
Setelah selesai mengatakan hal tersebut Diandra kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela dan kembali melihat ke arah laki - laki paruh baya yang kini sudah berhasil menenangkan putri kecilnya.
Sesekali Diandra tersenyum dan membayangkan jika putri kecil tersebut adalah dirinya.
"Ayo turun."
Mobil kini sudah sampai di satu gedung dengan lantai yang cukup menjulang tinggi, Diandra yang belum pernah melihat gedung - gedung tinggi seperti itu, langsung turun dengan kepalanya mengarah ke gedung dan memutar - mutar kan badan nya.
"Dokter bekerja disini? waaaaaah hebat, gedungnya tinggi sekali."
Louis yang melihat tingkah Diandra langsung menggelengkan kepalanya.
"Berhentilah berputar - putar seperti itu, jika sampai kau pingsan aku akan menyeret mu sampai ke rumah."
Seketika itu Diandra langsung berhenti melakukan gerakan memutar - mutar kan tubuhnya sebagai bentuk rasa kagumnya.
"Maafkan aku dokter Louis."
"Apakah kau sudah lupa pada peraturan ke dua? di sini kau dilarang menyebutkan nama dokter kepada ku, karena aku bukan lagi seorang dokter jika sudah berada di dalam gedung itu."
"Ah maafkan aku mas Louis."
"Ayo masuk, kau tidak boleh berjalan di samping ku, tapi kau hanya boleh berjalan di belakang ku saja."
Diandra yang mendapatkan aturan baru dari Louis langsung mengernyitkan dahi, namun pada akhirnya Diandra memutuskan untuk tidak banyak bertanya lagi kepada Louis, karena melihat wajah Louis sudah ingin menerkamnya jika dia kembali bertanya.
"Jadi jadwal kita apa hari ini Ren?"
"Pagi ini ada rapat dengan perusahaan farmasi milik Ibu Lidya Natalia."
Langkah Louis langsung terhenti ketika mendengarkan nam Lidya Natalia di sebut oleh asisten nya.
"Lidya Ren?"
"Ya mas Louis."
"Lidya yang datang?"
"Kabar yang saya terima terakhir adalah seperti itu mas Louis."
Ada satu langkah bimbang Louis untuk melangsungkan kakinya menuju ke arah ruang rapat ketika mendengarkan Lidya Natalia juga akan berada di dalam rapat nanti.
__ADS_1
"Mas Louis, sebaiknya mas Louis tidak meninggalkan rapat ini, saat ini para Dewan direksi sedang menunggu kedatangan mas Louis."
Louis terdiam sejenak, sebagai laki - laki ada satu ego yang besar di dalam dirinya untuk mengakui bahwa dia takut untuk bertemu dengan wanita yang bernama Lydia Natalia yang saat ini sudah berada di ruang rapat.
"Baiklah Ren ayo."
Dengan langkah terpaksa pada akhirnya Louis tetap melangkahkan kakinya untuk menuju ke dalam ruang rapat.
Diandra yang sejak tadi berada di belakang Louis hanya bisa mendengarkan pembicaraan ke dua laki - laki tersebut.
Siapa sebenarnya Lidya Natalia? wanita itu seakan - akan seperti hantu di dalam kehidupan dokter ini, ah untuk apa aku pikirkan, itu semua tidak ada hubungannya dengan ku juga.
Diandra yang penasaran dengan wanita yang disebutkan hanya bisa mengatakan hal itu di dalam hatinya saja, untuk kesekian kali Diandra melangkahkan kaki di belakang Louis tanpa mencoba untuk mencari tau lebih dalam tentang pembahasan mereka.
"Selamat pagi mas Louis, mas Reino dan..."
Satu orang laki - laki paruh baya mendadak berhenti berkata - kata ketika melihat Diandra berdiri dibelakang Louis.
"Namanya mbak Diandra pak Jo, mbak Diandra adalah asisten pribadi dari mas Louis."
"Ah baiklah, ayo mas Louis silahkan duduk."
