
Maafkan saya mbak Vivian."
"Tidak ada yang perlu untuk dimaafkan, karena ini biasanya dialami oleh gadis ndeso seperti mu yang tidak pernah mengerti akan nikmat nya kehidupan bebas.
Senyum sinis menjadi sapaan hangat yang diterima oleh Diandra pada pagi hari ini.
Hari ini pada akhirnya Louis berangkat ke kantor dengan di iringi senyuman hangat dari Vivian.
"Cepat pulang, aku bisa kesepian kau tinggal sendiri di dalam rumah sebesar ini."
Vivian mengatakan hal tersebut dengan manja kepada Louis di halaman depan saat Louis akan naik ke dalam mobil.
"Tentu saja aku akan cepat pulang, karena ada kau di sini sayang."
Setelah mengatakan hal tersebut Louis langsung menyambar bibir Vivian dan pagi itu terjadi ciuman hebat antara Louis dan juga Vivian meskipun mereka di saksikan oleh beberapa orang, namun seakan - akan mereka tidak peduli karena hasrat yang sudah tidak bisa di bendung lagi.
"Ayo."
Dengan kata - kata pendek Louis mengajak Diandra untuk masuk ke dalam mobil, mungkin bagi Louis saat ini Diandra hanya seperti patung saja, Louis yang seakan - akan tidak menganggap kehadiran Diandra membiarkan Diandra melihat banyak hal yang sangat membuatnya terkejut.
"Kenapa dengan wajah mu?"
Di dalam mobil sepanjang perjalanan menuju kantor Louis melihat wajah Diandra yang pucat.
"Entahlah mas, mungkin ini efek karena menstruasi."
Diandra mengatakan hal tersebut sambil memijit - mijit kepalanya.
"Issst dasar wanita selalu merepotkan
Mas Louis apa mas Louis tidak sadar jika mas Louis juga lahir dari rahim seorang wanita?
Diandra mengatakan hal tersebut dari dalam hatinya, karena Diandra melihat wajah Louis yang kini tidak bersahabat, ingin rasanya Diandra mengatakan hal itu secara langsung di depan Louis, namun sakit perut dan juga sakit kepala pada akhirnya membuat Diandra untuk tetap memilih untuk diam.
"Ayo turun, kau tetap bisa turun kan dari mobil?"
Sesampainya di parkiran kantor, Louis yang sudah lebih dulu turun dari dal mobil mengatakan hal tersebut dengan ketus kepada Diandra.
"Ya mas, aku masih bisa turun dan bekerja dengan baik."
Selesai mengatakan hal itu Louis langsung berjalan masuk ke dalam kantor, tanpa memperdulikan lagi keadaan Diandra.
Diandra yang pada akhirnya mulai terbiasa dengan tingkah Louis hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
"Selamat pagi Louis."
Deg
Pagi ini tepat di depan lobby Louis Kembali berpapasan dengan Lydia Natalia.
__ADS_1
"Hmmm."
Hanya itu yang Louis katakan kepada Lydia saat dirinya beradu pandangan mata dengan Lydia.
"Untuk apa wanita itu masih berkeliaran di dalam kantor kita Ren?"
Sambil menuju ke ruangannya Louis mengatakan hal tersebut.
"Pagi ini mbak Lydia ada rapat dengan bagian cover produk mas Louis."
"Ah jadi itu sebabnya dia berada di sini?"
"Ya mas."
"Ya sudah boleh pergi Ren."
"Baiklah mas Louis."
Setelah mengatakan hal tersebut Reino langsung keluar dari dalam ruangan dan kini Louis baru menyadari jika Diandra belum sampai di ruangan Louis.
"Astaga kemana bocah ndeso itu sebenarnya, lambat sekali dia sampai dalam ruangan ini."
Louis yang kesal karena Diandra belum sampai langsung mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Diandra.
Namun sebelum panggilan ponsel terjawab Louis melihat sudah ada yang membuka ruangannya dan Diandra muncul dengan wajahnya yang pucat.
