
Bian sudah sampai di gedung kantor Mia.
Pada akhirnya, nona kaya itu yang akan menjadi malaikat penyelamat untuk kafe Bian yang nyaris bangkrut.
Apa ini yang disebut ironi?
Mungkin setelah ini, Bian juga akan bersujud dan mencium kaki nona kaya itu.
Huh, dimana-mana uang memang selalu menang.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanya gadis resepsionis dengan ramah dan senyuman hangat.
Bian mengangguk dengan cepat.
"Ya, aku ada janji bertemu nona Mia jam..." Bian melirik sekilas ke arloji yang melingkar di tangannya
"Jam sepuluh pagi," lanjut Bian kemudian.
"Nona Mia masih meeting dengan klien. Bapak silahkan naik ke latai atas, dan menunggu Nona Mia di sana" ujar gadis resepsionis tadi.
Bian mengangguk dan segera berjalan menuju lift. Tujuan Bian sekarang adalah lantai paling atas dari gedung ini.
Tak butuh waktu lama, dan Bian sudah sampai di lantai tempat kantor nona Mia berada.
"Selamat siang, tuan ada yang bisa saya bantu?" Adel, yang merupakan sekretaris Mia segera menyapa Bian dengan hormat.
"Saya ada janji bertemu dengan nona Mia," jawab Bian singkat.
"Silahkan duduk dulu, sambil menunggu nona Mia selesai meeting," ujar sekretaris Mia tersebut.
Gadis itu mengantarkan Bian ke sofa yang masih berada di lantai tersebut.
Sepertinya memang itu khusus untuk para tamu yang mengantri bertemu dengan Mia.
Apa nona kaya itu memang sibuk dan punya banyak tamu penting?
Bian memilih untuk segera duduk di sofa empuk tersebut. Bian juga menyambar beberapa majalah bisnis yang ada di rak majalah.
Mungkin Bian bisa belajar bisnis mulai dari sekarang. Bisa saja kan, tahun depan Bian sudah menjadi seorang bisnisman sukses yang punya banyak perusahaan.
Nasib siapa yang tahu?
Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya nona Mia yang terhormat itu datang juga.
Mia yang mendapati Bian sedang duduk di sofa ruang tunggu langsung bersiul.
Gadis itu berdiri di hadapan Bian sambil bersedekap,
"Jadi? Kau berubah pikiran?" Tanya Mia dengan nada pongah.
Sejak awal Mia sudah menebak kalau Bian pasti akan setuju dengan tawaran yang Mia ajukan tempo hari. Pria itu pasti tidak mau kehilangan kafe miliknya.
__ADS_1
"Baiklah, kau menang nona kaya," jawab Bian dengan nada kesal.
Mia tersenyum simpul.
"Ikut ke ruanganku!" Perintah Mia sambil berlalu dari hadapan Bian.
Dan Bian hanya bisa mengekori nona direktur sombong itu sambil terus menggerutu dalam hati.
Kalau bukan demi kelangsungan hidup kafenya, Bian tidak akan mau melakukan tindakan bodoh ini.
Mia membuka pintu kaca di hadapannya, dan Bian langsung tercengang dengan ruangan nan mewah tersebut.
Apa semua direktur kaya ruangannya semewah ini?
Ah, andai saja nona Mia tidak galak dan tidak sombong, mungkin Bian tidak akan keberatan menjadi pacar atau suaminya.
Namun sifat Mia yang seperti setan itu, membuat Bian sama sekali tidak tertarik dengan nona direktur tersebut.
"Duduk!" Mia mempersilahkan Bian duduk di kursi yang ada di hadapannya.
Mia sendiri sudah duduk di kursi kebesarannya. Kini ada meja kerja dengan permukaan kaca mengkilap yang memisahkan Mia dan Bian.
"Baiklah, langsung pada intinya. Apa saja yang harus aku lakukan sebagai pacar pura-puramu itu?" Tanya Bian to the point. Pria itu sedang malas berbasa-basi.
"Kau akan membantuku membatalkan perjodohan bodoh yang direncanakan oleh kedua orangtuaku," jawab Mia dengan nada tegas.
Gadis itu memainkan pulpen yang ada di tangannya.
"Kalau tidak berhasil?" Tanya Bian lagi.
"Bisakah kita tidak usah membahas yang itu? Dulu kau bilang kalau kau sudah mengikhlaskannya. Anggap saja kau sedang berdonasi untuk kaum gembel seperti diriku." Bian menunjuk ke arah wajahnya sendiri.
