
Andri dan Alina kini sudah tiba di sebuah Puskesmas yang ada di sebuah desa yang cukup terpencil.
Menurut info yang Andri dapatkan, ada korban kecelakaan yang dibawa ke puskesmas ini beberapa hari yang lalu.
Andri sungguh yakin kalau itu adalah putrinya, Mia.
Andri dan Alina langsung menemui beberapa perawat yang ada di ruang UGD puskesmas tersebut.
Tak lupa, Andri juga membawa foto Mia agar lebih mudah saat bertanya pada perawat-perawat tersebut.
"Nona ini memang sempat mendapat perawatan di sini beberapa hari yang lalu, Pak" seorang perawat akhirnya mengenali foto Mia dan mengaku memang melihat Mia di puskesmas tersebut.
"Lalu sekarang dia di mana, Sus?" Tanya Alina tak sabar.
Alina benar-benar khawatir dengan kondisi Mia saat ini.
"Saya kurang tahu, Bu. Suaminya langsung membawanya pulang malam itu karena memang tidak ada luka serius. Hanya cedera di kepala saja," jawab perawat itu.
Sontak Andri dan Alina langsung berpandangan tak percaya.
"Suami?" Tanya Andri dan Alina berbarengan membuat perawat tadi gelagapan.
"Anak saya belum menikah, Sus!" bantah Andri dengan cepat.
Perawat tadi tampak terkejut.
"Tapi, Pak. Ada laki-laki yang mengantar nona di foto ini dan nona itu juga mengakui kalau itu adalah suaminya." perawat tadi ikut-ikutan membantah.
Alina dan Andri semakin mengernyit bingung.
Bagaimana mungkin Mia punya suami?
"Apa anda yakin kalau gadis itu sama seperti yang ada di foto ini?" Alin memastikan sekali lagi. Mungkin saja perawat ini salah lihat atau lupa.
"Saya yakin, Bu. Saya masih mengingatnya dengan jelas karena setelah nona itu tidak ada lagi yang datang ke UGD ini," jelas perawat tersebut dengan raut meyakinkan.
Andri memijit dahinya yang mendadak terasa pening.
Kenapa semuanya jadi serumit ini?
Dan daerah ini juga terpencil dan jauh dari jalan utama.
Andri tidak mengerti kenapa Mia bisa sampai ke tempat antah barantah ini.
"Apa tidak ada alamat yang ditinggalkan oleh laki-laki yang membawa putri saya, Sus?" Andri masih berharap.
Namun gelengan dari perawat tersebut seketika membuat harapan Andri menguap pergi.
"Sepertinya laki-laki itu bukan warga kampung sini, Pak," Ujar perawat tadi
"Mungkin bapak bisa mencarinya ke desa sebelah," tambah perawat itu lagi sedikit memberikan saran.
"Pa, bagaimana ini?" Alina menarik-narik lengan Andri.
Nampak sekali raut kekhawatiran di wajah wanita paruh baya tersebut.
""Iya, tenang dulu, Ma!" Andri merangkul pundak istrinya tersebut mencoba untuk menenangkannya. Meskipun jujur dalam hatinya Andri juga merasakan kekhawatiran yang sama seperti yang dirasakan oleh Alina.
__ADS_1
*****
Bian sedang mempraktekkan cara mencuci baju yang benar pada Mia.
Gadis itu tampak menyimak dengan seksama dan antusias.
Bagi Mia ini seperti hal baru yang belum pernah Mia lakukan sebelumnya.
Bukankah ini aneh?
Kalau memang dirinya dulu sering melakukan kegiatan seperti ini, bukankah seharusnya Mia mengingat semuanya?
Tapi Mia benar-benar tak bisa mengingat apapun. Mia seperti terlahir sebagai orang asing di tempat asing dan terpencil.
Dan semalam Mia bermimpi kalau dirinya adalah seorang bos di sebuah perusahaan, buka gadis desa ataupun istri dari seorang kurir makanan miskin semacam Bian.
Ah, aneh sekali.
"Maymunah!" Teguran dari Bian langsung membuat semua lamunan Mia buyar.
"Eh, iya mas?" Tanya Mia gelagapan.
"Ini! Kamu cuci semuanya. Jangan melamun!" Tegur Bian dengan nada galak.
Mia menatap pada tumpukan baju di hadapannya.
Mencuci di sungai dengan memakai sabun colek, lalu menggosoknya di atas batu besar?
Mia bahkan baru tahu hari ini jika ada teknik mencuci sekuno ini.
"Mas, kenapa gak beli mesin cuci atau di laundry aja sih?" Sekali lagi Mia melayangkan protes yang membuat Bian berdecak.
"Ya kan May cuma tanya, Mas.
