Nona Mia

Nona Mia
SEKRETARIS BARU


__ADS_3

Seorang gadis yang berpenampilan sederhana mengenakan setelan blouse dan rok berwarna senada, masuk ke lobi gedung kantor milik Mia.


Gadis itu segera menuju ke meja resepsionis untuk menanyakan letak kantor HRD.


Kepala HRD mendadak menelponnya kemarin dan mengatakan jika ia akan mulai bekerja hari ini sebagai sekretaris dari CEO di kantor ini.


Tak berselang lama, gadis itupun masuk ke dalam lift dan menuju ke kantor HRD yang berada di lantai dua gedung tersebut.


*****


Eve baru selesai mengantarkan kopi dan makanan lain yang di pesan oleh para karyawan.


Sebagai seorang office girl, sudah menjadi tugas Eve memang membelikan makanan atau sekedar membuatkan kopi untuk para karyawan yang sedang berpacu dengan waktu menyelesaikan target pekerjaan mereka.


"Mbak," suara wanita yang menyapa Eve dari belakang, sedikit membuat gadis itu tersentak.


"Eh, iya nona. Ada yang bisa saya bantu?" Jawab Eve sopan.


"Jangan panggil nona. Nama saya Anggi. Saya mau tanya ruangan nona Mia dimana ya?" Tanya wanita yang ternyata bernama Anggi tersebut.


"Oh, ada di lantai paling atas. Mari saya antar" Eve membimbing Anggi agar masuk ke dalam lift yang akan mrmbawa mereka ke lantai paling atas gedung ini, lantai dimana hanya ada satu ruangan di sana, yaitu ruangan dari nona Mia.


"Oh ya, nama kamu siapa?" Tanya Anggi ramah.


"Saya Eve, nona. Office gurl di kantor ini" jawab Eve memperkenalkan diri.


"Jangan panggil nona, Eve. Panggil Anggi saja. Sepertinya kita seumuran" tukas Anggi sedikit terkekeh.


Eve ikut terkekeh seraya mengangguk.


Lift sudah sampai di lantai yang mereka tuju.


Kedua wanita itu segera keluar dari lift.


"Silahkan, Anggi. Itu ruangan nona Mia. Aku langsung turun ya" Mia menunjuk ke satu-satunya ruangan yang ada di lantai tersebut. Ruangan dengan pintu kaca yang kini tertutup.


Anggi segera mengangguk paham.


"Makasih ya, Eve" ucap Anggi ramah.


Eve hanya mengangguk dan segera turun lagi ke lantai bawah untuk melakukan tugasnya yang lain.


Anggi mengetuk pintu kaca tersebut.


"Masuk!" Tak berselang lama suara seorang perempuan yang menyuruh Anggi masuk, terdengar dari dalam ruangan.


Anggi segera membuka pintu itu perlahan, dan masuk ke dalam ruang kantor yang mewah tersebut.


Ada satu meja kerja besar di sisi ruangan dekat pintu masuk. Dan ada satu set sofa di sudut lainnya.


Ada juga beberapa perabot lain yang membuat ruangan itu terlihat sangat nyaman.

__ADS_1


"Selamat pagi, nona" sapa Anggi pada nona direktur yang kini masih sibuk memeriksa berkas dan seperti mengabaikan kehadiran Anggi di ruangan tersebut.


Mia meletakkan berkas-berkas itu ke atas meja kerjanya dan ganti menatap pada gadis berpenampilan sederhana di depannya.


"Siapa kamu?" Tanya Mia sambil mengernyitkan kedua alisnya.


"Saya Anggi nona. Kata kepala HRD, saya akan jadi sekretaris nona Mia mulai hari ini" Anggi memperkenalkan dirinya kepada Mia.


Mia kembali melihat penampilan Anggi dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Terlalu sederhana, berbeda jauh dengan penampilan sekretaris Mia yang sebelum-sebelumnya.


"Baiklah kalau begitu. Ambil ini!" Mia menyodorkan sebuah tablet pada Anggi.


"Semua tentang pekerjaanmu dan apa-apa yang harus kamu lakukan sebagai sekretarisku ada di dalam sana. Baca baik-baik dan lakukan semuanya dengan benar. Aku tidak mau ada kesalahan" tukas Mia panjang lebar.


Sedangkan Anggi memilih untuk mengangguk patuh tanpa membantah ucapan sang nona direktur.


"Dan mejamu ada di luar sana. Jadi silahkan keluar dari ruanganku!" ujar Mia selanjutnya tanpa melihat lagi ke arah Anggi.


Dan Anggi pun segera keluar dari ruangan nona direktur nan mewah tersebut.


'Huh, ketus sekali. Sabar Anggi!' Anggi bergumam sambil mengelus dadanya sendiri setelah keluar dari ruangan Mia.


