
Lalu kau sakit dan sekarang aku mau untuk membiayai operasi mu."
"Astaga Louis baru kali ini kau mau mengeluarkan banyak untuk untuk wanita yang bukan siapa - siapa mu sampai banyak seperti ini."
Louis saat ini tiba - tiba saja menertawakan dirinya sendiri ketika dengan sadar pada akhirnya dia mau mengeluarkan banyak uang untuk Diandra yang bukan orang spesial di hati Louis.
Seharian itu Louis pada akhirnya memilih untuk menunggu Diandra di rumah sakit dan tidak beranjak dari sana.
Kakinya begitu berat untuk melangkah kembali pulang ke rumahnya.
"Mas, mas bangun."
Malam hari, Louis merasakan ada yang mengguncang tubuhnya pelan.
Rasa kantuk yang teramat sangat dari Louis membuat dia pada akhirnya memejamkan mata di dalam ruang rawat Diandra.
"Sudah bangun?"
Ke dua mata Louis yang terpejam pada akhirnya terbuka ketika dirinya merasakan ada yang mengguncang tubuhnya dengan pelan.
"Mas, aku haus."
Beberapa kata yang pada akhirnya di ucapkan oleh Diandra ketika dia bangun dari pengaruh obat bius nya tersebut.
Rasa haus dan lapar yang teramat sangat pada malam hari ini begitu kuat dirasakan oleh Diandra, dirinya yang tidak di perbolehkan makan dan minum beberapa jam sebelum operasi, kondisi inilah yang pada akhirnya membuat Diandra begitu menginginkan air mineral yang tak jauh dari tempat Louis tertidur.
"Ah baiklah, tunggu sebentar."
Dengan cepat Louis segera bangkit dari tempat duduknya dan mengambil air mineral yang masih berada di dalam botol dan menuangkan nya ke dalam gelas yang sudah disediakan oleh rumah sakit.
"Ini minumlah."
"Terim kasih mas Louis."
Dengan cepat Diandra menyambar gelas yang berisikan air mineral dari tangan Louis.
"Pelan - pelan Diandra."
Louis segera mengambil tissue ketika Louis melihat Diandra tersedak karena terburu - buru saat meminum air tersebut.
"Minuman ini tidak akan lari meskipun kau meminum nya dengan perlahan."
Louis mengatakan hal tersebut sambil membersihkan air yang berceceran di bibir Diandra.
Jantung Diandra berdegup kencang, jantung Diandra seakan - akan ingin keluar dari tempatnya ketika melihat Louis dengan perlahan menyentuh bibirnya.
__ADS_1
Seumur hidup, baru kali ini Diandra bisa berada sedekat ini dengan laki - laki dewasa.
Hati Diandra begitu teduh saat Louis membersihkan bibirnya.
Rasanya damai, rasanya teduh sekali mas, apakah seperti ini jika aku di sentuh oleh ayah?
Deg
Lagi - lagi Diandra membayangkan jika saat ini dirinya juga bisa diperlakukan seperti ini oleh ayahnya.
Namun apalah semua hal itu hanya mimpi belaka yang tidak akan pernah terwujud.
"Hei kenapa kau malah melamun?"
Louis yang kini sadar yang sejak tadi Diandra melamun saja kini mulai kembali menegurnya.
"Mas boleh aku bertanya sesuatu hal kepada mas Louis?"
"Katakan saja langsung tidak perlu seperti ini."
"Mas bagaimana rasanya punya seorang ayah?"
Deg
Pertanyaan Diandra terhadap nya mampu membuat Louis langsung mengernyitkan dahi.
Dengan cepat Diandra langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak ingin bertanya hal yang lainnya mas, karena seumur hidup ku aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah."
"Karena seumur hidup aku belum pernah merasakan punya seorang ayah mas."
Setelah mengatakan hal tersebut Diandra langsung menundukkan wajahnya, Diandra berusaha untuk menahan dirinya agar tidak menangis di hadapan Louis.