Lagipula Mas kan kerja. Trus duitnya ke mana?" Tanya Mia masih kepo.
"Buat makan, lah" jawab Bian cepat.
"Aku itu cuma kurir makanan, May. Bukan direktur yang gajinya berjuta-juta. Jadi maaf kalau aku gak bisa beliin mesin cuci buat kamu," tambah Bian lagi.
Pria itu melempar dengan kasar baju yang sudah selesai ia cuci ke dalam keranjang.
"Kenapa tidak mencari pekerjaan lain yang lebih tinggi gajinya?" Tanya Mia lagi. Gadis ini sepertinya suka sekali menanyakan semua hal secara mendetail.
Bian tertawa kecut,
"Tidak segampang itu, May. Mencari pekerjaan di kota hanya bermodalkan ijazah SMA itu sulit" tukas Bian sambil menerawang.
Kalau saja punya modal, Bian akan memilih untuk membuka usaha sendiri saja.
Rumah makan mungkin, atau usaha lain dalam bidang kuliner.
Ah, itu adalah mimpi Bian sejak lama.
Sayang, Bian tidak pernah bisa mengumpulkan modal untuk mimpi dan cita-citanya tersebut.
Kebutuhan hidup yang kian hari kian mencekik sungguh tidak sepadan dengan gaji hariannya sebagai kurir makanan.
__ADS_1
Namun Bian terpaksa melakoni pekerjaan tersebut demi menyambung hidupnya daripada hanya menjadi pengangguran atau sampah masyarakat.
Mia hanya mengendikkan bahu.
"Kenapa aku mau menikah dengan pria miskin sepertimu? Bahkan aku sama sekali tak bisa mengingat alasanku memilihmu sebagai suami." Mia mengungkapkan uneg-uneg yang mengganjal di hatinya beberapa hari terakhir.
"Cinta buta" jawab Bian sekenanya.
Bian sedang malas membuat karangan indah untuk menjelaskan pada gadis di hadapannya tersebut.
"Lagipula, meskipun aku miskin, wajahku lumayan tampan. Bukankah kau selalu berkata begitu" tambah Bian sambil beranjak dari tempatnya semula.
Mia hanya mencibir.
"Selesaikan semuanya, Maymunah! Aku akan mencari kayu bakar dan makanan untuk kita makan malam nanti" ujar Bian sambil berlalu pergi dari tempat tersebut.
Mia akhirnya menggantikan posisi Bian dan lanjut mencuci tumpukan baju di hadapannya.
Meskipun Mia masih sedikit bingung, namun Mia tetap mencuci sebisanya.
Namun baru dua helai baju, tangan Mia mendadak terasa perih.
Mia memperhatikan dengan seksama, dan benar saja tangan mulusnya sudah lecet mengerikan sekarang.
Rasanya sangat perih.
Kenapa Mia harus hidup sebagai orang miskin begini, sih?
Mia berulang kali menggerutu dan mengaduh menahan perih di sekujur tangannya.
"Lama-lama tanganku bisa di amputasi kalau aku terus mencuci seperti ini" Mia kembali mengeluh untuk kesekian kalinya.
Setelah hampir satu jam menahan perih, akhirnya tumpukan baju kotor di hadapan Mia sudah habis.
Huh, Mia bisa bernafas lega sekarang.
Susah payah Mia bangkit dari batu besar itu, dan membawa keranjang berisi baju yang sudah selesai di cuci untuk pulang ke rumah Bian.
*****
Sudah beberapa warga yang Andri tanyai tentang Mia. Namun tak ada satupun dari mereka yang merasa pernah bertemu dengan Mia.
Andri mulai putus asa sekarang.
Alina kembali berurai airmata. Sepertinya wanita itu benar-behar khawatir dengan kondisi Mia.
"Mungkin sebaiknya kita pulang, Ma" tukas Andri pada akhirnya.
Andri benar-benar sudah menyerah. Mia pasti pulang ke rumah jika gadis itu memang masih hidup.
"Lalu Mia bagaimana, Pa? Bagaimana jika Mia di culik okeh orang jahat?" Alina kembali terisak.
Andri segera merengkuh istrinya tersebut ke dalam pelukannya.
"Mia gadis yang cerdas. Jika memang Mia selamat, dia pasti akan pulang, Ma." Andri berusaha untuk tetap optimis. Meskipun jauh di dalam hatinya ada kekhawatiran yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Papa akan menyuruh orang untuk mencari keberadaan Mia. Sekarang lebih baik kita pulang dulu, Ma" ucap Andri berusaha menenangkan sang istri.
__ADS_1
Meskipun berat, Alina akhirnya menurut dan pasangan suami istri itupun kembali ke kota sore itu juga.