Nona Mia

Nona Mia
KARMA?


__ADS_3

Bian sedang mengendarai motornya dengan santai melewati jalanan yang lengang menuju ke arah kampung halamanannya.


Bian sedang mendapat libur dari pekerjaannya sebagai kurir pengantar makanan di kota, jadilah ia manfaatkan hari ini untuk pulang ke kampung halamannya sekedar mengunjungi makam sang nenek


Hanya ada jurang dan tanah kosong di kiri kanan jalan tersebut.


Bian sedikit berdendang dengan suara sumbangnya menyanyikan beberapa lagu yang ia sendiri tak hafal liriknya sekedar untuk mengusir rasa sepi di perjalanannya kali ini.


Hari sudah sore dan sebentar lagi langit akan berubah gelap. Entah mengapa jalan ini begitu sepi dan mencekam, dan sejak tadi belum ada satu kendaraan pun yang melintas.


Saat berbelok di tikungan berikutnya, mata Bian menangkap ada asap yang mengepul dari balik pepohonan dan semak belukar di sisi jalan.


Ini aneh, tidak ada rumah warga di sekitar tempat ini, dan asap apakah itu?


Bian yang merasa penasaran memilih untuk turun dari motor bututnya dan melihat sebentar ke sumber asap tadi.


Namun saat Bian semakin dekat, Bian melihat sebuah pemandangan yang membuatnya terbelalak ngeri.


Ada sebuah mobil yang terbalik di semak-semak.


Dan bagian bawah mobil yang terbalik tersebut mengeluarkan asap


Apa mobil itu baru saja mengalami kecelakaan?


Bian mendekati mobil yang mungkin akan meledak sewaktu-waktu tesebut dan memastikan bahwa tidak ada penumpang yang tertinggal.


Namun yang Bian lihat selanjutnya, membuat pria itu harus mengumpat berulang kali.


"Sial!!" sekarang Bian merutuki dirinya sendiri yang selau saja kepo.


Pemandangan di depannya ini sungguh membuat jiwa penolong Bian meronta hebat. Bian bisa saja meninggalkan mobil beserta penumpangnya ini dan berpura-pura tak pernah melihatnya. Namun, apa Bian setega itu?


Seorang gadis dengan wajah bersimbah darah, pingsan di jok bagian belakang mobil.


Sekuat tenaga Bian memecahkan kaca mobil untuk mengeluarkan gadis yang terlihat masih bernafas tersebut.


Rambut gadis itu berserakan menutupi wajahnya.


Kaca mobil sudah berhasil Bian pecahkan, bergegas Bian menarik gadis itu keluar dari dalam mobil.


Masih ada satu penumpang lagi yang harus Bian selamatkan dari kursi pengemudi.


Namun terlambat, tiba-tiba api sudah membesar dan membakar mobil tersebut.


Bian hanya mematung menyaksikan mobil yang kini terbakar hebat di hadapannya.


Namun Bian segera tersadar dan sedikit menyeret gadis yang pingsan tadi untuk menjauh dari mobil yang mungkin akan segera meledak tersebut.


Tak berselang lama ada beberapa orang yang datang dan membantu membawa gadis tadi ke pusat kesehatan masyarakat yang masih cukup jauh dari lokasi kejadian.


Bian ikut pergi untuk memastikan kondisi gadis itu serta identitasnya.


*****


Langit sudah berubah menjadi hitam, menandakan jika malam sudah menjelang.


Bian masih duduk di deretan kursi yang ada di depan IGD sebuah puskesmas. Atau lebih tepatnya satu-satunya puskesmas yang ada di daerah ini.


"Mas, istrinya sudah sadar" seorang perawat tiba-tiba memberi kabar yang membuat Bian terlonjak kaget.


Hah, istri?


Sejak kapan Bian punya istri?

__ADS_1


Namun Bian tetap masuk ke ruangan serba putih dengan bau obat yang sangat menyengat tersebut


Saat melihat gadis yang tadi ia tolong dan kini terbaring di atas ranjang perawatan, Bian kembali terlonjak kaget.


"Apa? Tidak mungkin aku menyelamatkan nona sombong nan galak ini" Gumam Bian tak percaya.


"Apa kamu suami aku?" Tanya gadis itu tiba-tiba, yang sontak membuat Bian langsung menepuk dahinya sendiri.


*****


Flashback on


Mia masih fokus pada tablet di tangannya.


Supir yang membawa mobil Mia mengatakan, jika mereka akan menempuh jalur alternatif saja agar terhindar dari kemacetan.


Mia sendiri tidak mau peduli.


Yang Mia tahu, Mia ingin secepatnya sampai di hotel agar ia bisa secepatnya merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur yang empuk.


Namun entah apa yang terjadi selanjutnya, Mia juga tidak tahu.


Yang saat itu Mia ingat adalah mobil yang tiba-tiba keluar dari jalan utama, lalu terbalik dan berguling-guling ke lahan kosong yang lebih mirip jurang tersebut.


Mobil baru berhenti setelah menabrak sekumpulan pohon di ujung lahan kosong tersebut.


