Nona Mia

Nona Mia
KAFE BARU


__ADS_3

Setelah hampir satu bulan mengurus semua hal untuk kafe barunya, Bian akhirnya bisa bernafas lega sekarang. Minggu depan kafe baru Bian resmi di buka.


Meskipun setengah modalnya dari hasil menipu, Bian merasa kalau itu bukan masalah besar.


Bagaimana dengan setengahnya lagi?


Bian terpaksa meminjam ke bank. Bian sungguh tak enak hati jika semua modal untuk kafe barunya harus minta ke Kyara.


Tak apa Bian pusing memikirkan cicilan setiap bulan. Bian yakin kalau kafenya akan ramai dan sukses. Bian akan bekerja keras.


*****


"Kamu yakin mau turun di sini lagi?" Tanya Bian sekali lagi pada Kyara.


Setiap kali mengantar gadis ini pulang, Kyara selalu minta turun di taman kompleks dan enggan di antar hingga ke rumahnya.


Kyara seperti menyembunyikan hubungannya dengan Bian dari keluarganya.


"Iya, rumah aku dekat, kok. Kamu tenang aja!" Kyara menepuk bahu Bian.


"Baiklah, kalau begitu. Aku langsung balik, ya," pamit Bian seraya mengusap wajah Kyara. Gadis itu hanya mengangguk seraya tersenyum.


Bian menyalakan motornya dan segera pergi dari tempat itu. Bian melajukan motor sport kesayangannya tersebut dengan kecepatan sedang sambil bersenandung santai.


Namun di depan jalan masuk komplek, Bian sedikit terkejut karena ada mobil yang berbelok tiba-tiba dan nyaris membuat motor mahal Bian jatuh ke aspal.


Bian berulang kali mengumpat pada pemilik mobil tak tahu diri tersebut.


Setelah memarkirkan motornya di pinggir jalan, Bian bergegas menghampiri si empunya mobil.


Jendela kaca di pintu pengemudi sudah diturunkan, dan Bian kembali harus mengumpat saat melihat wajah sombong itu.


Dasar wanita pembawa sial!


"Pakai dengan benar kedua matamu itu saat mengemudi, Nona kaya!" Tegur Bian galak.


"Apa kau habis mencuri motor?" Tuduh Mia sembarangan. Gadis itu juga menuding ke arah Bian.


"Jaga mulutmu! Aku membeli motor itu, bukan mencurinya," sangkal Bian tak terima.


Mia bersiul ringan,


"Jadi, apa Bian sang pria kere sudah berubah menjadi Bian sang pria kaya sekarang?" Sindir Mia meremehkan.


"Aku memang pria kere, tapi siapa sangka seorang nona kaya sekelas nona Mia pernah tergila-gila kepadaku hingga nyaris memperkosaku," Bian ikut-ikutan menyindir dan kembali mengingatkan Mia tentang skandal yang pernah terjadi di antara mereka.


Mia mendengus kesal.


Demi apapun, Mia paling benci saat harus mengingat masa-masa dirinya hilang ingatan dan harus tinggal di kontrakan kumuh Bian.

__ADS_1


Belum lagi singkong berbau sangit yang rasanya seperti mengendap di lidah Mia.


Otak Mia seperti tidak bisa menghapus rasa aneh dari singkong sialan tersebut.


Benar-benar pengalaman paling pahit dan kelam dalam sejarah kehidupan seorang nona Mia.


"Silahkan pergi! Sebelum aku benar-benar menabrakmu beserta motor mahalmu itu," usir Mia ketus seraya menaikkan kembali kaca di jendela mobilnya.


"Dasar wanita sombong!" Bian masih sempat mengatai Mia, sebelum mobil gadis itu melaju dan pergi dari hadapan Bian.


Bian kembali menaiki motornya, dan melanjutkan perjalanannya.


Matahari sudah kembali ke peraduan, meninggalkan semburat oranye di ufuk barat.


Bian terus melajukan motor kesayangannya menuju ke arah kafe barunya. Ada beberapa hal yang harus Bian selesaikan malam ini sebelum pembukaan resmi besok pagi.


*****


Kyara baru saja melepas sepatunya, saat mobil Mia masuk ke halaman runah yang cukup luas tersebut.


Kyara memilih menunggu hingga sang kakak turun dari mobil, sebelum masuk ke dalam rumah.


