Nona Mia

Nona Mia
REUNI


__ADS_3

Tengah malam, Mia baru sampai di unit apartemen miliknya. Tubuhnya terasa lelah setelah perjalanan bisnis selama dua pekan terakhir.


Mia benar-benar ingin berendam air hangat sekarang.


Selesai berendam, Mia membuka ponselnya untuk memeriksa beberapa pesan yang masuk.


Satu pesan dari Steve langsung bisa membuat bibir Mia melengkungkan senyuman.


Steve: [Kafe Analogy, hari Sabtu jam makan siang]


Mia: [Oke. Sampai jumpa hari Sabtu, Steve]


Baiklah, Mia sudah tidak sabar menunggu hari Sabtu tiba.


Mia dan Steve akan memulai semuanya dari awal lagi. Menjalin sebuah hubungan serius antara dua orang dewasa yang sudah sama-sama matang. Mungkin mereka akan membahas pernikahan.


Kenapa Mia jadi mengkhayal sejauh ini?


Apa Mia sudah benar-benar jatuh cinta pada Steve sekarang?


Apa ini yang di sebut cinta lama belum kelar?


*****


Sabtu siang,


Steve dan Eve sudah sampai di kafe Analogy yang merupakan kafe baru milik Bian.


Mia belum kelihatan batang hidungnya, apa nona direktur itu datang terlambat?


Steve melirik arloji di tangannya. Jam makan siang masih sepuluh menit lagi, wajar jika Mia belum datang.


"Kita akan bertemu siapa?" Tanya Eve penasaran.


"Teman lamaku. Dulu kami berteman saat masih SMA, lalu ayahku pindah tugas, dan kami terpaksa berpisah. Sembilan tahun berlalu dan kami kembali bertemu lagi kemarin," Steve sedikit bercerita mengenai Mia pada Eve.


"Apa temanmu perempuan?" Tebak Eve cepat.


Steve tertawa kecil. Tunangannya ini selalu bisa menebak dengan tepat.


"Iya, Eve. Dia perempuan. Dulu kami memang berpacaran, tapi itu hanya cinta monyet dan aku sudah tidak ada perasaan apapun padanya. Aku sudah melupakan itu semua. Sekarang yang aku cintai hanya kamu." Steve mengecup kedua tangan Eve dan berkata dengan sungguh-sungguh. Eve hanya tersipu malu.


"Aku akan ke toilet sebentar," pamit Eve sambil beranjak berdiri.


Steve hanya mengangguk dan Eve segera berlalu menuju ke arah toilet.


Steve yang sedang melihat-lihat buku menu, sedikit terkejut saat ada dua tangan yang tiba-tiba menutup kedua matanya dari arah belakang.


Steve meraba-raba tangan tersebut seraya menebak-nebak siapa pemilik tangan ini. Dan tawa gadis yang berdiri di belakang Steve langsung bisa membuat Steve mengenali pemilik tangan ini.

__ADS_1


"Mia," tebak Steve cepat.


Mia segera melepaskan kedua tangannya dari mata Steve dan duduk di samping Steve.


"Kau sudah lama? Maaf aku sedikit terlambat," ujar Mia merasa bersalah.


"Aku juga baru datang, jadi santai saja. Mau memesan?" Steve menyodorkan buku menu pada Mia.


Setelah menerima buku menu yang di sodorkan Steve, Mia segera melihat satu persatu menu yang ada di buku tersebut.


Mayoritas adalah menu ala anak muda yang sedang kekinian. Dan harganya juga lumayan terjangkau. Apa ini kafe baru?


"Apa kafe ini baru?" Tanya Mia yang kini menatap ke arah Steve.


Steve mengangguk,


"Ya, kafe ini baru satu pekan di buka. Aku juga kenal dengan pemiliknya, makanya aku mengajakmu reunian di sini," ujar Steve menjelaskan.


"Padahal akan lebih romantis kalau kita makan siang di resto italia atau resto mewah lainnya," Mia mengemukakan pendapatnya yang langsung membuat Steve terkekeh.


"Sesekali nona direktur sepertimu juga harus merasakan makan di kafe yang merakyat seperti ini, Mia. Makanan disini juga enak, tak kalah dari resto mewah dan berbintang," Balas Steve dengan pendapat yang berbeda.