Pandangan Mia terasa berputar dengan cepat sebelum akhirnya semua menjadi gelap. Mia pingsan dengan wajah bersimbah darah.


Flashback off


*****


Mia mengerjapkan matanya beberapa kali di ruangan serba putih dengan bau obat yang menyengat tersebut.


Kepalanya terasa sangat sakit, dan seluruh tubuhnya terasa nyeri.


Apa yang terjadi?


Di mana dirinya sekarang?


"Suster saya di mana?" Mia bertanya pada seorang perawat yang berpakaian serba putih, yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.


"Anda di puskesmas, nyonya. Tadi anda mengalami kecelakaan, dan suami anda yang membawa anda ke sini. " Jelas perawat itu panjang lebar.


"Kecelakaan? Suami? Saya punya suami, suster?" Tanya Mia tak percaya.


Dan kecelakaan macam apa sebenarnya yang baru saja di alami Mia?


Kenapa Mia tak mengingatnya sama sekali?


"Apa anda benar-benar tak mengingat semuanya?" Tanya perawat itu sedikit khawatir.


Mia menggeleng.


"Nama anda? Anda pasti mengingatnya bukan?" tanya perawat itu lagi.


Mia terdiam


Nama?


'Siapa namaku? Aku bahkan tak ingat siapa namaku?' Mia bergumam dalam hati dan berusaha keras mengingat namanya sendiri.


Namun yang terjadi kepalanya malah terasa sakit serasa ditusuk ribuan jarum saat Mia berusaha mengingat namanya.

__ADS_1


"Nama saya siapa, suster" tanya Mia akhirnya.


Dan perawat di depan Mia tersebut tampak terkejut.


"Apa anda benar-benar tak mengingat nama anda, nyonya?" Perawat tadi malah balik bertanya dan memastikan sekali lagi.


Mia menggeleng.


"Baiklah anda bisa menanyakannya nanti pada suami anda, nyonya" jawab perawat itu akhirnya.


Tak berselang lama, Bian masuk ke dalam ruangan tersebut.


Mia yang melihat kedatangan pria tampan itu ke dalam ruangan langsung bisa menebak.


'Apa itu suamiku? Kenapa dia tampan sekali' gumam Mia bertanya pada dirinya sendiri.


Bian masuk ke dalam ruangan dan mendekat ke arah Mia,


Namun nampaknya pria itu terkejut setelah melihat Mia.


"Apa kamu suamiku?" Tanya Mia to the point yang sontak langsung membuat Bian menepuk keningnya sendiri.


Bian benar-benar ingin lari dari ruangan terkutuk ini.


Namun mengapa wanita ini tiba-tiba bergelayut di lengannya?


"Hei nona, aku bukan suamimu. Lepaskan tanganku!" Ucap Bian dengan nada galak. Bian masih berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman Mia.


"Apa kita sedang ada masalah? Kenapa kamu mau membuangku?" Tanya Mia dengan nada sedih.


Bian benar-benar tak percaya dengan semua ini.


Bagaimana bisa?


Wanita sombong ini kenapa mendadak mengira kalau Bian adalah suaminya?


"Suster, apa yang terjadi pada gadis ini?" Tanya Bian sedikit emosi.


Mia masih belum melepaskan cengkeramannya di lengan Bian.


Bian memilih untuk menyerah dan membiarkannya saja.


Kuku gadis ini setajam silet, kalau Bian masih nekat menyelamatkan lengannya dari cengkeraman kuku macan mak lampir ini, bisa-bisa kulitnya akan terkelupas dan dirinya mungkin akan mati bersimbah darah.


"Istri anda sepertinya mengalami amnesia, Pak. Peralatan di sini tidak lengkap. Mungkin anda bisa membawanya ke rumah sakit yang ada di kota untuk lebih jelasnya" perawat berbaju serba putih tersebut mencoba menjelaskan pada Bian.


"Astaga! Berapa kali aku bilang. Dia bukan istriku!" Bentak Bian dengan nada emosi.


Perawat tadi tampak ketakutan.


"Maaf, Pak. Tapi bukankah anda yang membawanya ke sini tadi?" Ucap perawat itu takut-takut.


Bian baru saja akan menjawab, namun isak tangis dari Mia membuat Bian mengurungkan niatnya.


"Hiks...hiks...meskipun aku tidak bisa mengingat apapun, aku yakin kalau kamu itu suamiku. Kenapa kamu ingin membuangku?" Tanya Mia sesenggukan.


Bian menggeram kesal.


Bian ingin pergi saja, tapi mendadak Bian ingat kalau wanita di hadapannya ini adalah nona kaya.


Mungkin Bian bisa sedikit memanfaatkannya.


Lagipula, Bian masih menyimpan dendam juga pada wanita ini karena kejadian tempo hari saat motornya hampir saja di tabrak oleh mobil nona kaya ini.

__ADS_1


Bian tentu saja juga ingat saat bosnya marah-marah karena motor yang Bian pakai rusak.


Baiklah, mungkin ini saatnya Bian balas dendam pada wanita amnesia di depannya ini.


__ADS_2