
"Bian, ada apa?" Tanya Dea dengan raut wajah bingung.
"Maafkan aku, Dea. Maafkan aku!" Bian segera meraup calon istrinya itu ke dalam pelukannya.
Mendadak rasa bersalah membuncah di hati Bian.
Hanya tinggal menghitung hari, dan Bian akan segera menikah dengan gadis polos ini. Namun kenapa sekarang Bian malah memikirkan gadis lain?
Tidak!
Bian tidak mencintai Mia.
Sekuat tenaga Bian mencoba menghapus bayang-bayang nona direktur sombong itu dari kepalanya.
Bian hanya mencintai Dea. Hanya Dea.
"Apa aku menyakitimu?" Bian menangkup wajah mungil Dea dan menatap netra hitam itu.
Dea menggeleng,
"Apa kamu baik-baik saja?" Dea balik bertanya khawatir.
Bian menganguk dengan cepat,
"Maaf atas sikap kasarku tadi, Dea. Aku berjanji tidak akan melakukan hal-hal yang melanggar norma sebelum kita resmi menikah," ujar Bian seraya kembali meraih Dea ke dalam pelukannya.
Bian marah pada Mia, tapi kenapa dirinya malah meluapkan emosinya pada Dea?
Entahlah, pikiran Bian benar-benar kacau sekarang setelah bertemu dengan nona direktur sialan itu.
*****
Bodohnya ku mengharapmu
Jelas sudah tak kau pedulikan cintaku
Mestinya tlah ku sadari
Betapa perih cinta tanpa balasmu
Harusnya tak ku paksakan
Bila akhirnya kau melukaiku
(Setengah hati-Ada Band)
Mia menatap nanar pada undangan yang ditinggalkan oleh Bian.
__ADS_1
Bian dan Dea akan menikah satu pekan dari sekarang. Mia bisa apa sekarang selain meratapi hatinya yang terluka.
Jika jatuh cinta rasanya begitu menyakitkan, seharusnya Mia tak perlu jatuh cinta. Apalagi pada Bian brengsek yang sudah menolaknya mentah-mentah.
Mia meraih ponselnya dan segera menghubungi Adel.
Mia tidak bisa tetap berada di kota ini saat Bian dan Dea mengikat janji suci pernikahan mereka di hadapan Tuhan.
Ini terlalu menyakitkan.
Mia akan pergi saja dari kota bodoh ini, menyembuhkan patah hatinya dan kembali lagi sebagai nona Mia yang kuat dan kejam. Mia tidak akan pernah jatuh cinta lagi pada pria manapun.
Cukup Bian yang menyakiti hati Mia.
Mia tidak mau ada pria lain yang menyakiti hatinya lagi.
Mia akan melupakan Bian!
"Adel, aku ingin semua jadwalku satu pekan kedepan dibatalkan. Aku harus keluar kota dan aku tidak ingin di ganggu," perintah Mia dengan nada tegas. Nona direktur itu langsung menutup telepon sebelum Adel mengiyakan perintah konyolnya.
Bisa dipastikan kalau Adel sedang kalang kabut sekarang karena perintah mendadak dari nona direktur yang tidak bisa dibantah.
Mia memblokir semua kontak Bian dari ponselnya. Mia ingin melupakan pria brengsek itu, jadi bukankah ini adalah langkah pertama yang harus Mia ambil?
Setelah menarik nafas panjang berulang kali, Mia beranjak dari duduknya dan segera masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Mia akan berendam air hangat untuk merilekskan pikiran serta hatinya yang porak-poranda karena seorang pria brengsek bernama Bian.
*****
Laju mobil sedikit tersendat karena bertepatan dengan jam pulang kantor. Nona direktur itu terus saja membuang pandangannya keluar jendela.
Mobil kembali berhenti karena terjebak kemacetan. Mobil Mia berhenti tepat di depan sebuah butik yang pernah Mia kunjungi bersama Bian.
Netra Mia tak sengaja menangkap gaun pengantin berwarna putih tulang yang terpajang di etalase butik.
"Kau akan membeli yang seperti ini?"
"Tentu saja aku akan membeli dan memakainya suatu hari nanti, saat aku sudah bertemu pangeran impianku"
Mia tersenyum kecut saat kembali mengingat percakapannya dengan Bian kala itu di dalam butik.
Pangeran impian?
Pangeran impian Mia akan bersanding dengan gadis lain tak lama lagi. Dan mungkin Mia tidak akan pernah mengenakan gaun pengantin mewah itu, meskipun Mia punya banyak uang untuk membeli gaun itu.
"Pak, bisa mampir sebentar ke butik di depan?" Mia memberi aba-aba pada sang sopir. Dan Pak sopir itupun hanya mengangguk mengiyakan perintah dari nona direktur.
Tak butuh waktu lama, dan Mia sudah berada di dalam butik kelas atas tersebut. Mia langsung menemui pemilik butik untuk menanyakan perihal gaun prngantin yang terpajang di etalase butik.
__ADS_1
Mia akan membeli gaun itu. Gaun pengantin impian Mia yang mungkin tidak akan pernah Mia kenakan.
Lalu kenapa Mia membelinya?
"Silahkan, Nona," seorang pegawai butik sudah selesai mengemas gaun pengantin mewah tadi, dan memberikannya pada Mia.
Mia menatap sejenak pada box besar di hadapannya yang berisi gaun pengantin.
Mia mengambil sebuah map dari dalam tasnya.
Ada formulir pendaftaran untuk kursus menjadi seorang chef profesional di Australia. Mia tadinya ingin memberikan langsung formulir dan semua kelengkapannya itu pada Bian sebagai ucapan terima kasih karena Bian sudah menyelamatkan nyawa Mia.
Namun Mia rasa hal itu tidak mungkin.
Mia bahkan sudah melunasi semua biaya kursus itu selama dua tahun ke depan.
Mia tahu jika Bian sangat ingin menjadi seorang chef profesional dan membuka restoran sendiri. Mia akan mewujudkan mimpi Bian.
Mia memasukkan map tadi ke dalam box yang berisi gaun pengantin untuk Dea.
Mia memejamkan matanya sekali lagi dan berusaha untuk tegar.
Mia beranjak keluar dari butik dan membawa box tadi. Sang sopir yang menunggu Mia di luar butik, bergegas menyambut nona direktur itu dan mengambil alih box dari tangan Mia.
"Antarkan box ini ke kafe Bian setelah mengantarku ke airport," perintah Mia pada sopirnya.
"Baik, Nona" jawab sopir itu patuh.
Mia kembali masuk ke mobilnya dan melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.
"Semoga kamu hidup bahagia bersama Dea. Menua bersama gadis yang kamu cintai seperti mimpi yang selalu kamu ceritakan kepadaku."
Butir bening kembali jatuh di kedua pipi Mia.
Mia tidak akan menghapusnya dan membiarkannya mengering tertiup angin.
Dan Mia juga berharap luka yang di torehkan Bian di hatinya akan secepatnya mengering.
.
.
.
Kok jadi melo ya,
Sabar nona Mia nanti author bikinkan pria tampan untuk nona Mia biar gak sedih-sedih terus.
__ADS_1
Atau nona Mia mau tetap bersama Bian?
Jadi pelakor dong 😅