NONA DIANDRA

NONA DIANDRA
MERRY MURKA


__ADS_3

Deg


Sungguh seperti petir yang menyambar tubuh Diandra ketika Diandra mendengarkan kabar ini.


"Mengundurkan diri maksud pak Dimas?"


Dengan segera Dimas langsung menganggukkan kepalanya.


"Jika saya boleh tau apa salah saya pak? kenapa bapak tiba - tiba memecat saya?"


Diandra yang masih sangat kaget dengan keputusan sepihak dari Dimas mencoba untuk bertanya kembali.


"Karena kebetulan cafe kita sedang mengurangi beberapa karyawan.


"


Deg


Sungguh apa yang dikatakan oleh Dimas kini menjadi tidak adil bagi Diandra.


"Tapi pak, atas dasar apa cafe mengeluarkan karyawan? selama ini cafe sangat ramai dan pengunjungnya sangat banyak."


"Aku tidak perlu menjelaskan secara detail kan mengapa aku harus melakukan hal itu? di sini siapa atasannya kau atau aku?"


Deg


Rasa sedih kini kembali menyelimuti hati Diandra.


"Tapi pak saya sangat membutuhkan pekerjaan ini pak, saya mohon jangan pecat saya."

__ADS_1


Air mata Diandra kini mulai mengalir ketika Diandra mengatakan hal tersebut.


"Maafkan saya Diandra tapi keputusan saya tetap tidak dapat di ganggu gugat lagi, jadi saya harap kau juga bisa menerimanya dengan baik."


Dengan menahan amarah kini Diandra hanya bisa ******* - ***** ujung roknya saja.


"Ini gaji mu selama enam bulan ke depan dan bonus, kau bisa pakai untuk memulai kehidupan baru mu nanti."


Dimas memberikan amplop cokelat panjang yang berisi uang kepada Diandra.


"Pak Dimas apakah keputusan bapak ini tidak dapat di ubah lagi?"


Dengan cepat Dimas langsung menggelengkan kepalanya.


"Maaf Diandra tapi keputusan saya tetap sama."


Dimas yang melihat kepergian Diandra hanya bisa memandangnya saja..


"Diandra kau kenapa?"


Merry begitu kaget ketika melihat Diandra ke belakang sambil menangis.


"Pak Dimas Mer."


"Iya ada apa dengan pak Dimas Diandra?"


"Hari ini pak Dimas memecat aku Mer."


Sontak Merry langsung membelalakkan mata ketika mendengarkan perkataan Diandra.

__ADS_1


"Apa! di pecat?"


Merry berteriak dengan sangat kencang dan itu membuat para karyawan yang lainnya saling pandang.


"Ssst Mer jangan keras - keras Mer, aku malu."


"Maafkan aku Diandra, sungguh aku saat ini sangat emosi dengan apa yang telah pak Dimas lakukan, apa alasannya pak Dimas melakukan hal itu?"


Diandra langsung menceritakan hal ini kepada Merry tentang keputusan Dimas yang tiba - tiba saja memecat Diandra.


"Sungguh keterlaluan!"


Merry langsung berteriak dengan kencang ketika mendengarkan semua cerita dari Diandra.


"Ssst pelan Mer pelan banyak orang di sini."


"Maafkan aku Diandra, tapi ini sungguh alasan yang sungguh tidak masuk akal, pengurangan karyawan? bagaimana bisa ? setiap hari omset cafe selalu bagus dan tiba - tiba saja pak Dimas mengatakan hal itu ? sungguh aku harus menghadap ke pak Dimas."


Diandra sangat kaget atas reaksi Merry yang hari ini sangat murka, Merry sahabatnya tersebut sangat marah dengan keputusan sepihak dari Dimas.


"Mer jangan, aku mohon jangan Mer."


Diandra kini malah mencoba menenangkan emosi Merry.


"Aku mohon jangan,. aku sudah menerima keputusan pak Dimas, jadi akan menjadi hal yang dia - sia ketika kau menghadapi nya nanti."


Hai Hai pembaca novel Nona Diandra, terima kasih sudah setia sampai bab ini.


Jangan lupa voter, like yang banyak yah agar author nya semangat. Yuk lanjut bab selanjutnya yah😘

__ADS_1


__ADS_2