
"Apa saya mengganggu pasangan yang tengah kasmaran ini?" Suara Abram yang entah sejak kapan ada di dekat Mia dan Bian lumayan membuat pasangan bukan pacar itu terkejut.
"Sama sekali tidak, Tuan Abram. Kami hanya sedang menikmati suasana malam dari atas gedung anda yang indah ini," sahut Bian dengan nada sesantai mungkin.
"Para tamu sedang berdansa di dalam, Nona Mia. Izinkan saya mengajak anda berdansa malam ini, sebagai teman," Abram mengulurkan tangannya ke arah Mia dan sedikit membungkuk pada nona direktur tersebut.
Mia sungguh membenci momen seperti ini. Tapi Mia juga tidak bisa menolak karena pria ini meminta dengan sopan dan lemah lembut.
Oh, astaga!
Mia memaksa tersenyum dan menyambut uluran tangan dari Abram.
"Semoga anda tidak merasa keberatan, tuan Bian." Abram ganti menatap ke arah Bian.
Bian hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Mia menggamit lengan Abram dan mengikuti langkah pria tersebut.
"Selamatkan aku dari pria brengsek ini!" Mia masih sempat berbisik di telinga Bian sesaat sebelum gadis itu meninggalkan balkon dan masuk ke dalam ballroom hotel bersama Abram.
Bian hanya bergeming di tempatnya dan memandang ke arah Mia hingga nona direktur itu tak terlihat lagi.
*****
"Apa kau yakin, Bian bukan pacar sewaanmu?" Tanya Abram menyelidik.
Dua direktur muda yang sedang berseteru tersebut, sedang berdansa mengikuti alunan musik lembut yang terdengar di segala sudut ballroom hotel.
"Bian pacarku. Kami sudah enam bulan berpacaran. Jadi jaga mulutmu yang tidak sopan itu!" Dengkus Mia emosi.
Namun sebisa mungkin nona direktur itu menjaga suaranya agar tidak terdengar oleh pasangan lain yang juga sedang berdansa di dekatnya.
"Kau tidak pernah mengenalkannya ke publik. Bahkan baru malam ini kau mengajaknya pergi ke pesta. Apa kau terlalu malu untuk mengakuinya?" Ejek Abram seraya tertawa kecil.
"Dia tipe pria sederhana dan tidak terlalu suka dengan pesta seperti ini. Sama sepertiku yang juga tidak suka dengan pesta bodoh seperti ini," sahut Mia dengan nada ketus.
Di mana pria bodoh itu?
Apa dia pingsan di balkon dan tidak berani menjemputku ke sini
Mia berulang kali menggerutu dalam hati karena Bian yang tak kunjung datang untuk menyelamatkannya dari pria brengsek bernama Abram.
Semakin lama berdansa dengan pria brengsek ini, Mia semakin merasa muak. Kalau bukan atas nama sopan santun dan etika di hadapan tamu-tamu terhormat yang hadir, mungkin Mia sudah menendang pria brengsek nan mesum ini dari hadapannya.
"Ehem!" Deheman dari Bian yang kini berdiri di belakang Mia, seketika membuat Mia menghela nafas lega.
"Saya ingin menjemput bidadari saya, tuan Abram. Semoga anda tidak merasa keberatan," Bian sedikit membungkuk dan meminta izin pada Abram.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, tuan Bian. Silahkan!" Abram memberikan tangan Mia yang sedari tadi di genggamnya pada Bian.
Dua pria yang baru saja bertemu dan berkenalan tersebut, saling melemparkan tatapan tajam.
Mia sudah lepas dari Abram brengsek. Dengan cepat Bian merangkul pinggang nona direktur tersebut.
"Selamat menikmati pesta malam ini," Abram melangkah mundur, sedikit menjauh dari Mia dan Bian. Namun netra pria itu masih menatap tajam pada pasangan yang terlihat janggal tersebut.
"Apa yang kamu lakukan?" Mia sedikit berjenggit karena rangkulan tangan Bian di pinggangnya yang terasa semakin erat.
"Kita akan berdansa, nona kaya! Jadi kalungkan kedua lenganmu itu di leherku!" Perintah Bian seraya berbisik pada Mia.
Mia mengernyit,
Yang benar saja.