"Baru pulang, Kya?" Tanya Mia yang kini berjalan dengan anggun ke arah Kyara.


"Ada kelas sore." Jawab Kyara singkat.


Suasana di dalam rumah sepi, namun ada aroma harum masakan dari arah dapur. Sepertinya mama Alina tengah memasak untuk makan malam.


"Kakak besok ada acara?" Kyara sudah mendaratkan bokongnya ke atas sofa yang ada di ruang tengah.


Mia ikut duduk di sofa tak jauh dari Kyara.


"Kakak akan berangkat ke luar kota malam ini. Besok ada kerjasama proyek penting yang harus kakak hadiri." Jawab Mia santai. Gadis itu merogoh tas mahalnya untuk mencari keberadaan ponselnya.


"Kenapa tiba-tiba bertanya?" Lanjut Mia bertanya.


"Besok pembukaan kafe milik temanku, tadinya aku ingin mengajak kakak untuk ikut hadir," Jawab Kyara sambil menyandarkan punggungnya di sofa.


"Kafe yang modalnya dariku itu?" Tanya Mia meminta penjelasan.


Kyara mengangguk,


"Aku ingin membuktikan pada kakak kalau kemarin itu aku tidak main-main. Kafe benar-benar ada dan sudah mulai beroperasi besok," jelas Kyara sekali lagi.


"Baiklah, kakak percaya kepadamu. Kau senang sekarang?" Timpal Mia seraya melirik ke arah Kyara.


Kyara hanya nyengir,


"Apa Kyara boleh minta tambahan uang jajan sekarang?" Kyara menengadahkan tangannya ke arah Mia.

__ADS_1


"Dalam mimpimu," Mia memukul tangan adiknya tersebut sedikit keras, membuat Kyara meringis kesakitan.


"Sakit, Kak!" Rengek Kyara dengan wajah mencebik.


"Tidak perlu berlebihan, aku memukul tidak terlalu keras" Mia mencari pembenaran.


"Tetap saja, rasanya sakit," Kyara masih saja mengeluh.


Mia sudah beranjak dari duduknya.


"Kakak akan ke kamar dan berendam sebentar. Gerah," ujar Mia sambil berlalu dari ruangan tersebut.


Gadis itu segera menaiki tangga yang mengantarnya menuju ke kamarnya.


*****


Sabtu pagi,


Soft opening kafe milik Bian pagi ini berjalan cukup lancar. Tak banyak yang hadir, karena kafe ini memang masih skala kecil.


Namun Bian bertekad untuk membesarkan kafe miliknya ini, dan berharap akan bisa membuka cabang di beberapa kota.


Bian akan terus bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya tersebut.


"Selamat ya, Bang!" Eve memeluk abangnya tersebut. Terselip rasa haru sekaligus bangga di hati Eve, karena pada akhirnya mimpi sang abang untuk memiliki kafe sendiri kini sudah terwujud.


Steve juga ikut memberikan ucapan selamat kepada calon kakak iparnya tersebut.


Tak lupa, Bian juga mrmperkenalkan Kyara pada Eve dan Steve.


Kyara dan Eve langsung akrab dan larut dalam obrolan sesama wanita. Mungkin karena usia keduanya sebaya.


Sejujurnya, selama ini Bian masih tak ada perasaan apapun pada Kyara. Meskipun Bian selalu bersikap romantis dan gemar melontarkan rayuan-rayuan gombal pada gadis itu, namun jauh di dalam hatinya Bian hanya menganggap Kyara seperti adiknya. Tidak ada perasaan cinta atau perasaan yang entah apa namanya yang biasanya dialami oleh dua orang yang sedang berpacaran.


Bian selalu berharap Kyara akan bertemu pria baik suatu hari nanti, yang benar-benar mencintai Kyara dengan tulus.


Bukan pria brengsek seperti Bian yang hanya memanfaatkan kepolosan gadis itu demi mengeruk lembaran-lembaran rupiah dari rekeningnya.


Maaf Kyara...


*****


Bian totalitas sekali matrenya 😂


Author udah crazy up ya, jangan lupa buat tinggalin like, komen, dan vote.


Satu like dari kalian sangat berarti untuk author.


Baiklah, sampai jumpa besok 😙

__ADS_1


__ADS_2