
Flashback on
Mia memutuskan untuk berlibur ke Pulau Dewata selama tiga hari demi melupakan sakit hatinya pada Steve. Gadis itu mencoba menikmati liburan serta merilekskan otak dan pikirannya.
Sore ini, Mia sedang menikmati suasana sore di pantai yang tak jauh dari hotel tempatnya menginap.
Mia hanya duduk di tepi pantai seraya menikmati matahari yang hampir tenggelam. Deburan ombak yang bergulung-gulung, sesekali menyapu kaki Mia dan menimbulkan sensasi geli.
"Nona Mia Hendrawan," suara dari seorang pria yang menyebut namanya, langsung membuat Mia menoleh.
Wajah itu, tentu saja Mia mengenalnya.
Putra tunggal dari perusahaan Alexander yang sering menangani proyek-proyek besar. Sayangnya pria dengan wajah rupawan itu, kelakuannya berbanding terbalik dengan paras tampannya.
"Abram Alexander, sedang mencari mangsa di sini?" Sindir Mia pedas.
Pria bernama Abram itu segera duduk di samping Mia dan ikut menikmati matahari yang perlahan turun menuju ke peraduannya.
"Aku sudah mendapatkan mangsa yang cantik dan mempesona sore ini, " Abram mengulurkan tangannya dan hendak mengusap pipi mulus Mia. Namun dengan sigap Mia memegang tangan kokoh itu dan segera menyentaknya dengan kasar.
Abram mendengus kesal.
"Kasar sekali, nona Mia! Apa kau selalu sekasar ini pada setiap pria yang mendekatimu?" Tanya Abram menyelidik.
"Hanya pada pria brengsek sejenis dirimu." Mia menuding seraya mendelik ke arah Abram.
Abram tersenyum simpul,
"Pantas saja sampai sekarang kau masih sendiri." Gumam Abram yang masih bisa di dengar dengan jelas oleh Mia.
Namun Mia memilih untuk mengabaikannya.
"Aku jadi punya ide, bagaimana kalau kita menikah saja? Aku yakin perusahaan kita berdua akan berkembang pesat jika kita menikah, Mia" lanjut Abram seraya berbisik lembut di telinga Mia.
Mia tertawa sinis,
"Aku tidak tertarik untuk menikah ataupun menjalin bisnis dengan pria brengsek sepertimu. Entah sudah berapa wanita yang kamu tiduri. Menjijikkan sekali," Mia bergumam sambil begidik ngeri.
"Mereka yang datang kepadaku dan terpesona dengan ketampanan serta kekayaanku, jadi jangan salahkan aku yang akhirnya menjadi pria brengsek. Apa kau juga haus belaian pria tampan sepertiku, nona Mia? Aku bisa memuaskanmu malam ini," ujar Abram dengan seringai menjijikkan.
Astaga,
Mia sungguh ingin membenamkan kepala pria brengsek ini ke dalam pasir pantai sekarang.
Mia menghela nafas sebelum menjawab kata-kata dari pria mesum di hadapannya tersebut,
"Aku rasa sudah ada sekretaris gatal yang sekarang sedang menunggu untuk kamu belai di kamarmu. Jadi aku akan menolak tawaranmu barusan," tukas Mia seraya bangkit dari duduknya.
Rambut panjang Mia yang tergerai berkibar tertiup angin pantai yang berhembus lumayan kencang sore ini.
Gadis itu segera berlalu dari hadapan Abram brengsek yang otaknya hanya berisi hal-hal mesum tersebut.
Mia tak percaya, kelakuan buruk Abram itu sangat bisa tertutupi oleh image keluarganya yang terkenal sebagai keluarga terpandang dan terhormat pemilik kerajaan bisnis.
Sungguh pria yang menjijikkan.
Mia berharap tidak akan pernah bertemu dengan pria brengsek itu lagi.
Flashback off
__ADS_1
Abram masuk ke dalam ruangan Mia dengan senyuman ramah yang di buat-buat. Dasar pria brengsek!
"Selamat siang, om Andri. Apa saya mengganggu?" Abram menyapa papa Andri dan segera mencium punggung tangan pria paruh baya tersebut.
Mia masih bersedekap dan menatap kesal ke arah dua pria yang kini sedang berbasa-basi tersebut.
"Tidak sama sekali, Abram, " papa Andri membalas sapaan Abram dengan senyuman ramah.
"Selamat siang nona Mia. Kantormu sungguh indah dan mewah. Senang akhirnya bisa berjumpa denganmu," Abram menyapa Mia dan meraih tangan gadis itu untuk ia kecup.
Mia membiarkannya, meskipun matanya tetap menyorotkan kekesalan dan hatinya tak berhenti menggerutu.
"Silahkan duduk, Abram!" Papa Andri mempersilahkan pengusaha muda itu untuk duduk di sofa.
Sedikit malas, namun Mia tetap mengikuti dua pria itu dan ikut duduk di sofa yang ada di ruangannya tersebut.
"Jadi, apa sudah ada jawaban untuk lamaranku kemarin?" Tanya Abram to the point.
Mia berdecak,
"Tentu saja, saya menolak lamaran dari anda, tuan Abram yang terhormat," jawab Mia cepat sambil menekankan setiap kata yang ia ucapkan.
"Mia!" Papa Andri segera menegur Mia yang sudah bersikap kurang sopan tersebut.
"Maaf atas sikap Mia yang kurang sopan ini, Abram" timpal papa Andri merasa tak enak hati.
Mia hanya mendengus kesal.
Kenapa juga papanya ini bersikap sok manis pada pria brengsek ini.
"Berikan satu alasan kenapa anda menolak lamaran saya," tanya Abram seraya memasang senyuman licik.
