
Mia turun dari taksi yang mengantarnya pulang kerumah mama dan papa.
Mama Alin sedang duduk termenung di teras rumah, entah apa yang sedang di pikirkan oleh wanita paruh baya tersebut.
"Mbak, bayar dulu taksinya!" Sopir taksi yang tadi mengantar Mia meminta bayaran.
Mia mendengus.
Baru hari ini Mia jadi gadis kere yang tak memegang uang sepeserpun.
"Minta saja pada mama saya!" Ujar Mia sambil berlalu dan masuk ke halaman rumahnya. Supir taksi tadi mengekori Mia untuk meminta bayaran taksi yang belum di bayar oleh Mia.
Mama Alin yang masih termenung di teras, terkejut dengan kedatangan Mia dan seorang supir taksi?
"Mia? Kamu dari mana saja, Nak?" Mama Alin langsung memeluk putri sambungnya tersebut.
Perasaan haru dan lega mennyelimuti hati mama Alin.
"Ma, tolong bayarin taksi Mia!" Ucap Mia lirih sambil berlalu masuk ke dalam rumah.
Mama Alin segera menemui supir taksi yang tadi mengantar Mia dan memberikan beberapa lembaran uang berwarna merah.
Tak lupa mama Alin juga mengucapkan terima kasih kepada supir taksi tersebut.
Setelah menyelesaikan urusan dengan supir taksi, bergegas mama Alin masuk ke dalam rumah menyusul Mia.
"Mia!" Panggil mama Alin pada Mia yang sudah akan menaiki tangga menuju ke kamarnya.
"Mia lelah, Ma. Mia ingin istirahat," jawab Mia malas. Kepala Mia kembali terasa sakit sekarang.
"Mama dan papa khawatir sama kamu, Mia! Apa kepalamu baik-baik saja? Mama panggilkan dokter ya," tawar mama Alin yang kini sudah berdiri di dekat Mia.
"Terserah mama saja, Mia mau mandi dulu," jawab Mia sambil berlalu meninggalkan mama Alin.
Gadis itu segera masuk ke dalam kamarnya.
Mia ingin berendam dengan air sabun dan antiseptik. Terlalu banyak virus dan kuman yang menempel di tubuhnya karena pria sialan bernama Bian.
*****
Papa Andri yang baru sampai langsung menemui sang istri untuk menanyakan keberadaan Mia.
Ya, setelah mendapat telpon dari Alin yang memberitahu bahwa Mia sudah pulang, Andri langsung buru-buru pulang untuk menemui sang putri.
"Mia mana, Ma?" Tanya Andri pada Alin yang menyambutnya pulang.
"Masih di kamar. Mama sudah memanggil dokter juga," jawab Alin sambil membantu Andri melepaskan jasnya.
"Apa Mia terluka?" Tanya Andri khawatir.
"Kepalanya di perban, jadi mama khawatir, Pa. Dan Mia tidak cerita apa-apa. Dia langsung masuk ke kamar pas baru datang." Mama Alin kembali merasa cemas.
Dokter keluarga itu sudah datang sekarang. Andri dan Alin segera menyambutnya dan mengobrol sebentar di ruang tengah.
Dokter itu adalah teman dari Andri dan Alin.
__ADS_1
Dokter Ben namanya.
*****
Mia masih membenamkan dirinya di bathtube yang penuh dengan air sabun. Sudah hampir satu jam gadis itu berendam, tapi sepertinya Mia masih enggan untuk menyudahi ritualnya kali ini.
Mia memeriksa satu persatu bagian tubuhnya.
Telapak tangannya terdapat banyak bekas luka karena hampir dua pekan dirinya harus mencuci secara manual menggunakan papan penggilas sialan itu.
Mia berkali-kali mengumpat dan mengatai Bian yang memperlakukannya seperti pembantu.Bian bahkan hanya memberi makan singkong rebus sangit pada Mia.
Dasar pria licik!
"Mungkin aku harus melakukan operasi plastik pada tanganku untuk membuatnya mulus lagi. Heh! Dasar Bian sialan!" Mia mengumpat sekali lagi.
Belum lagi rambut indah Mia yang sekarang kusut tak karuan dan baunya juga jadi aneh. Mungkin besok Mia harus menghabiskan waktu di salon langganannya berjam-jam agar rambutnya kembali seperti semula.
Buang - buang waktu saja.
Terakhir Mia meraba bibirnya sendiri, sesaat Mia kembali ingat ciuman Bian yang hangat dan ...
Tidak! Tidak! Tidak!