Apa pria brengsek ini mau memanfaatkan keadaan.
Bian masih menatap tajam ke arah Abram yang belum juga melepaskan pandangannya pada Mia.
"Abram sedang menatap curiga pada kita berdua. Apa kau mau berdansa lagi dengan pria brengsek itu?" Bisik Bian sekali lagi.
Mia buru-buru mengalungkan kedua lengannya ke leher Bian dan Bian semakin mengeratkan tangannya di pinggang Mia.
"Apa kau sering melakukan hal ini bersama nona kaya selain diriku?" Tanya Mia curiga.
"Ini yang pertama kali. Tapi aku adalah pria cerdas. Jadi aku banyak belajar bagaimana harus bersikap seperti pria kaya, meskipun aku bukan putra konglomerat," jawab Bian dengan ekspresi wajah pongah.
"Serius? Apa kau mengambil kelas dansa?" Tanya Mia lagi yang masih penasaran.
Bian tersenyum simpul,
"Aku mempelajarinya dari film yang aku tonton, nona Mia," tukas Bian yang langsung membuat Mia berdecak tak percaya.
Astaga!
Ternyata aku hanya menjadi kelinci percobaan pria brengsek ini.
"Apa dia masih melihat ke arah kita?" Tanya Mia penasaran. Posisi Mia membelakangi Abram sekarang. Jadi Mia tidak bisa melihat wajah pria brengsek itu.
"Ya, dan dia sudah beranjak lagi dari duduknya dan berjalan ke arah sini. Sepertinya tuan muda kaya itu tergila-gila padamu," bisik Bian seraya terkekeh.
"Dia hanya ingin membuktikan kalau kau hanya pacar sewaanku," timpal Mia berdecak sebal.
"Apa kau sungguh tidak ingin berdansa lagi dengan pria itu?" Tanya Bian sekali lagi.
Netra Bian masih menelusur ke arah Abram yang kini semakin mendekat ke arah Bian dan Mia.
__ADS_1
"Aku tidak mau!" Jawab Mia cepat.
"Baiklah, akan aku selesaikan malam ini. Kuharap kau tidak akan membunuhku setelah ini"
Cup!
Bian menautkan bibirnya ke bibir Mia secara tiba-tiba.
Nona direktur itu langsung berjenggit kaget karena Bian yang sudah lancang mencium bibirnya tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Mungkin Mia akan menghadiahi pria ini sebuah tamparan saat pulang nanti.
Tapi untuk saat ini,
Tidak ada salahnya 'kan jika Mia menikmati ciuman hangat dari bibir Bian?
Satu detik,
Dua detik,
Bian masih belum melepaskan bibirnya dari bibir nona Mia.
Abram mematung di tempatnya saat melihat Bian yang mencium Mia dengan sangat intim.
Pria itu terlihat menghela nafas sangat dalam, sebelum akhirnya berbalik dan menyapa tamu lain yang hadir.
Setelah memastikan Abram tak lagi melihat ke arahnya, Bian buru-buru melepaskan tautan bibirnya di bibir Mia.
Mia langsung mendelik ke arah Bian.
Namun sebisa mungkin Bian mengabaikan pandangan membunuh dari nona Mia tersebut.
"Aku baru saja menyelamatkanmu dari seorang pria brengsek. Bukankah seharusnya kau berterima kasih?" Ujar Bian sarkas.
"Kau sudah lancang, tuan Bian! Aku bahkan belum memberimu izin untuk menciumku," sergah Mia bersungut-sungut.
"Anggap saja sebagai balasan atas sikapmu yang memaksa untuk menciumku tempo hari. Bibirku tak lagi perjaka karena ulahmu waktu itu," Bian mencari alasan.
Mia berdecak,
"Kau pikir aku akan percaya?" Sindir Mia pedas.
Bian mengendikkan bahu,
"Aku sangat menjaga bibirku yang berharga ini, dan tidak akan sembarangan berciuman dengan gadis asing. Namun seorang nona direktur yang amnesia malah merenggut ciuman pertamaku dengan paksa dan membuat bibirku kehilangan keperjakaannya," tutur Bian panjang lebar.
Apa pria itu baru saja mengucapkan satu kalimat panjang dalam satu tarikan nafas?
__ADS_1