Mia berdecak malas.
"Terserah saja. Yang jelas tugasmu hanya satu. Perjodohan harus batal dan aku akan melunasi semua tunggakan hutangmu di bank," ucap Mia dengan nada tegas.
"Baiklah, itu hal yang tidak terlalu sulit. Jadi, kapan aku harus bertemu kedua orang tuamu?" Tanya Bian yang kini sok-sokan membuka tumpukan kertas yang ada di atas meja kerja Mia.
Terang saja hal itu membuat Mia langsung memukul tangan Bian dan melotot tajam ke arah pria yang tidak tahu sopan santun tersebut.
"Malam ini," jawab Mia masih dengan mata yang melotot.
"Kau akan jadi perawan tua , nona kaya. Jika sikapmu selalu mengerikan seperti itu pada semua pria." Bian mengelus tangannya sendiri yang terasa nyeri karena dipukul oleh Mia.
"Aku hanya bersikap mengerikan pada pria yang tidak tahu sopan santun seperti dirimu!" Mia menuding ke arah Bian.
Pria itu hanya mendengus.
"Ini!" Mia menyodorkan sebuah kartu kredit pada Bian.
"Perbaiki penampilan kumuhmu itu. Aku tidak mau kamu bertemu mama dan papaku dengan baju lusuh seperti itu," lanjut Mia lagi.
__ADS_1
Bian dengan cepat menerima kartu kredit yang diangsurkan oleh Mia. Mata pria itu terlihat berbinar senang.
"Apa ini unlimited?" Tanya Bian tanpa malu-malu.
"Ya," jawab Mia singkat.
Dan senyuman di bibir Bian semakin mengembang lebar.
Demi apapun, Mia benar-benar ingin melempar pria tak tahu diri ini dari jendela kantornya. Mata Bian seakan berubah menjadi hijau sekarang hanya karena melihat benda plastik bernama kartu kredit.
"Apa itu artinya aku bisa membeli pesawat jet dengan kartu kredit ini?" Tanya Bian lagi. Benar-benar pria mata duitan yang tak tahu diri.
"Tentu saja. Lalu aku akan memotong tubuhmu menjadi tujuh bagian, membawanya dengan pesawat jet yang kamu beli dan membuang potongan-potongan tubuhmu itu di tujuh benua yang berbeda," jawab Mia dengan nada geregetan.
Apa pria ini benar-benar tak tahu diri?
Sontak senyuman di wajah Bian berubah menjadi sebuah raut mencebik yang sulit di jelaskan.
"Aku rasa aku tidak perlu mendengar bagian yang itu." Timpal Bian sedikit begidik ngeri.
Kini Bian percaya kalau nona kaya di hadapannya ini adalah monster berparas cantik yang sungguh kejam dan sadis.
"Kalau begitu gunakan benda itu dengan bijak. Jangan membeli sampah yang tidak kamu butuhkan. Paham?" Gertak Mia masih dengan mata yang mendelik.
"Baik nona Mia yang kaya, saya paham. Sangat paham," jawab Bian berlebihan.
"Baiklah kalau begitu, kau bisa pergi dari ruanganku sekarang dan mulai perbaiki penampilan serta sopan santunmu itu. Aku akan menjemputmu jam tujuh malam di..." Mia tampak berpikir sejenak.
Di mana memangnya rumah pria gembel ini?
"Di kafeku, nona Mia. Itu rumah sekaligus tempat kerjaku," jawab Bian cepat.
"Baiklah di kafemu, jam tujuh malam. Pergi sana! Aku masih banyak pekerjaan," usir Mia pada Bian. Gadis itu meraih setumpuk kertas di hadapannya untuk ia periksa dan ia tandatangani.
"Terima kasih, nona Mia. Saya permisi dan selamat siang," Bian berbasa-basi sekaligus berpamitan.
Namun Mia sepertinya tak peduli. Gadis itu sudah larut bersama setumpukan berkas yang Bian sendiri tidak paham sebenarnya itu berkas apa.
Bian hanya mengendikkan bahu dan segera keluar dari ruangan Mia.
Bian akan ke mall hari ini membeli jas dan sepatu mahal, karena sebentar lagi Bian akan bertemu calon mertuanya.
Hahaha, calon mertua yang mungkin tidak akan pernah jadi mertua Bian.
.
.
.
Maaf tadi malam ketiduran 😂 gak jadi up deh.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Masih di tunggu like, komen, dan vote nya