
Louis kau ternyata sangat menuruti apa yang dikatakan oleh ibu mu, aku sungguh tidak akan pernah bisa kembali dengan mu Louis, karena ada satu syarat yang sudah pasti tidak bisa aku penuhi, aku sudah tidak perawan lagi."
Di parkiran mobil dan di dalam mobil Lydia mengatakan hal tersebut sambil menitikkan air mata
Satu syarat yang tidak bisa di penuhi oleh Lydia ketika dia ingin kembali kepada Louis.
Dengan perlahan pada akhirnya Lydia mengemudikan mobilnya untuk kembali pulang ke apartemen nya.
Malam hari ini, malam betul - betul terakhir kalinya Lydia mengharapkan Louis menjadi calon suaminya.
Kesalahan masa lalu yang berakhir dengan konsekuensi kini harus dengan lapang dada Lydia terima.
"Ah ada apa dengan ku? kenapa tadi tiba - tiba di restoran aku teringat masakan bocah itu?"
Malam hari ini Louis yang kini telah kembali ke apartemen seperti bukan menjadi dirinya sendiri, Louis yang kini baru menyadari bahwa masakan Diandra itu enak dengan spontan mengatakan hal tersebut kepada Lydia.
"Ah sudahlah untuk apa aku pikirkan hal bodoh ini berulang - ulang, lebih baik aku mandi dan langsung beristirahat, rapat ku esok hari lebih penting daripada hal - hal receh seperti ini."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal tersebut Louis melepaskan pakaiannya satu demi satu dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Di bawah guyuran air Louis berusaha untuk menghapus serpihan wajah Diandra yang terkadang mulai muncul di benak nya.
Sementara itu di kediaman Louis malam hari ini nampak satu gadis yang begitu berbunga - bunga karena perkataan bi Inah bahwa Louis meminta untuk Diandra terus di perhatikan.
"Besok aku akan pergi ke kantor mas Louis, aku akan membawakan makam siang kesukaannya, mas Louis pasti senang dengan makanan yang aku buatkan nanti, ya pasti, baiklah Diandra malam hari ini kau harus beristirahat dengan baik, agar esok hari kau bisa memasak makan siang yang spesial untuk mas Louis."
Setelah mengatakan hal tersebut Diandra mematikan lampu kamar, Diandra menarik selimutnya dan berusaha untuk memejamkan ke dua matanya sesegera mungkin, agar esok hari bisa mempersembahkan sesuatu hal yang spesial menurutnya.
Sungguh satu kepolosan yang saat ini ada di dalam diri Diandra, hanya karena kata - kata bi Inah kini membuat Diandra beranggapan bahwa Louis juga sepertinya membalas perasaannya.
Pagi ini Louis sudah terlihat di kantor dengan wajah yang segar siap untuk melakukan rapat penting ke dua dengan para direksi dan juga Lydia.
"Pagi Ren, bagaimana apakah semuanya sudah siap?"
"Tentu saja sudah siap mas."
__ADS_1
"Bagus, ayo Ren."
Louis yang sudah sangat percaya diri segera masuk ke dalam ruang rapat bersama dengan Reino.
Rapat penting yang menyangkut kemajuan perusahaan yang saat ini dia pimpin.
Sementara itu di kediaman Louis pagi ini ada seorang gadis yang dengan semangat bangun pagi dan mulai memasak beberapa makanan untuk nanti dia bawa ke kantor pujaan hatinya.
"Mbak Diandra belum sembuh benar, apa yang bisa bi Inah bantu mbak?"
Diandra yang sedang memotong sayuran hanya tersenyum dengan tawaran bi Inah.
"Tidak perlu bi, aku sudah sehat, luka jahitan ku juga sudah mulai kering, jadi aku akan baik - baik saja, bibi tenang saja."
Bi Inah yang mendengarkan perkataan Diandra kini hanya bisa menatapnya saja.
"Mau di bawa kemana makanan ini mbak Diandra?"
__ADS_1
"Oh makanan ini nanti aku akan membawakan untuk mas Louis makan siang bi."
Bi Inah langsung terdiam ketika mendengarkan jawaban Diandra, bi Inah lebih memilih untuk tetap diam sambil membantu Diandra membersihkan kotak makan untuk di isi masakan Diandra.