Mia hanya mencibir seraya mengendikkan bahu.


Menu yang tertera tidak terlalu menarik untuk Mia. Mungkin Mia akan memesan cappucino saja.


"Maaf, aku sedikit lama," ucap Eve yang baru kembali dari toilet.


Apa yang gadis ini lakukan di sini?


Apa dia sedang menjadi seorang pengemis?


"Nona Mia," Eve terkejut saat mendapati nona Mia duduk di meja yang sama dengan Steve. Dan dua orang itu terlihat akrab sedari tadi.


Apa yang dimaksud Steve sebagai mantan pacarnya itu adalah nona Mia?


Mia tidak membalas sapaan dari Eve, nona direktur itu malah menatap Eve dengan tatapan tajam dan membunuh.


Sepertinya dendam di hati nona Mia masih belum surut.


"Kau sudah kenal dengan Mia, Eve?" Tanya Steve memecah ketegangan di antar Eve dan Mia.


Eve mengangguk samar.


Gadis itu menunduk takut-takut dan tak berani melihat ke arah nona Mia yang sepertinya masih melotot ke arahnya.


"Oh, ya Mia, Eve ini tunangan aku," ujar Steve singkat namun mampu membuat Mia terkejut bak di sambar petir di siang bolong.


Apa kata Steve barusan?

__ADS_1


Gadis miskin ini tunangannya?


Apa Steve sudah gila?


"Apa katamu?" Mia ganti menatap tajam ke arah Steve.


"Eve tunanganku," jawab Steve datar mengulangi sekali lagi pernyataannya barusan.


"Gadis miskin ini? Steve apa kau sudah gila?" Mia mulai menaikkan nada bicaranya.


"Apa maksudmu, Mia? Eve gadis yang baik," bela Bian cepat. Pria itu segera merangkul Eve yang wajahnya sudah berubah pucat.


"Steve, kamu pria yang tampan dan mapan, kenapa memilih gadis miskin dan bodoh ini sebagai tunanganmu?" Mia semakin emosi karena melihat Steve yang merangkul Eve dengan posesif.


Tampak sekali kedekatan di antara dua anak manusia yang berbeda kasta tersebut.


"Jaga ucapanmu, Mia!" Steve menuding ke arah Mia. Steve tak terima Mia merendahkan Eve seperti ini.


"Kenapa? Aku berbicara kenyataan. Kau lebih pantas bersanding denganku, ketimbang dengan gadis miskin ini," Mia menuding ke arah Eve yang kini mulai berkaca-kaca.


Hati Eve terasa sakit karena kata-kata pedas dari nona Mia.


Nona Mia benar, Eve memang gadis miskin dan tak pantas untuk Steve.


Ck,


Steve berdecak.


"Sejak kapan kamu menilai orang dari harta dan kekayaannya, Mia? Apa uang berlimpah dan perusahaan yang berjaya sudah membuatmu jadi gadis sombong seperti ini?" Tanya Steve sarkas.


"Aku bukan gadis sombong. Aku pacarmu Steve, " Mia masih bersikeras.


"Itu hanya masa lalu. Aku sudah tidak ada perasaan apapun kepadamu," balas Steve cepat.


"Steve!" Mia sudah kehilangan kata-kata sekarang. Wajah gadis itu sudah berubah menjadi merah padam karena menahan amarah.


Baru kali ini ada pria yang menolak seorang nona Mia.


"Steve, aku mencintaimu. Aku lebih pantas untukmu ketimbang gadis miskin ini." Mia masih tak berhenti menghina Eve.


"Cukup, Mia! Eve tunanganku dan aku mencintainya. Jadi berhenti menghinanya!" Gertak Steve dengan nada tegas.


Mia menatap bergantian ke arah Eve dan Steve. Kemarahan gadis itu sepertinya sudah naik ke ubun-ubun. Apa Mia akan meledak sebentar lagi?


****


Nah, lho si Mia auto kesetanan gara-gara cintanya di tolak 😆


Harap bersabar, Mia!

__ADS_1


Ini ujian😩


Jangan lupa like, komen, dan vote.


__ADS_2