Nona Mia

Nona Mia
MASIH MENCINTAIMU


__ADS_3

Sejak kejadian sore itu, Mia tak lagi menemui Bian.


Sudah satu bulan terakhir, Mia seakan tenggelam bersama pekerjannya di kantor. Mia hanya bekerja, bekerja dan bekerja.


Mia sedang mencoba untuk bangkit tanpa memikirkan Bian. Tekad Mia hanya satu, melupakan pria itu dan tak pernah mengingatnya lagi.


*****


"Abang yakin?" Eve bertanya sekali lagi pada Bian yang masih menatap kosong ke arah luar kafe miliknya.


"Abang yakin, Eve! Lagipula abang tidak mau formulir ini sia-sia dan uang yang sudah dibayarkan hangus begitu saja," ujar Bian mencari alasan.


Bian tak sengaja menemukan kembali map yang pernah dikirimkan Mia ke kafenya. Map berisi formulir dan berkas-berkas pendaftaran kursus chef di Australia.


Bian memang belum sempat membakarnya kala itu.


Bian mungkin akan mengambil kursus itu dan pergi ke negara lain agar Bian tidak terus-terusan berkubang dalam kesedihannya karena kehilangan Dea untuk selamanya.


Eve menghela nafas dan mendekat ke arah Bian. Abangnya ini terlihat kacau sejak kepergian kak Dea.


"Jadi, siapa sebenarnya yang sudah memberikan semua ini pada abang? Apa nona Mia yang memberikannya?" Tebak Eve menerka-nerka.


Bian hanya diam.


Bian belum berjumpa lagi dengan nona Mia sampai hari ini. Sejak kejadian sore itu, nona Mia seperti hilang ditelan bumi.


Bian merasakan sedikit penyesalan di relung hatinya. Secara tak langsung Bian sudah menyakiti hati nona direktur itu karena melimpahkan kesalahan kepadanya.


Padahal kepergian Dea memang sudah sebuah takdir. Seharusnya Bian tidak menyalahkan Mia.


Bian sangat ingin minta maaf pada nona direktur itu, tapi sekali lagi Bian seperti tidak punya nyali untuk mengatakannya.


Entahlah, sejak kejadian malam pembegalan itu nona Mia seperti banyak berubah. Belum lagi saat nona Mia menyatakan secara terang-terangan perasaannya pada Bian, semuanya seakan membuat dunia Bian menjadi jungkir balik tak karuan.


Bagaimana mungkin seorang nona Mia yang kaya bisa jatuh cinta pada Bian yang selalu dia sebut sebagai pria brengsek dan kere?


Namun hati Bian juga tak bisa berhenti memikirkan nona direktur itu belakangan ini. Mungkin karena rasa bersalah Bian tempo hari yang membuat Bian terus memikirkannya.


Atau Bian juga sudah jatuh cinta pada nona kaya sombong itu?


Tidak!

__ADS_1


Bian tidak mungkin jatuh cinta pada nona Mia.


Sejak dulu Bian membenci gadis kaya itu.


"Seseorang yang baik yang sudah memberikan semua ini pada abang, Eve," jawab Bian akhirnya.


"Apa abang tidak sedang menjalin hubungan dengan nona Mia?" Eve bertanya sekali lagi.


Bian mengernyit bingung,


"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Abang bahkan belum bertemu lagi dengan nona kaya itu sebulan terakhir," Bian sedikit salah tingkah.


"Eve hanya merasa nona Mia seperti menyimpan sebuah perasaan pada abang. Eve sungguh tak mengerti tentang hubungan rumit di antara kalian. Dulu kalian saling membenci. Lalu tiba-tiba berpura-pura sebagai pasangan dan berkali-kali kencan bersama. Terakhir saat malam pembegalan itu nona Mia bersikeras mendonorkan darahnya untuk Abang padahal semua orang tahu kalau nona Mia phobia jarum..." Eve mulai berteori.


Bian masih menyimak dan belum mau menanggapi.


"Aku dengar nona Mia sampai sakit tiga hari setelah mendonorkan darahnya untuk abang malam itu," imbuh Eve lagi.


"Apa?" Bian sedikit terkejut dengan cerita Eve yang terakhir.


Sebesar itukah pengorbanan Mia demi menyelamatkan dirinya?


Rasa bersalah itu semakin membuncah di hati Bian


"Apa dia tidak menjenguk abang ke rumah sakit?" Tanya Eve lagi.


Bian menggeleng,


"Dia hanya mengirimkan makanan dan tidak menemuiku. Dea yang terus-terusan menemaniku di rumah sakit..." ucap Bian lirih.


Mungkinkah Mia melihat Dea dan merasa cemburu saat itu?


Ponsel Eve berdering.


Gadis itu berbicara sebentar di telepon sebelum kembali menghampiri Bian.


"Eve harus pulang sekarang. Eve akan membantu mengurus tiket dan paspor untuk abang jika memang ini sudah menjadi keputusan abang Bian," ucap Eve seraya memeluk abangnya tersebut.


"Dan tolong berhentilah minum, Bang! Kak Dea sudah pergi dengan bahagia. Abang harus mulai bangkit," nasehat Eve sekali lagi.


Bian tersenyum simpul,

__ADS_1


"Baiklah, Eve yang cantik. Abang hanya minum sedikit dan tidak sampai mabuk," Bian mencari alasan.


Eve berdecak,


"Tetap saja, Eve tidak suka abang seperti ini," keluh Eve sekali lagi.


"Baiklah, baiklah, sebaiknya kamu pulang sekarang! Suamimu pasti sudah menunggumu di rumah," Bian merangkul adiknya tersebut dan mengantarnya hingga keluar kafe.


*****


Mia baru pulang dari makan malam bersama kliennya.


Saat mobil Mia berhenti di lampu merah dekat kelab malam, netra Mia tak sengaja menangkap sosok yang Mia benci belakangan ini sedang keluar dari kelab tersebut.


Bian terlihat kacau dan sedikit sempoyongan keluar dari kelab malam tersebut. Mia ingin mengabaikan pria itu, namun hatinya seakan berontak.


Usaha Mia untuk melupakan Bian satu bulan terakhir seperti sia-sia saja.


Mia mulai khawatir saat melihat penampilan Bian yang berantakan.


Kenapa pria itu begitu berantakan dan seperti tak terurus?


Apa hidupnya benar-benar kacau hanya karena kehilangan calon istri?


Mobil Mia kembali melaju menuju gedung apartemennya.


Tapi pikiran Mia masih tidak lepas dari sosok Bian yang baru saja Mia lihat.


Sepanjang malam, Mia terus saja memikirkan pria itu. Hingga akhirnya Mia tertidur, pikirannya masih tak lepas dari Bian, Bian, dan Bian.


Tengah malam, Mia terbangun dengan peluh yang memenuhi wajahnya.


Dengan cepat, Mia meraih gelas berisi air putih di atas nakas dan meneguknya hingga tandas.


Mia terlalu khawatir dengan Bian hingga Mia bermimpi buruk tentang pria itu.


Pikiran Mia benar-benar tidak tenang malam ini.


Mia bangun dari tempat tidurnya dan menyambar cardigan dari dalam lemari. Nona direktur itu keluar dari unit apartemen miliknya dan naik ke lift dengan cepat. Mia seakan tak peduli meskipun jarum jam sudah menunjukkan pukul satu pagi.


Mia ingin memastikan kalau Bian baik-baik saja sekarang. Kafe Bian hanya beberapa blok dari apartemen Mia, jadi Mia akan menyetir sendiri.

__ADS_1


__ADS_2