
Seorang gadis kecil yang menangis di dekat pintu masuk pusat permainan, cukup bisa menyita perhatian Galen yang sedari tadi di gandeng erat oleh Mia.
"Mommy!" Galen menarik-narik tangan sang mommy.
"Apa sayang?" Mia berlutut dan bertanya pada sang putra.
"Lihat deh! Kenapa dia menangis?" Galen menunjuk ke arah gadis kecil yang menangis di dekat pintu masuk.
Mia langsung mengarahkan pandangannya ke arah yang di tunjuk Galen. Seorang gadis kecil yang sepertinya sebaya dengan Galen terlihat sedang menangis kebingungan.
Dengan cepat Mia dan Galen menghampiri gadis kecil itu.
"Halo, anak cantik. Kenapa menangis?" Mia mengusap airmata gadis kecil tersebut dan sedikit merapikan rambut yang berserakan di wajah anak tersebut.
"Mama... mama tidak ada..." ucap gadis kecil itu terbata-bata di antara isak tangisnya.
Mia langsung bisa menebak jika gadis ini pastilah terpisah dari kedua orangtuanya.
"Ya sudah jangan menangis ya! Nanti tante bantu cari mama. Nama kamu siapa?" Tanya Mia lagi.
"Rachel," jawab gadis kecil itu masih terisak.
"Hai, Rachel. Aku Galen. Ini buat kamu. Jangan menangis lagi ya!" Galen menyodorkan sebuah permen kapas yang baru saja di belikan oleh Mia pada Rachel.
Senyuman langsung terkembang di bibir Rachel,
"Terima kasih Galen," ucap gadis kecil tersebut.
Mia menggendong Rachel dan menggandeng Galen menuju ke pusat informasi.
Mia akan melaporkan pada security tentang gadis kecil yang kehilangan ibunya.
Kenapa orang tua dari gadis kecil ini bisa sangat ceroboh?
Mia tak berhenti menggerutu dalam hati
*****
"Steve, dimana Rachel?" Eve sudah kalang kabut karena Rachel yang tiba-tiba tidak lagi ada di sampingnya.
Tadi Eve masih menggandeng putrinya itu, tapi sekarang Rachel sudah tidak ada.
Steve dan Eve juga sudah kembali dan mencoba mencari ke tempat awal mereka kehilangan Rachel, tapi gadis itu sudah tidak ada.
Tadinya Eve dan Steve berkunjung ke mall ini untuk melihat kedai es krim Bian yang hampir jadi. Tapi yang terjadi mereka malah kehilangan Rachel.
"Kamu tenang dulu, Eve! Kita akan lapor ke security dan Rachel pasti di temukan," Steve mencoba berpikir positif meskipun ia sendiri juga khawatir.
Pasangan suami istri itu berjalan cepat menuju pusat informasi.
__ADS_1
Namun saat tinggal beberapa langkah menuju pusat informasi, Steve dan Eve sudah mendengar pengumuman tentang anak hilang bernama Rachel.
Merekapun mempercepat langkah untuk segera menemui Rachel yang kini sudah ada di pusat informasi.
Saat Eve dan Steve tiba, terlihat Rachel sedang bersenda gurau dengan seorang anak lelaki yang sepertinya sebaya dengan Rachel.
Ada juga seorang wanita di dekat dua anak tersebut yang kini berdiri membelakangi Eve dan Steve.
"Rachel!" Eve langsung memeluk putri kecilnya tersebut.
Perasaan lega langsung melingkupi hati ibu muda tersebut.
Mia sudah selesai berbicara dengan petugas di bagian informasi. Nona direktur itu berbalik dan hendak mengomeli orang tua dari Rachel karena sudah ceroboh meninggalkan putri kecil mereka di pusat perbelanjaan sebesar ini.
Namun, saat Mia berbalik dan langsung bertatap muka dengan Steve seketika Mia langsung mengurungkan niatnya tersebut. Nona direktur itu hanya mematung
"Mia?" Steve yang terlebih dahulu menyapa Mia.
"Hai, Steve," Mia sedikit tergagap membalas sapaan dari Steve.
Eve sudah bangun berdiri sambil menggendong Rachel.
"Nona Mia," Eve ikut-ikutan menyapa Mia dan tentu saja hal itu semakin membuat Mia menjadi salah tingkah.
"Apa kalian orang tua dari Rachel?" Tanya Mia berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Iya, kami orangtua Rachel. Terima kasih karena sudah menolongnya dan melapor pada security," jawab Steve tulus.
"Mommy, Galen ngantuk," panggilan dari Galen membuat Eve dan Steve sedikit terkejut.
Pasangan suami istri tersebut langsung melihat ke arah Galen.
Mia berjongkok untuk berbicara pada Galen,
"Kita pulang sekarang, sayang? Rachel sudah bertemu mama dan papanya," ujar Mia dengan suara lembut.
Sedangkan Eve dan Steve masih sama-sama terperangah,
Nona Mia sudah punya seorang anak?
Mia sudah berdiri seraya menggendong Galen yang terus saja mengucek matanya karena mengantuk.
"Apa itu putramu, Mia?" Tanya Steve yang memilih untuk bertanya demi mengusir rasa penasarannya.
Mia mengangguk,
"Namanya Galen. Dan iya, dia putraku." Jawab Mia singkat.
Eve masih memperhatikan dengan seksama wajah Galen yang terlihat familiar.
__ADS_1
"Kau bahkan tidak mengundang kami saat menikah, dan tiba-tiba putramu sudah sebesar ini," timpal Steve seraya tertawa kecil.
Mia mengulas sebuah senyuman di bibirnya,
"Aku belum menikah, Steve! Aku pasti mengundang kalian jika aku menikah nanti," sahut Mia masih tersenyum.
Steve langsung terdiam.
"Baiklah aku pulang duluan. Galen sudah mengantuk. Lain kali hati-hati menjaga Rachel dan jangan sampai putrimu itu hilang lagi!" Pesan Mia seraya berlalu dari hadapan Eve dan Steve yang masih mematung.
Berbagai macam pertanyaan mendadak bercokol di benak Eve dan Steve.
Nona Mia belum menikah tapi putranya sudah sebesar Rachel?
Apa itu hanya anak angkat?
"Perasaanku saja atau wajah Galen memang mirip dengan abang Bian?" Eve bertanya sedikit ragu pada Steve.
"Apa maksudmu, Eve?" Steve tak mengerti.
Pria itu mengambil alih Rachel dari gendongan sang istri.
"Wajah putra nona Mia tadi. Aku lihat sekilas mirip dengan abang Bian," ujar Eve sekali lagi.
"Mungkin hanya kebetulan," sahut Steve seakan tak peduli.
Berbeda dengan Eve yang masih terus bertanya-tanya dalam hati.
Bagaimana mungkin nona Mia yang belum menikah sudah memiliki seorang putra seusia Rachel yang wajahnya mirip dengan abang Bian?
Sedangkan selama lima tahun kemarin abang Bian ada di Australia.
Tidak mungkin 'kan nona Mia menyusul abang Bian ke Australia dan menjalin sebuah hubungan?
Abang Bian bahkan tidak pernah bercerita apapun mengenai nona Mia ataupun wanita lain yang dekat dengannya.
Ah, kenapa ini sangat membingungkan?
.
.
.
Ciyee ada yang udah mulai menebak-nebak jalan ceritanya 😄😄
Iya, iya nanti bakal kek gitu ceritanya.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