
Reino adalah salah satu asisten pribadi Louis yang hari ini di minta untuk menjemputnya di bandara, dan Reino sangat merasa aneh karena sejak tadi ada satu gadis yang terus berdiri belakang Louis.
"Kenapa Ren?"
"Ah maafkan saya mas Louis, saya hanya sedang memperhatikan sesuatu yang tidak biasa."
Louis langsung melihat ke belakang dan dirinya mendapatkan Diandra tepat berdiri di belakangnya.
"Hei, untuk apa yang berdiri di belakang ku, ayo kemari!"
Louis langsung meminta Diandra untuk berdiri di sampingnya.
"Nah Reino, ini Diandra, mulai sekarang dia yang akan bertanggung jawab atas setiap kebutuhan pribadi ku, tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuh kebutuhan pribadi ku kecuali Diandra, apakah kau mengerti?"
"Tentu saja mas Louis, semua pesan yang telah di sampaikan akan saya ingat, mari mas Louis, mbak Diandra."
Reino pada akhirnya mengantarkan Louis dan Diandra untuk masuk ke dalam satu mobil mewah yang telah di sediakan.
Diandra begitu terkagum dengan mobil yang hendak dia naiki, seumur hidupnya baru pertama kali ini Diandra melihat mobil semewah ini.
"Hei ayo naik, tunggu apa lagi?"
Louis yang sudah di dalam mobil langsung membuka kaca dan berteriak kepada Diandra yang masih di luar untuk segera masuk ke dalam.
"Iya dokter Louis."
Dengan segera Diandra masuk ke dalam mobil dan mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman Louis.
Sepanjang perjalanan Diandra begitu terkagum melihat pemandangan gedung - gedung tinggi nan megah yang menghiasi kota Jakarta.
"Lihat dokter itu mirip seperti trans Jogja."
Diandra langsung menunjuk busway yang melintas di seberang mobil mereka.
"Dasar norak, itu namanya busway."
"Oh jadi ini yang namanya busway?"
"Hmm"
"Waaaaaah."
Diandra mengatakan hal tersebut sambil terus menatap ke arah jendela.
__ADS_1
"Tugasmu mungkin kali agak berat Ren, karena kau harus banyak mengajarkan gadis ndeso ini untuk menjadi pelayan pribadi yang baik."
Reino yang duduk di samping supir hanya tersenyum mendengar perkataan Louis.
Perjalanan singkat menuju ke salah satu kawasan perumahan elite Jakarta pun pada akhirnya sampai.
Begitu mobil masuk ke halaman, Diandra melihat rumah mewah yang berdiri megah dari dalam mobil.
"Bocah ndeso ayo turun, kita sudah sampai."
"Iya dokter."
Diandra segera mengikuti Louis untuk turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
"Ren antar bocah ndeso ini masuk ke dalam kamarnya, pakai kamar di samping kamarku saja, agar aku bisa dengan mudah berteriak kepadanya jika aku membutuhkan dia."
"Baik mas Louis, ayo mbak Diandra."
Reino yang mengerti Louis hendak pergi kemana segera mengantarkan Diandra menuju ke dalam kamarnya.
"Ini adalah kamar mbak Diandra selama bekerja disini bersama mas Louis."
Begitu membuka kamar Diandra sangat kaget dengan kemewahan kamar tersebut, besar kamarnya kali ini adalah tiga kali lipat dari kamar pribadinya di Yogya.
"Anu mas Reino, apa tidak salah aku di tempatkan di kamar ini? ini seperti kamar utama?"
"Mas Louis tidak akan pernah salah dalam memberikan perintah mbak Diandra, mas Louis sengaja menempatkan mbak Diandra di kamar ini agar mas Louis bisa dengan mudah memanggil mbak Amanda jika membutuhkan."
"Ya, ya aku kan pembantunya dokter Louis."
"Baiklah mbak, saya sarankan mbak Diandra untuk beristirahat, karena panggilan untuk mbak Diandra bisa sewaktu - waktu alias tidak mengenal waktu."