Louis langsung melangkahkan kaki untuk duduk di kursi direktur tanpa memandang ke seberang meja yang saat ini berisikan wanita cantik berkulit putih, yang sejak tadi terus menatapnya tanpa berkedip.
Louis yang sudah sangat gerah karena dirinya kini bisa melihat satu pandangan tajam dari wanita cantik yang saat ini duduk di sebrang mejanya tersebut.
"Sesuai dengan rapat sebelumnya, kami telah membahas kerja sama dengan perusahaan Farmasi milih mbak Lidya, mengenai beberapa suplemen yang akan kita produksi, dari mulai kemasan, komposisi, sampai target pasar."
"Silahkan mbak Lidya untuk menjelaskan semuanya kepada mas Louis."
Pak Jo yang merupakan salah satu pemimpin cabang perusahaan Louis meminta Lidya untuk menjelaskan secara terperinci kepada Louis.
"Terima kasih pak Jo."
Dengan senyum manisnya, Lidya segera berdiri dari tempat duduk dan mulai menjelaskan semuanya di ruang rapat tersebut.
Kini sulit untuk Louis tidak menatap wajah wanita cantik yang beberapa tahun pernah mengisi kehidupan nya.
Dengan penuh keberanian pada akhirnya Louis terpaksa menatap kecantikan wanita tersebut, karena Louis juga membutuhkan penjelasan akan kerjasama ini.
"Sekian penjelasan yang saya berikan, apakah ada pertanyaan dari pak direktur Louis?"
__ADS_1
Deg
Kini tatapan tetap Lidya betul - betul bertemu dengan tatapan dari Louis.
"Tidak perlu, semuanya sudah bagus."
"Terima kasih pak Direktur."
Setelah mengatakan hal tersebut Lidya kembali kepada tempat duduknya.
"Semua penjelasan sudah sangat lengkap, dan tidak ada yang perlu untuk di koreksi lagi, dan jika tidak ada yang ditanyakan rapat bisa selesai sampai disini."
Semua mata langsung mengarahkan pandangannya terhadap Louis, karena baru kali ini rapat besar di akhiri dengan cepat, namun karena memang tidak ada lagi yang perlu untuk dibicarakan maka satu per satu peserta rapat mulai meninggalkan ruangan.
"Halo Louis."
Deg
Louis yang mengira Lidya Natalia sudah meninggalkan ruang rapat ternyata salah, Louis yang setelah selesai rapat masih berbicara dengan beberapa karyawan hampir lupa dengan keberadaan Lidya.
"Kenapa?"
Kata - kata pendek tersebut yang langsung keluar dari mulut Louis ketika Lidya menyapanya.
"Aku kira kau bisa profesional di dalam pekerjaan, namun apa yang aku sangka ternyata salah."
"Apa maksud mu mengatakan hal itu?"
Ada nada marah ketika Louis mengatakan hal itu kepada Lidya.
"Menyelesaikan rapat ini dengan begitu cepat, tidak memberikan ruang untuk para peserta rapat bertanya lebih lanjut, serta tidak adanya komunikasi yang pantas, apakah sekarang kau bisa mengatakan jika rapat yang kita lakukan tadi adalah rapat yang profesional?"
"Ya itu rapat yang profesional dan sudah cukup sampai di sana saja pembahasan itu."
Lidya yang mendengarkan perkataan Louis kini hanya tersenyum tipis.
"Ayolah Louis aku tau kau seperti apa, kau sangat terlihat tidak profesional, aku sangat mengenal mu, dan ayolah apakah karena masih ada cinta di dalam hati mu untuk ku? sehingga kau menjadi seperti ini?"
Nafas Louis naik turun ketika mendengarkan perkataan Lidya, tidak dapat di pungkiri bahwa rasa cinta Louis masih begitu dalam terhadap wanita yang saat ini berada di depan matanya.
Dan tiba - tiba terdengar bunyi barang terjatuh sebelum Louis akan menjawab pertanyaan Lidya.
__ADS_1
Semua mata langsung tertuju kepada sumber barang tersebut dan Louis baru sadar jika Diandra sejak tadi masih berada di dalam ruangan tersebut dan mendengarkan semua pembicaraan mereka.