
Bian baru sampai di kafenya.
Pria itu menenteng dua buah paperbag besar berisi baju dan beberapa perlengkapan untuk memperbaiki penampilannya.
Bian akan menuruti kata-kata nona Mia dan berpenampilan rapi malam ini. Bian tidak mau menggagalkan misinya kali ini serta tidak mau menerima omelan dari nona kaya nan sombong itu.
Bian membongkar isi dari paperbag yang tadi ia bawa.
Ada beberapa buah kemeja, celana, sepatu, serta sebuah jas yang harganya lumayan mahal.
Tapi Bian tidak terlalu mempedulikannya. Bukankah nona kaya itu yang akan membayar semua tagihannya?
Apa Bian akan memakai jas malam ini?
Sepertinya tidak.
Hanya bertemu calon mertua, jadi Bian rasa memakai kemeja saja sudah cukup.
"Kau menikmati belanjamu hari ini?" Suara Mia yang sudah ada di ambang pintu kamar Bian langsung membuat pria itu terlonjak kaget.
Astaga!
Seperti setan saja, tiba-tiba muncul dan membuat orang kaget. Masih bagus Bian tidak punya penyakit jantung.
Mia masuk ke kamar Bian yang ada di lantai dua kafenya. Nona direktur itu memeriksa benda apa saja yang sudah dibeli oleh pria kere ini.
"Apa yang kau lakukan di sini, nona kaya? Mengagetkanku saja," Tanya Bian sedikit menggerutu.
"Memastikan kau tidak membeli sampah yang tidak kau butuhkan," jawab Mia ketus.
Gadis itu sudah selesai memeriksa belanjaan Bian.
"Aku pria yang tahu diri. Jadi kau tidak perlu khawatir seperti itu!" Bian mengibaskan tangannya ke arah Mia yang kini menatapnya dengan pandangan aneh.
"Apa kau tidak punya pisau cukur?" Tanya Mia masih menatap aneh ke arah Bian.
"Apa?" Bian sepertinya sedikit tak paham.
"Pisau cukur," tegas Mia sekali lagi.
"Lihatlah jambangmu itu! Kau tidak bisa menemui kedua orangtuaku dengan jambang lebat seperti itu. Penampilanmu seperti om-om mesum berusia empat puluh tahun," gerutu Mia seraya berdecak berulang kali.
Bian hanya mencebik sembari mengusap jambangnya yang memang sudah terasa lebat. Bian terlalu sibuk mengurus masa depan kafenya beberapa hari terakhir. Bian bahkan tidak sempat memperhatikan penampilannya.
"Iya, iya aku akan mencukurnya nanti. Tapi jangan samakan aku dengan om-om mesum. Aku ini bukan pria mesum!" Protes Bian merasa tak terima.
Mia hanya memutar bola matanya.
Gadis itu memilih satu kemeja yang tadi Bian beli dan memberikannya pada Bian.
"Pakai yang ini, dan cepatlah mandi!" Ujar Mia dengan nada memerintah.
"Bukankah katamu tadi akan menjemputku jam tujuh malam? Sekarang baru jam lima dan kau sudah ada di sini menyuruhku melakukan ini itu," protes Bian dengan nada tidak senang.
"Aku hanya ingin memastikan penampilanmu malam ini tidak akan membuatku malu, Bian!" Sergah Mia seraya bersedekap.
"Aku memang pria miskin, nona Mia. Tapi aku pastikan, penampilanku malam ini tidak akan membuatmu malu," Bian mengacak rambut Mia dengan lancang.
Terang saja nona direktur itu langsung mendelik ke arah Bian.
"Jangan pernah melakukan hal seperti itu lagi!" Mia menuding ke arah Bian.
__ADS_1
"Bukankah katamu aku harus berpura-pura menjadi pacarmu? Jika sikapmu kaku seperti itu, aku pastikan kedua orangtuamu akan curiga," Bian memberi alasan.
Mia kembali berdecak sekaligus memutar bola matanya.
"Cepatlah mandi! Aku akan menunggumu," ujar Mia dengan nada malas. Gadis itu mendaratkan bokongnya di kasur kecil milik Bian.
Sempit sekali tempat tidur ini.
Apa pria itu tidak akan terjatuh saat tidur di atasnya?
Bian melirik arloji yang melingkar di tangannya.
"Baru jam lima sore. Aku akan mandi satu jam lagi. Sekarang mungkin aku akan tidur dulu," secepat mungkin Bian menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang tadi diduduki oleh Mia.
Dan seketika tubuh Mia ikut terhempas dan gadis itu nyaris jatuh terjerembab ke lantai.
"Biaaan!" Suara Mia menggema di dalam kamar Bian. Buru-buru gadis itu bangkit dan memukul Bian dengan sekuat tenaga.
Apa sekarang dua musuh bebuyutan itu akan saling baku hantam?
"Siapa suruh duduk di situ? Pulang sana, dan jemput aku jam tujuh!" Perintah Bian seraya mengibaskan tangannya ke arah Mia. Mata pria itu terpejam seakan sedang pura-pura tertidur.
Mia masih berdiri bersedekap di samping Bian seraya melotot tajam ke arah pria tersebut.
"Jangan memelototiku seperti itu, Nona kaya! Bola matamu seakan ingin keluar dari tempatnya," sindir Bian masih dengan mata yang terpejam.
Mia hanya mendengus.
Gadis itu segera berbalik dan keluar dari kamar Bian.