Diandra yang mendengarkan perkataan Reino hanya bisa mengernyitkan dahi dan mencoba untuk mencerna apa maksudnya.
"Mas Ren, dokter Louis pergi lagi? apakah dia tidak capek baru sampai terus pergi lagi?"
"Mas Louis punya banyak kegiatan di kota ini mbak Diandra, dan selagi mas Louis pergi sebaiknya mbak Diandra menggunakan waktunya untuk beristirahat, jika mbak tidak menuruti dengan apa yang saya katakan saya jamin mbak Diandra akan menyesal."
Setelah mengatakan hal tersebut, Reino langsung pergi meninggalkan Diandra, tanpa Diandra sempat bertanya lebih jauh.
"Apa maksud perkataan mas Reino? terus kemana perginya dokter Louis? sungguh rumah ini sekali, tapi aku sama sekali tidak melihat tanda - tanda kehidupan di dalamnya
"
__ADS_1
Diandra bergumam kecil sambil meletakkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk, ruangan kamar yang dingin dan nyaman pada akhirnya membuat Diandra tertidur dengan lelap sekali sampai pada akhirnya satu suara berteriak sangat kencang dan langsung membuat Diandra terbangun.
"Diandra, bocah ndeso dimana kau!"
Teriakan kali ini terdengar lebih kencang dari teriakan yang sebelumnya, dan Diandra langsung keluar dari dalam kamarnya mencari sumber suara tersebut.
Dan betapa kagetnya Diandra ketika membuka pintu kamar melihat Louis dengan keadaan acak - acakan, dan berjalan sempoyongan.
"Ya dokter aku disini."
"Ayo bantu aku ke kamar!"
Diandra langsung terdiam dengan permintaan Louis, seumur hidupnya Diandra belum masuk ke dalam kamar laki - laki.
"Hei kenapa kau diam saja, ayo cepat!"
"Iiya dokter."
Seketika itu juga Diandra membantu Louis untuk masuk ke dalam kamarnya, tercium bau alkohol yang sangat kuat ketika Diandra memapah Louis masuk ke dalam kamarnya.
Bau yang menyengat tersebut membuat Diandra mual dan rasanya ingin pingsan, namun dia harus bertahan karena saat ini ada satu pria dewasa sedang di bantunya masuk ke dalam kamar.
Setelah sampai di dalam kamar, Diandra segera membaringkan Louis di tempat tidur, Diandra mendengar Louis meracau dan sesekali menyebut nama wanita bernama Lidya Natalia.
Diandra yang terus mendengarkan nama itu disebut sama sekali tidak peduli, dengan cekatan Diandra langsung membuka sepatu dan kaos kaki yang Louis gunakan.
Astaga, apakah ibu Sekar tau kelakuan anaknya di kota besar seperti ini? aku tidak pernah melihat dokter Louis seperti ini di Jogjakarta.
Diandra mengatakan hal tersebut dari dalam hatinya sambil melepaskan ke dua sepatu Louis.
"Sudah cukup, tidak mungkin aku diminta untuk melepaskan baju nya juga, itu bukan tugasku!"
Setelah mengatakan hal tersebut Diandra langsung keluar dari kamar dan membiarkan Louis meracau dengan menyebutkan nama Lidia Natalia berkali - kali.
Diandra masuk kembali ke dalam kamarnya, dan langsung menuju ke dalam kamar mandi.
"Sungguh bau alkohol itu tidak pernah enak, aku sampai pusing dan mual mencium nya."
Di depan wastafel Diandra mengatakan hal tersebut sambil menghadap ke kaca kecil.
"Tuhan kuatkan aku untuk aku bisa menghadapi majikan ku yang itu."
Dengan melangkahkan kaki keluar dari dalam kamar mandi, Diandra mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
Malam yang tenang, malam yang melelahkan bagi Diandra, sekaligus malam yang cukup membuatnya kaget ketika melihat Louis yang kembali dengan mabuk berat seperti itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan mu dokter Louis? kenapa kau sampai mabuk seperti itu? apakah ini gaya hidup mu?"