NONA DIANDRA

NONA DIANDRA
MELEPASKAN RASA YANG TERTINGGAL


__ADS_3

Ya, gadis itu sudah tidak memiliki orang tua dan dia juga tidak memiliki siapa - siapa di Jakarta."


"Ah seperti itu rupanya."


Lydia langsung terdiam dengan ucapan Louis.


"Ada apa dengan mu Lydia?"


"Tidak ada apa - apa Louis, hanya mbak Diandra itu mirip dengan ku."


Louis langsung terdiam dengan apa yang telah dikatakan oleh Lydia.


"Kau berbeda."


Deg


Tatapan tajam Louis terhadap Lydia kini mampu membuat Lydia tidak berkonsentrasi.


"Apa maksud mu Louis?"


"Ya kau berpendidikan, kau dari keluarga terpandang, kau pintar berbisnis, kau lebih dewasa darinya, kau sangat jauh dari Diandra, kau lebih dari dia sangat lebih dari dia."


Jantung Lydia berdegup sangat kencang ketika Louis memuji dirinya.

__ADS_1


"Terima kasih Louis, aku yang tidak sadar bahwa kelebihan ku banyak."


"Ya Lydia hampir semua orang memang tidak bisa menilai dirinya sendiri, namun orang lain yang bisa melakukan hal itu."


Lydia langsung tersenyum dengan perkataan Louis, satu pria dewasa yang pernah singgah di dalam kehidupan masa lalunya.


"Louis nanti malam apakah kau ada acara?"


"Kenapa kau mengatakan hal itu?"


"Jika kau tidak ada acara, aku ingin mentraktir mu makan, sebagai ucapan terima kasih karena kau telah menemani ku kemarin ketika di rumah duka."


Louis terdiam sejenak, rasanya ingin dia tidak mengambil ajakan makan malam tersebut, namun demi untuk menghindar dari Diandra pada akhirnya Louis harus mengambil satu keputusan.


"Baiklah, jadi kau mau mentraktir ku makan dimana?"


"Bagaimana kalau pizza di sana?"


Louis yang sangat menyukai pizza langsung menunjuk satu restoran pizza yang ada di seberang jalan, restoran pizza yang terlihat dari jendela ruangannya saat ini.


"Boleh, jadi yang dekat kantor saja?"


"Ya tentu, kau jangan berlagak lupa, esok hari kita harus menghadiri rapat besar bukan? aku hanya tidak ingin bangun terlambat karena malam ini kita pergi terlalu jauh."

__ADS_1


Lydia yang sejak dulu mengerti bahwa Louis adalah laki - laki perfeksionis di dalam setiap pekerjaan nya kini hanya bisa tersenyum.


"Baiklah, deal nanti malam aku akan menjemputmu di sana."


Lydia mengatakan hal tersebut sambil mengulurkan tangannya untuk membuat satu perjanjian dengan Louis.


"Deal."


Dan Louis pun menerima uluran tangan Diandra.


"Baiklah sepertinya karyawan ku telah selesai, aku harus segera kembali ke kantor, sampai jumpa nanti malam Louis."


"Silahkan Lydia."


Lydia langsung berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan Louis.


Kini hanya tinggal Louis seorang diri di dalam ruangan tersebut, matanya menatap nanar bangunan megah dari kaca jendela nya.


"Pizza, ya pizza itu adalah tempat kita pertama kali bertemu Lydia, apakah kau ingat hari itu? masa itu? dan.."


Louis langsung berhenti berkata - kata, Louis bangkit dari tempat duduknya dan kembali tenggelam di dalam setiap pekerjaan.


"Aku tidak boleh kembali kepada masa lalu, bagaimana pun saat ini hubungan ku dengan Lydia sudah berakhir, pantang bagiku untuk kembali kepada orang yang telah menyakiti hati ku."

__ADS_1


Louis mengatakan hal itu dengan menyandarkan kepalanya di kursi serta memejamkan ke dua matanya.


Saat ini bayang - bayang masa lalu kembali teringat di dalam benaknya, Negara Swiss menjadi awal kisah cinta Lydia dan Louis namun di Negara tersebut juga hubungan mereka pada akhirnya harus kandas, rasa yang masih tertinggal di dalam diri Louis saat ini sedang berusaha untuk di lepaskan.


__ADS_2