
Dua pekan berlalu sejak kepergian Bian ke negeri seberang.
Mia sudah selesai dengan perjalanan bisnisnya.
Nona direktur itu datang ke kantor dengan wajah dingin dan sedikit menyeramkan.
Beberapa karyawan yang menyapa, hanya diabaikan begitu saja.
Mia sudah sampai di lantai paling atas dari gedung kantor miliknya.
Adel segera berdiri dan membungkuk hormat pada bosnya tersebut.
Namun seperti biasa, Mia sama sekali tak menanggapi sapaan dari Adel dan berlalu begitu saja dari hadapan gadis sekretaris tersebut.
Setelah Mia menghenyakkan diri di atas kursi kebesarannya, Adel masuk ke dalam ruangan untuk membacakan jadwal nona direktur tersebut.
"Maaf nona, ada surat dari pak Bian." Adel menyodorkan sebuah amplop putih pada Mia.
Mia sedikit terkejut saat mendengar Adel menyebut nama pria brengsek itu.
Nona direktur itu segera menerima surat yang disodorkan oleh Adel. Namun Mia tak langsung membacanya. Mia hanya meletakkannya di atas meja kerja.
"Kapan dia menitipkan surat ini?" Tanya Mia penasaran.
"Rabu siang, saat nona baru berangkat untuk perjalanan bisnis," jawab Adel cepat.
Mia berdecak,
Mungkin pria brengsek itu hanya ingin minta maaf dan memperbaiki semuanya. Padahal dia bisa datang ke sini kapan saja. Kenapa harus menitipkan surat pada Adel?
Apa dia sudah tidak punya nyali untuk datang ke sini dan menemui Mia secara langsung?
Dasar pria brengsek!
Dimana-mana selalu sama kelakuannya.
Mia terus bergumam dalam hati dan mengatai Bian.
Adel sudah selesai membacakan jadwal Mia. Gadis sekretaris itu pun langsung undur diri dan kembali ke mejanya di luar ruangan.
Setelah kepergian Adel, Mia melempar begitu saja surat dari Bian ke tempat sampah yang ada di ruangannya.
Mia bahkan tidak membaca sama sekali surat dari Bian brengsek tersebut.
Tekad Mia sudah bulat.
__ADS_1
Mia akan melupakan seorang pria brengsek bernama Bian.
****
"Hooeek"
Sudah lima belas menit Mia berdiri di dalam toilet yang ada di kantornya. Perutnya serasa di aduk-aduk dan kepalanya sedikit berdentum.
Mia merasakan mual sedari pagi, namun saat Mia ingin mengeluarkannya, tak ada papun yang keluar.
Dengan langkah lunglai, nona direktur itu keluar dari toilet.
"Adel!" Panggil Mia pada sang sekretaris.
Sedetik kemudian, Adel sudah masuk ke dalam ruangan Mia dan bersikap siaga.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona. Wajah anda pucat," tanya Adel takut-takut.
"Buatkan teh hangat, dan batalkan semua jadwalku hari ini!" Perintah Mia dengan nada kurang bersemangat.
"Baik, Nona" Adel sudah keluar lagi dari ruangan Mia.
Nona direktur itu merebahkan dirinya di sofa dan memegangi kepalanya yang masih berdenyut.
Adel sudah kembali membawa satu cangkir teh yag masih mengepulkan asap.
Gadis itu memberikannya dengan hati-hati pada Mia.
"Apa nona sudah sarapan pagi ini? Wajah nona pucat sekali," tanya Adel khawatir.
Mia menggeleng.
Sudah beberapa minggu terakhir Mia kehilangan nafsu makannya.
padahal biasanya meskipun sibuk dan banyak pikiran, Mia tidak pernah melewatkan jam-jam makan, dan Mia juga selalu menyediakan camilan sehat.
Tapi kali ini, Mia benar-benar tak bernafsu pada semua jenis makanan.
"Aku akan pulang ke apartemen dan beristirahat. Apa ada jadwal penting minggu ini?" Tanya Mia sekali lagi pada Adel.
"Ada rapat tahunan akhir minggu ini, Nona. Karena ini sudah masuk akhir tahun." Jelas Adel.
Akhir tahun?
Mia dengan cepat meraih kalender yang ada di atas meja kerjanya.
__ADS_1
Mia menghitung dengan seksama kapan ia terakhir kali bertemu Bian brengsek dan melakukan hubungan terkutuk itu.
Sudah dua bulan lebih sejak kejadian itu.
Dan Mia baru ingat kalau dirinya belum mendapatkan tamu bulanan yang biasanya rutin menghampirinya sebulan sekali.
Mia terlalu sibuk bekerja hingga melupakan semua hal penting itu.
Astaga!
Kenapa aku bodoh sekali!
Mia merutuki kebodohannya sendiri.
Mia tak berpikir panjang saat melakukan hubungan terkutuk itu bersama Bian dan sekarang besar kemungkinan Mia sedang mengandung anak dari pria brengsek yang sangat dibencinya itu
"Ada apa, nona?" Pertanyaan dari Adel membuyarkan lamunan Mia.
Mia menatap ruangan kantornya dengan linglung.
"Aku... aku akan pulang sekarang, Adel." Jawab Mia tergagap.
"Baik nona, saya akan menghubungi sopir anda" Adel sudah keluar dari ruangan Mia.
Mia masih linglung.
Bagaimana ini?
Bagaimana jika Mia benar-benar hamil?
Papa dan Mama pasti marah besar karena Mia hamil sebelum menikah.
"Nona, mobil anda sudah siap" Adel memberi laporan.
Mia segera menyambar tasnya dan berjalan cepat menuju ke arah lift.
Pikiran Mia benar-benar kacau sekarang.
Mia harus menemui Bian dan membicarakan semua hal ini pada pria brengsek itu.
Sial!
Kenapa pria brengsek itu harus meninggalkan benihnya di rahim Mia saat Mia benar-benar membencinya dan ingin melupakannya.
Dasar pria brengsek!
__ADS_1