"Darimana saja kau Louis?"
"Pagi Dad, bu."
"Louis habis menginap di rumah Dimas bu."
Seperti biasa Louis akan selalu berbohong kepada ke dua orang tuanya mengenai tabiat buruk nya yang suka berganti - ganti pasangan.
"Walah pantes ibuk semalam cari kamu, ibuk hubungi pak Yono eh pak Yono nya pulang duluan."
"Iya buk, kan pak Yono juga kangen keluarga nya."
"Ya wes ibuk gapapa, jadi bagaimana kamu jadi ikut ke rumah sakit pagi ini?"
__ADS_1
"Ya bu Louis akan segera kembali praktek lagi."
"Syukur kalau begitu, ya wes cepetan makan nya, bapak sebentar lagi berangkat."
Louis yang mendengarkan perkataan ibunda nya kini hanya bisa saling melirik dengan sang ayah.
"Ayo Louis kita berangkat."
Dengan cepat sang Ayah langsung bangkit dari tempat duduknya di ikuti oleh Louis.
"Honey aku pergi dulu."
"Honey? wes di Jogyakarta berapa puluh tahun loh pak masih kamu panggil aku begitu."
Ibunda Louis mengatakan hal tersebut sambil tersenyum ketika sang ayah mencium keningnya dan mengatakan hal tersebut.
"Buk Louis pergi dulu."
"Ya wes ati - ati ya pak, nak."
Ke dua laki - laki yang selalu menghiasi hati sang ibunda itu pada akhirnya semakin tidak terlihat dari ke dua mata sang ibunda.
"Selamat pagi Mr.Richard, dokter Louis"
Sapaan yang di berikan oleh satpam ketika Louis dan ayahnya masuk ke dalam lobby rumah sakit.
"Pagi pak Ngadiman."
Mr. Richard yang merupakan ayah Louis menjawab sapaan selamat pagi tersebut dengan ramah dan terus melanjutkan langkah kakinya bersama dengan Louis untuk menuju satu ruangan besar.
Mr. Richard adalah pemilik salah satu rumah sakit swasta terbesar di kota Jogjakarta, tidak ada yang tidak mengenal Mr. Richard, kebaikannya yang sering memberikan potongan harga untuk para pasien tidak mampu menjadi membuatnya dikenal oleh banyak orang di kota Jogjakarta kota kecil yang penuh dengan warna.
"Selamat pagi Mr Richard."
"Selamat pagi dokter Aditya, apakah semuanya sudah siap?"
"Tentu saja Mr. Richard."
Satu paruh baya bernama dokter Aditya menyambut kedatangan Mr Richard dan juga Louis di dalam ruang rapat.
Begitu mereka masuk sudah ada banyak pasang mata yang langsung tertuju kepada ayah dan anak tersebut.
"Pagi semuanya, saya berharap pagi ini semuanya sudah siap untuk bekerja."
Mr.Richard laki - laki keturunan Swedia dengan penuh wibawa membuka pertemuan nya pada pagi hari ini.
"Baiklah di dalam pertemuan pagi ini tidak perlu lama saya akan memperkenalkan anak kandung ku yang baru kembali dari Jepang, dokter Louis Sp.JP"
Dengan bangga Mr. Richard mengatakan hal tersebut kepada semua orang di dalam ruang rapat.
"Louis akan membantu tim medis kita di dalam bidangnya yaitu jantung dan kardiovaskular."
__ADS_1
Semua orang langsung bertepuk tangan ketika mendengarkan apa yang dikatakan oleh Mr. Richard.
Sungguh semua orang langsung mendatangi Louis dan menjabat tangannya, seorang laki - laki tampan berusia tiga puluh tahun dengan gelar yang tidak diragukan lagi akan turut bergabung di rumah sakit milik sang ayah.