Mia benar-benar kesal pada pria di hadapannya tersebut.
Papa Andri yang sedari tadi duduk di samping Mia langsung terkejut dengan pengakuan Mia barusan.
Sejak kapan putrinya itu punya pacar?
Bahkan tadi sebelum Abram datang Mia sama sekali tidak mengatakan kalau dia sudah punya pacar.
Namun raut serius di wajah Mia membuat papa Andri yakin kalau putrinya tersebut tidak mengada-ada.
Abram tertawa renyah seraya bertepuk tangan kecil,
"Itu berita bagus, nona Mia. Seorang nona Mia yang katanya membenci semua pria akhirnya mempunyai seorang pacar. Saya sangat tidak sabar bertemu dengan pria yang berhasil menaklukkan hati anda,"ujar Abram masih tertawa.
Berbeda dengan Mia yang harus menahan geram dan tak berhenti menggerutu dalam hati.
Pacar?
Pacar yang mana?
Mia bahkan tidak dekat dengan pria manapun belakangan ini.
Tapi Mia juga tidak mau dijodohkan dengan pria brengsek ini, jadi jangan salahkan Mia jika akhirnya dia terpaksa membual dan mengaku sudah memiliki pacar. Entah pria mana yang akan Mia minta jadi pacar pura-puranya nanti.
Abram ganti menatap ke arah papa Andri,
"Baiklah, Om. Saya akan membatalkan lamaran saya tempo hati pada putri anda. Saya sungguh tidak ingin menjadi perusak hubungan putri anda dan pacarnya," Abram berkata dengan tutur yang manis.
__ADS_1
Dan papa Andri hanya tersenyum seraya mengangguk.
"Dan saya akan mengundang om Andri dan nona Mia beserta pacarnya untuk datang ke pesta perusahaan dua minggu lagi," imbuh Abram seraya tersenyum licik pada Mia.
"Saya sangat tidak sabar bertemu dengan pacar anda, nona Mia," lanjut Abram lagi yang langsung membuat Mia berdecak berulang kali.
"Saya pasti datang, tuan Abram. Kita akan bertemu dua minggu lagi," sergah Mia dengan nada geram.
Terserah saja, Mia akan menemukan pria yang mau jadi pacar pura-puranya. Mia punya banyak uang, jadi Mia pasti bisa membayar pria mana pun yang Mia mau untuk menjadi pacar pura-pura Mia.
"Terima kasih Abram atas kunjunganmu hari ini," papa Andri mengikuti Abram yang sudah beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Saya senang bisa berkunjung ke kantor putri anda, Om Andri. Saya pamit pulang. Selamat siang," Abram menjabat tangan papa Andri dan mengecup tangan Mia sebelum keluar dari ruangan tersebut.
Sesaat setelah kepergian Abram, Mia buru-buru membuka lemari pendingin yang ada di ruangannya dan mengambil satu botol air mineral dingin.
Gadis itu segera meneguk air di botol dalam satu tegukan besar, seperti sedang meluapkan emosinya.
"Jadi, kenapa kamu tidak pernah cerita ke papa soal pacarmu itu?" papa Andri memecah keheningan di antara dirinya dan putrinya tersebut.
Mia sedikit tersedak mendengar pertanyaan dari sang papa.
"Itu tidak penting, Pa!" Jawab Mia acuh.
"Kamu tidak berbohong 'kan, Mia?" Tuduh papa Andri mulai curiga.
"Tentu saja tidak. Kenapa Mia harus berbohong? Mia benar-benar punya pacar," jawab Mia cepat. Sebisa mungkin Mia menyembunyikan kegugupannya.
Jangan sampai papa tahu kalau aku berbohong.
Aku akan menemukan pria yang mau menjadi pacar bayaran untukku, dan masalah ini akan segera selesai.
Mia tak berhenti mensugesti dirinya sendiri.
"Jadi sejak kapan..." papa Andri tidak jadi melanjutkan kalimatnya karena ponsel di sakunya berdering. Buru-buru pria paruh baya itu mengangkatnya.
Papa Andri berbicara sebentar di telepon sebelum kembali menutupnya.
"Baiklah papa harus pergi karena ada tamu penting yang menunggu papa di kantor," ucap papa Andri kemudian.
Mia menghela nafas lega.
"Tapi papa tetap ingin bertemu dengan pacarmu itu. Semoga weekend ini kamu tidak keberatan membawanya ke rumah dan mengenalkan pada mama dan papa, " lanjut papa Andri lagi.
Oh, Mia tak jadi bernafas lega. Gadis itu memejamkan matanya beberapa saat sebelum menjawab permintaan dari sang papa.
Jika Mia tidak membawa pacar "halu"nya ke rumah, sudah bisa dipastikan kalau papa Andri akan memaksanya untuk menerima sebuah perjodohan bodoh lagi.
Tidak!
Mia tidak mau!
"Baiklah, Mia akan membawa pacar Mia ke rumah papa hari Sabtu malam," jawab Mia setenang mungkin.
Sebuah senyuman langsung terkembang di bibir papa Andri.
"Baiklah kalau begitu, papa pergi dulu. Sampai jumpa hari Sabtu, Mia," papa Andri mengecup kening putrinya tersebut sebelum berpamitan dan keluar dari ruangan Mia.
"Sial! Kemana aku akan mencari pria yang mau menjadi pacar bayaran?" Mia tak berhenti menggerutu sesaat setelah kepergian papa Andri.
__ADS_1
Mia merebahkan tubuhnya di sofa dan memilih untuk memejamkan matanya sejenak.
Kenapa semuanya bisa jadi serumit ini?