'Kendalikan dirimu, Mia! Pria itu brengsek.' Mia menggeleng-gelengkan kepalanya demi mengusir bayangan tentang ciuman terkutuk itu.
Mia adalah wanita elegant, bagaimana mungkin dirinya bisa berciuman dengan pria gembel dan kere sejenis Bian.
Ya meskipun Mia akui kalau wajah Bian itu lumayan tampan, dan ciumannya sungguh menghangatkan. Mungkin jika pria itu di dandani ala-ala eksekutif muda ketampanannya akan semakin terlihat. Tapi tetap saja Bian itu pria brengsek dan kere.
"Mia," suara papa Andri disertai ketukan pintu kamarnya, sukses membuyarkan semua lamunan Mia.
Mia memutar bola matanya. Mungkin seharusnya Mia tadi pulang saja ke apartemennya agar tidak ada yang menganggu ritual mandinya.
Tak berselang lama, terdengar pintu kamar yang di buka.
Ya, sang papa pasti sedang khawatir sekarang karena Mia yang tak kunjung turun ke bawah untuk menemuinya.
"Mia, apa kamu di dalam?" Papa Andri mengetuk pintu kamar mandi.
"Mia belum selesai membersihkan diri, Pa! " jawab Mia malas.
Mia paling tidak suka saat ritual mandinya di ganggu seperti ini.
"Paman Ben menunggumu di bawah. Apa ada luka serius di tubuhmu?" Tanya papa Andri lagi. Ada nada kekhawatiran di sana.
"Mia baik-baik saja, Pa. Mia akan ketemu paman Ben besok saja. Mia masih ingin berendam sekarang," jawab Mia dengan nada ketus.
Bau busuk yang menempel di badan Mia sepertinya belum hilang. Mia kembali menuangkan sabun ke dalam bathtube.
Astaga!
Apa sebenarnya yang sudah dilakukan Bian brengsek itu hingga badan Mia berbau busuk seperti ini?
Papa Andri menghela nafas.
__ADS_1
Putrinya yang satu ini, sejak dulu memang tidak pernah mau di ganggu saat sedang mandi atau me time seperti ini.
Tapi papa Andri juga khawatir karena belum melihat wajah sang putri sejak gadis itu kembali ke rumah.
"Bisakah kamu turun sebentar setelah ritul mandimu itu selesai?" Tanya papa Andri lagi.
Mia memutar bola matanya.
"Iya , baiklah. Apa Papa bisa pergi sekarang?" Usir Mia masih dengan nada ketus.
Papa Andri tak menjawab lagi. Pria paruh baya tersebut memilih untuk segera keluar dan bergabung lagi bersama Alin dan dokter Ben.
*****
Tepat jam delapan malam, Mia keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah.
Perut Mia benar-benar keroncongan sekarang.
Sudah lebih dari dua jam, papa Andri, mama Alina, dan dokter Ben menunggu Mia.
Dan saat ketiga orang itu melihat Mia turun dari tangga, senyum sumringah langsung terkembang di bibir ketiganya.
Mama Alin segera beranjak dari duduknya untuk menyambut Mia.
"Apa kamu baik-baik saja, Mia?" Tanya mama Alin khawatir.
"Mia baik-baik saja, Ma. Tapi perut Mia lapar. Mia hanya makan singkong rebus selama dua pekan ini." Mia sudah merebahkan dirinya di sofa ruang tengah.
Mama Alin yang tanggap segera pergi ke dapur untuk mengambil makanan untuk Mia.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya papa Andri khawatir.
Dokter Ben sudah mulai memeriksa kondisi Mia.
Tak lupa dokter paruh baya itu juga memeriksa luka di kening Mia.
Mia mengendikkan bahu dengan malas,
"Mia tersesat," jawab Mia singkat.
Tersesat bersama pria brengsek dan mesum yang juga mata duitan.
Bolehkah Mia berdoa agar Bian kena karma tercebur di got seperti apa yang terjadi pada Mia siang ini?
Sungguh memalukan, seorang gadis kaya dan elegant seperti Mia harus berakhir di got hitam dan bau hanya karena di kejar anjing galak.
"Tersesat di mana, Mia? Mama dan papa mendatangi lokasi kecelakaan dan tidak ada tanda-tanda keberadaanmu" Mama Alin sudah kembali dari dapur membawa satu nampan berisi nasi beserta lauk dan sayur lengkap.
Oh,
Mia sungguh rindu makanan orang normal seperti ini.
Dua pekan memakan makanan orang miskin mungkin sudah membuat tubuh kurus Mia semakin kurus.
Baiklah, sekarang saatnya perbaikan gizi.
__ADS_1