" Hei lama sekali kau jalannya, sudah mirip seperti siput!"
Diandra yang sudah semakin pucat memilih tidak menjawab tapi tiba - tiba saja Diandra langsung terjatuh.
"Astaga, kenapa lagi anak ini."
Louis yang melihat Diandra jatuh pingsan segera mengangkat Diandra ke atas sofa.
Louis yang seorang dokter dengan cekatan segera melakukan pertolongan pertama kepada Diandra.
"Ada apa dengan mu sebenarnya?"
Begitu Diandra sadar Louis langsung menanyakan hal itu kepadanya.
"Mas, maafkan Diandra mas, tapi sungguh kali ini sakit sekali perut Diandra."
Louis yang mendengarkan perkataan Diandra kini langsung mengernyitkan dahinya.
"Apakah selalu seperti setiap bulan?"
Louis kembali mengatakan hal itu sambil mengambilkan air putih hangat untuk Diandra.
"Iya mas, namun beberapa waktu ini sakit nya semakin parah."
__ADS_1
Louis berjalan membawa air putih hangat tersebut mendekat kembali ke arah Diandra.
Louis memang melihat wajah pucat Diandra yang menahan sakit.
"Ini minumlah."
"Terima kasih mas Louis."
Dengan segera Diandra meneguk air putih hangat yang kini mulai masuk membasahi kerongkongan nya.
"Apakah kau pernah memeriksakan hal ini?"
Seketika itu juga Diandra langsung menatap tajam Louis dan langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku belum pernah memeriksakan ini mas, uang gaji ku habis untuk kebutuhan rumah, untuk obat ibuk, jadi mana mungkin aku ada uang untuk periksa hal - hal seperti ini, lagipula bukankah ini hal wajar yang di alami oleh wanita setiap bulan? akan merasakan sakit perut ketika tamu bulanan nya datang?"
Louis terdiam mendengarkan apa yang Diandra katakan.
"Sore nanti aku yang mengantarkan mu untuk periksa."
Deg
Diandra langsung kembali menatap tajam ke arah Louis ketika Louis tiba - tiba saja mengatakan hal itu kepadanya.
"Mas Louis serius mau memeriksakan keadaan aku? ini bukan termasuk hutang baru kan mas?"
Louis langsung tersenyum sinis ketika Diandra mengatakan hal itu.
"Aku tidak akan mengatakan hal ini untuk yang ke dua kalinya, jadi sebelum perkataan ini aku cabut sekarang aku bertanya apakah kau mau untuk aku periksakan ke rumah sakit nanti sore?"
"Iya mas Diandra mau asalkan ini tidak dihitung masuk ke dalam hutang baru Diandra."
Louis yang kembali mendengarkan perkataan Diandra kini hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kau bawel sekali jadi cewek yah, jika aku yang mengajaknya berarti kau tau kan?"
Diandra yang kini sudah mengetahui maksud dari Louis langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya mas Diandra mengerti sekali lagi terima kasih ya mas Louis."
"Sekarang kau tidur saja, tidak usah mendampingi aku bekerja, di sebelah dapur ada kamar tamu, istirahat lah disana, jika kau pingsan lagi aku yang akan repot."
Louis mengatakan hal tersebut sambil menunjukkan satu ruangan di samping dapur.
"Ya mas, maafkan Diandra yah mas hari ini ada tidak bisa membantu mas Louis."
"Hemm, pergilah."
Dengan cepat Louis melambaikan tangan kepada Diandra meminta Diandra untuk meninggalkan tempat bekerja Louis untuk menuju ke ruangan di samping dapur.
__ADS_1
Louis melihat punggung Diandra yang semakin menjauh masuk ke dalam kamar, entah mengapa tiba - tiba Louis teringat pesan sang ibunda Sekar untuk menjaga Diandra baik - baik di Jakarta.
Dan ada satu hal yang membuat Louis saat ini sebenarnya curiga dengan kondisi Diandra itu sebabnya Louis yang akan menemani Diandra untuk periksa.