'Semoga aku bisa kuat menjadi sekretaris nona sombong itu sampai setahun ke depan' gumam Anggi lagi.


Gaji yang besar menjadi pertimbangan Anggi kenapa akhirnya memilih untuk menerima pekerjaan ini, meskipun Anggi sudah banyak mendengar jika nona CEO di perusahaan ini adalah orang yang ketus dan sombong.


Anggi memang membutuhkan uang yang tidak sedikit untuk membantu membayar hutang-hutang keluarganya.


Banyak yang mengatakan, jika dibalik sifat ketus dan sombongnya, nona Mia adalah bos yang royal.


Semoga saja hal itu benar adanya.


"Anggi!" Suara gebrakan meja dari nona Mia membuat Anggi terlonjak kaget.


Hah, sejak kapan bosnya ini sudah ada di hadapannya?


"Iya, nona. Ada apa" jawab Anggi gelagapan.


Mia berdecak,


"Aku membayarmu untuk bekerja, bukan untuk melamun seperti orang bodoh" ujar Mia ketus.


"Maaf nona, saya tidak akan mengulanginya lagi" Anggi menunduk dan tidak berani menatap nona Mia. Tentu saja Anggi merasa bersalah.


"Ini pertama dan terakhir kalinya kamu melamun saat bekerja. Jangan diulangi lagi!" Mia memperingatkan sambil bersedekap.


"Baik, nona" jawab Anggi patuh.


"Ikut denganku! Aku yakin kau pasti juga belum membaca jadwal meeting pagi ini. Dasar tidak berguna!" perintah Mia sambil bergumam ketus.

__ADS_1


Anggi menarik nafas panjang dan mencoba mengendalikan emosinya agar tidak terpancing dengan kata-kata pedas Mia barusan.


Mungkin setelah ini Anggi harus sedia obat sakit jantung juga agar saat nona CEO nya ini menggebrak meja kerjanya, Anggi tak perlu lagi merasa jantungan.


Anggi segera mengekori Mia nenuju ke ruang meeting hari ini. Anggi sungguh tidak ingin membuat kesalahan lagi. Apapun itu.


*****


Mia baru tiba di unit apartemen miliknya, saat mendapati pria mata duitan itu sudah berdiri di depan unit apartemen miliknya dengan seringai menjijikkan.


"Sore, nona Mia. Baru pulang?" Sapa Gio dengan nada yang merayu dan tatapan lapar pada Mia.


Mia hanya memutar bola matanya lalu bersedekap.


Mia bahkan lupa jika ini sudah hari Sabtu, dan Mia sama sekali belum menghubungi Kyara untuk jebakan ini.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Bukannya menjawab sapaan dari Gio, Mia malah bertanya galak.


"Apalagi? Bukankah anda mengundang saya untuk berkencan malam ini?" Gio mendekat ke arah Mia dan hendak mengusap pipi mulus Mia.


Namun secepat kilat Mia mengelak dan menghindari buaya lapar tersebut.


Sial sekali Mia sore ini.


Mia segera membuka pintu apartemennya dengan kartu akses.


Sebuah apartemen mewah yang membuat Gio langsung ternganga.


"Duduklah dulu! Ini masih terlalu sore untuk berkencan. Dan aku bukan wanita murahan yang akan langsung mengajak pria naik ke ranjang hanya karena mendapat rayuan gombal" ujar Mia sambil berlalu masuk menuju ke lemari pendingin yang ada dekat dapur apartemennya.


Mia mengambil sebotol soda dari dalam lemari pendingin dan dua buah gelas lalu kembali lagi ke ruang tamu.


Gio sudah menghenyakkan dirinya di sofa ruang tamu.


"Minumlah! Aku akan membersihkan diri dulu" ucap Mia sambil meletakkan gelas dan botol soda tadi di hadapan Gio.


"Aku bisa membantumu, nona Mia" jawab Gio yang sepertinya sedang berusaha untuk menggoda Mia.


Sungguh pria yang menjijikkan.


Apa boleh jika Mia melempar pria brengsek ini keluar dari jendela apartemennya sekarang?


Mia mendekatkan bibirnya ke arah wajah Gio,


"Nikmati saja minumanmu, sebelum kita menikmati malam ini berdua" Mia berbisik di telinga Gio yang langsung membuat pria itu tersenyum lebar.


Dan Mia pun segera berlalu masuk ke dalam kamarnya.


Tak lupa Mia juga mengunci pintu kamarnya.


Mia bukan gadis bodoh, yang akan membiarkan pintu kamarnya tidak terkunci saat dirinya tengah mandi.

__ADS_1


Bisa saja kan, pria brengsek semacam Gio akan menyelinap masuk ke kamar Mia, saat Mia sedang menikmati ritual mandinya.


Tentu saja Mia tidak mau hal konyol itu terjadi.


__ADS_2