NONA DIANDRA

NONA DIANDRA
AKU TIDAK PERAWAN


__ADS_3

Kenapa rasa makanan di tempat ini sekarang tidak enak ya?"


Lydia langsung mengernyitkan dahi ketika mendengarkan pertanyaan Louis.


"Tidak enak? tapi ini masih dengan koki yang biasanya dan masakan yang kau makan adalah masakan yang sama."


Dan detik itu juga Louis baru sadar jika pizza buatan Diandra lebih enak.


Louis kembali mengambil dan menguyah lagi pizza tersebut namun lidahnya tetap tidak bisa berbohong.


"Louis apakah kau baik - baik saja?"


Lydia yang sejak tadi melihat perubahan wajah Louis yang terus menerus kembali menanyakan hal itu lagi.


"Ah tidak ada apa - apa Lydia, namun sepertinya pizza yang disini sekarang sudah tidak enak lagi."


"Tidak enak lagi apa maksudnya?"


Lydia yang masih belum mengerti kini langsung berhenti makan dan mencoba mencerna lebih lagi perkataan Louis.


"Ya tidak enak lagi, enak yang biasa di buatkan oleh Diandra."


Deg


Lydia langsung terdiam dengan perkataan Louis yang penuh dengan terus terang pada malam hari ini.

__ADS_1


"Mbak Diandra sering membuatkan mu pizza?"


Dengan menganggukkan kepalanya Louis mencoba kembali memasukkan pizza tersebut ke mulutnya untuk lebih lagi menyakinkan lidahnya.


"Panggil saja Diandra Lid, dia lebih muda darimu kok."


"Oh seperti itu, aku kira Diandra itu hampir seumuran aku?"


Louis yang mendengarkan perkataan Lydia langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak, usianya masih muda mungkin sekitar usia dua puluhan di bawah dua puluh lima tahun."


"Wah gadis muda yang luar biasa yah Louis."


Seketika itu Louis terdiam, baru kali ini Louis mendengarkan ada orang yang memuji - muji Diandra.


"Tentu luar biasa, gadis muda yang sudah bekerja."


Louis langsung tersenyum sinis ketika mendengarkan perkataan Lydia.


"Ya langsung bekerja dan bukan lulusan perguruan tinggi yang terkenal."


"Louis boleh aku bertanya sesuatu hal kepada mu?"


"Tentu saja kau boleh mengatakan hal itu langsung."

__ADS_1


"Apakah kau memandang wanita betul - betul dari latar belakang pendidikan? bibit, bobot, bebet?"


"Ya Lydia, aku menyukai wanita yang pintar, wanita yang tidak memalukan jika aku ajak bertemu dengan para pengusaha, dan ibuk meminta ku untuk mendapatkan wanita yang masih perawan."


Deg


Seketika Lydia langsung meletakkan makanan dan menatap Louis dengan sangat dalam.


"Perawan? ibuk meminta wanita perawan? lalu apakah kau akan menuruti semua hal ibu katakan?"


"Jika itu untuk kebaikan ku kenapa tidak."


Dan detik itu juga Lydia langsung mengerti bahwa memang hubungan nya dengan Louis sudah betul - betul berakhir, detik itu juga Lydia menyadari bahwa usaha nya untuk membuat Louis kembali sudah kandas.


"Lydia waktu sudah malam, sebaiknya kita pulang saja, ingat besok kita harus datang pagi - pagi ke kantor untuk rapat."


Louis mengatakan hal tersebut sambil mengusap mulutnya dengan tissue yang di sediakan di meja.


"Ya kau benar Louis kita harus beristirahat, ayo kita pulang."


Tanpa banyak berkata - kata, Lydia langsung berdiri dari tempat duduknya dan berpisah di restoran tersebut dengan Louis.


"Louis kau ternyata sangat menuruti apa yang dikatakan oleh ibu mu, aku sungguh tidak akan pernah bisa kembali dengan mu Louis, karena ada satu syarat yang sudah pasti tidak bisa aku penuhi, aku sudah tidak perawan lagi."


Di parkiran mobil dan di dalam mobil Lydia mengatakan hal tersebut sambil menitikkan air mata

__ADS_1


Satu syarat yang tidak bisa di penuhi oleh Lydia ketika dia ingin kembali kepada Louis.


__ADS_2