Dan sungguh saat ini hati Louis sangat merasa kasihan dengan Diandra, seumur hidup baru kali ini Louis memiliki rasa empati yang sangat berlebih, apalagi terhadap satu orang gadis biasa yang tidak seperti para gadis yang selama ini berada di sampingnya.
"Apakah ayah mu meninggalkan mu? atau ayah mu memang sudah meninggal dunia?"
"Dua - duanya yang mas Louis katakan itu benar, ayah meninggalkan aku secara hati dan juga dunia.
Setelah mengatakan hal tersebut pada akhirnya Diandra berani untuk bercerita, entah mendapatkan kekuatan darimana sehingga pada akhirnya dia berani untuk bercerita kepada Louis.
Diandra mulai menceritakan pekerjaan dia yang sebenarnya di Jogyakarta, Diandra juga mengatakan bahwa dirinya baru mengetahui siapa ayah kandungnya yang benar adalah ketika semuanya sudah terlambat.
"Jadi kau putri dari pengacara Giandra?"
__ADS_1
Sungguh di luar dugaan Louis, bahwa gadis saat ini berada di depan matanya adalah putri salah satu pengacara terkenal di Indonesia.
"Iya mas, kata keluarga ibuk seperti itu."
"Kata keluarga ibuk?
Louis yang mendengarkan ucapan Diandra dengan nada janggal segera kembali bertanya.
"Yah mas, sampai saat ini aku masih belum bisa bertemu dengan keluarga papa."
"Apa alasannya?"
Diandra terdiam sejenak, lalu pada akhirnya Diandra menarik nafasnya pelan - pelan dan pada akhirnya mulai menjelaskan.
"Ibuk ku tidak pernah bisa diterima oleh keluarga dari papa mas, sebenarnya aku kurang mengerti kenapa sampai seperti itu, aku tidak ingin mengerti mas, karena itu akan membuat luka hatiku semakin dalam."
Louis yang mendengarkan cerita Diandra kini hanya bisa terdiam dan menganggukkan kepalanya.
"Ya, ya meskipun aku tidak pernah mengalami apa yang kau rasakan, tapi rasanya pasti sedih banget ketika kita tidak bisa bertemu dengan keluarga kita sendiri, atau ketika kita mengetahui kebenaran dan semuanya sudah terlambat."
"Mas, tadi belum menjawab pertanyaan ku."
"Ah ya maafkan, jadi kau bertanya bagaimana rasanya punya seorang ayah?"
Dengan cepat Diandra pada akhirnya kembali menganggukkan kepalanya.
"Ya aku tidak pernah mengetahui apakah rasanya berbeda jika itu di lihat dari sisi laki - laki dan perempuan, namun bagi laki - laki sosok seorang ayah adalah panutan di dalam hidupnya."
"Panutan di dalam kepemimpinan nya, panutan di dalam keputusan nya, dan teman berdiskusi yang baik."
"Mas Louis pasti dekat dengan papa, karena mas Louis bisa menjelaskan dengan detail bagaimana sosok seorang ayah itu."
Louis langsung membalikkan badan dan tersenyum ke arah Diandra.
"Ya kau benar, aku sangat dekat dengan Daddy, papa ku yang berkebangsaan luar Indonesia sangat memilki pandangan yang selalu bertolak belakang dengan ibu ku, namun hal itu menjadi sangat menarik ketika kita berdiskusi berbagai macam hal."
Diandra tersenyum di atas tempat tidur ketika Louis dengan bangga menceritakan keluarga nya dengan bangga.
"Mas, terima kasih ya."
"Terima kasih untuk apa?"
"Terima kasih karena mas sudah menceritakan kebahagiaan keluarga mas Louis, aku memang tidak memiliki keluarga yang utuh, namun aku selalu ikut bahagia jika mendengarkan cerita - cerita keluarga seperti itu."
"Karena bagiku itu sudah cukup untuk mewakili aku yang sangat ingin memiliki keluarga."
__ADS_1
Perkataan Diandra sungguh saat ini mampu untuk merobek - robek hati Louis yang kaku dan dingin, kata - kata yang mampu membuat Louis merasakan betapa seharusnya dia bisa memiliki rasa syukur yang dalam.