Tak berselang lama terdengar deru suara mobil nona kaya itu yang semakin menjauh meninggalkan kafe Bian.
Bian memasang alarm di ponselnya sebelum memejamkan mata. Sepertinya tidak masalah Bian tidur barang satu jam. Berbelanja di mall dan menghabiskan uang nona Mia ternyata benar-benar membuat Bian lelah.
Mobil Ferrari merah menyala milik Mia berhenti tepat di depan kafe Bian.
Mia menekan klakson kuat-kuat untuk memanggil Bian yang belum terlihat batang hidungnya.
Jangan sampai pria brengsek itu masih tidur dan belum bersiap-siap.
Mia akan meledakkan kafe ini beserta Bian di dalamnya jika pria itu tidak segera keluar dalam sepuluh menit.
Sedetik kemudian, terdengar pintu kafe yang dibuka dari dalam.
Bian keluar dengan langkah pongah. Pria itu terlihat rapi mengenakan kemeja, celana jeans panjang dan rambut yang disisir rapi.
Wajahnya juga sudah mulus dan terbebas dari jambang-jambang liar yang tadi sore masih memenuhi wajahnya.
Bian bersiul saat melihat mobil merah menyala milik Mia. Tadi sore nona kaya itu sepertinya tidak membawa mobil yang ini.
Jadi, ada berapa sebenarnya mobil nona kaya sombong itu?
Apa dia punya showroom mobil yang berisi semua jenis mobil mewah?
Pintu mobil dibuka dari dalam.
"Kau akan masuk ke dalam atau hanya akan berdiri di situ seperti orang miskin yang tidak pernah melihat mobil mewah?" Sindir Mia pedas yang kini duduk di kursi pengemudi.
Bian hanya berdecak dan bergegas masuk ke mobil nona kaya tersebut.
"Kau mengemudikan mobil ini sendiri? " tanya Bian sedikit tidak percaya.
__ADS_1
"Ya. Apa kau mau menggantikanku mengemudikan mobil ini? Tapi aku yakin kalau kau pasti tidak bisa mengemudi," sahut Mia dengan nada mengejek.
Bian hanya mendengus.
"Aku akan belajar mengemudi mulai besok. Dan aku juga akan membeli mobil mewah seperti milikmu ini suatu hari nanti," timpal Bian seolah tak terima.
Mia hanya terkekeh mendengar kata-kata Bian barusan.
Membeli motor saja pria ini harus mengemis-ngemis pada Kyara. Dan sekarang dia bermimpi membeli mobil mewah seperti ini?
Sepertinya hidup pria ini terlalu banyak di habiskan untuk bermimpi dan berhalusinasi.
Mia memilih untuk mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Gadis itu fokus pada jalanan di depannya yang sedikit padat malam ini.
Mungkin karena ini adalah malam minggu.
Bian sedikit melirik ke arah Mia dan memperhatikan penampilan nona kaya tersebut.
Perasaan Bian saja, atau nona kaya ini memang selalu terlihat anggun mengenakan semua model baju?
Apa semua nona kaya memang seperti itu?
Mungkin karena uang mereka banyak dan baju-baju yang mereka kenakan berharga mahal, jadi mereka selalu terlihat cantik dan anggun.
Malam ini Mia mengenakan rok panjang sebetis dan blouse berkerah tinggi dengan lengan panjang yang terlihat sangat pas di tubuhnya.
Rambut Mia yang bergelombang dibiarkan tergerai begitu saja.
"Apa ada skenario yang perlu aku hafalkan malam ini?" Tanya Bian memecah keheningan diantara diriya dan Mia.
"Tidak ada. Kau sangat ahli dalam hal berbohong dan menipu. Jadi aku yakin kau tidak akan butuh skenario atau semacamnya," jawab Mia menyindir.
Bian berdecak,
"Bagaimana jika kedua orangtuamu bertanya apa pekerjaanku? Haruskah aku mengaku kalau aku juga seorang direktur sepertimu?" Tanya Bian lagi. Kali ini terdengar nada kekhawatiran dalam nada bicara Bian.
Mia menghentikan mobilnya karena lampu lalu lintas berwarna merah. Gadis itu menoleh ke arah Bian,
"Katakan saja apa adanya. Orangtuaku tidak pernah melihat orang dari pekerjaan serta statusnya." Jawab Mia dengan nada tegas.
Bian tertawa renyah,
"Sangat berbeda denganmu yang suka menindas dan merendahkan orang miskin seperti diriku. Apa kau bukan anak kandung dari orang tuamu?" Timpal Bian masih terkekeh.
Terang saja, kata-kata Bian barusan langsung membuat Mia mendelik ke arah pria tersebut.
Kalau saja Mia tidak membutuhkan kehadiran pria ini demi menyelamatkan dirinya dari sebuah perjodohan konyol, mungkin Mia sudah menendang pria tak tahu diri ini dari dalam mobilnya.
Namun Bian pura-pura cuek dengan pandangan membunuh dari Mia. Pria itu memilih untuk membuang pandangannya ke jalan di depannya,
"Lampu sudah hijau, Nona kaya. Kau ingin menjalankan mobil ini atau hanya ingin memarkirnya di sini?" Sergah Bian masih memandang ke jalan di depannya.
Mia berdecak sebelum menginjak pedal gas dengan kasar, yang membuat Bian langsung tersentak ke belakang karena kaget. Pria itu berulang kali mengumpat dalam hati.
Dasar nona kaya baperan!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote nya 💕