Nona Mia

Nona Mia
AKUR


__ADS_3

Satu bulan berlalu,


Galen sudah pulih dari sakitnya. Mia tak lagi melarang Galen bertemu dengan Bian.


Namun mengenai hubungan Mia dan Bian, entahlah masih saja rumit sampai sekarang.


Mike membuka pintu apartemen Mia, setelah mendengar bel berbunyi. Rupanya Bian yang datang mengantar Galen pulang.


Sudah dua hari Galen menginap di rumah Bian karena Mia ada urusan di luar kota.


"Malam, Bian," sapa Mike seraya mengusap punggung Galen yang kini ada di gendongan Bian. Sepertinya bocah itu sudah tertidur.


"Malam, Mike." Bian membalas sapaan dari Mike.


Entahlah, hati Bian masih saja cemburu setiap kali melihat Mike ada di dekat Mia ataupun di rumahnya seperti ini.


Bian sendiri masih tidak berani bertanya mengenai hubungan mereka, karena menurut Bian itu bukanlah haknya.


Bian bukanlah suami Mia. Jadi Bian juga tidak ada hak ikut campur tentang hubungan Mia bersama pria lain.


"Galen sudah tidur?" Tanya Mia yang baru datang dari arah ruang makan.


"Mommy!" Galen yang masing setengah mengantuk, menyapa Mia.


"Halo sayang. Mommy sudah pulang," Mia mencium Galen yang masih di gendong oleh Bian.


"Aku akan membawanya ke kamar," ujar Bian yang langsung di sambut dengan sebuah anggukan oleh Mia.


Mia membantu membukakan pintu kamar Galen.


Bian meletakkan Galen dengan perlahan ke atas ranjang,


"Papa!" Galen memanggil Bian yang baru saja akan keluar dari kamar Galen.


Bian kembali menghampiri Galen.


"Iya sayang. Ada apa?" Bian mengusap kepala Galen yang kini duduk di atas tempat tidurnya. Bocah itu masih terlihat mengantuk.


"Galen mau bobok sama papa," rengek Galen masih dengan mata yang terpejam.


Bian hanya tersenyum dan segera menemani Galen agar bocah itu kembali tidur.


Mia sudah tidak terlihat di depan kamar Galen.


Entahlah,


Mungkin nona direktur itu sedang mengobrol bersama Mike.


Bian pura-pura memejamkan mata, agar Galen juga cepat tidur. Namun ternyata papa Galen tersebut malah ikut tertidur bersama Galen.


****


Menjelang tengah malam, Bian terbangun dan menyadari kalau dirinya tertidur di kamar Galen.


Astaga!


Kenapa Mia tidak membangunkanku?


Bian beberapa kali mengusap wajahnya.


Galen sudah tertidur lelap. Bian bangun dengan perlahan dan keluar secara mengendap-endap dari kamar Galen.


Ruang tengah dan ruang tamu sudah gelap gulita.


Mungkinkah Mia juga sudah tidur?


Namun Bian melihat lampu di ruang makan masih menyala. Bian melihat sejenak ke ruangan tersebut.

__ADS_1


Mia sedang duduk termenung di salah satu kursi ruang makan sambil menggigit buah apel.


"Kenapa makan apel seperti itu?" Teguran dari Bian membuat Mia terlonjak kaget.


"Astaga! Kau mengagetkan saja!" Mia memukul bahu Bian karena kaget.


Bian hanya terkekeh.


Pria itu menuang air putih ke dalam gelas dan meneguknya hingga tandas.


Mia masih lanjut menggigiti buah apelnya tanpa mengupas ataupun memotongnya.


Bian yang gemas segera merebut apel itu dari tangan Mia dan membawanya ke dapur untuk mengupas serta memotongnya.


"Apa kamu masih takut dengan pisau?" Tanya Bian yang kini sibuk mengupaskan apel untuk Mia.


Mia mengikutin langkah Bian, dan kini mereka berdua sudah berdiri di depan meja dapur,


"Aku tidak takut melihatnya. Tapi aku masih gemetar jika harus memegangnya," jawab Mia terkekeh.


"Apa Mike sudah pulang?" Tanya Bian lagi.


"Mike langsung pulang saat kamu datang tadi," jawab Mia singkat.


Mia mengambil potongan apel yang sudah di kupas oleh Bian.


Bian mengambil beberapa apel lagi dari kulkas untuk ia kupas dan potong.


"Kenapa tidak mencari ART saja, jika kau masih takut pada pisau? Bukankah kau punya banyak uang?" Tanya Bian lagi.


"Aku punya ART. Tapi dia sedang cuti dan belum kembali sampai sekarang. Mungkin aku harus mencari ART baru," jawab Mia seraya terkekeh.


Wanita itu membawa sepiring buah apel yang sudah selesai dikupas oleh Bian ke meja makan.


Bian mencuci tangannya dan segera menyusul Mia untuk duduk di ruang makan.


"Kau terlihat lelah. Aku jadi tidak tega membangunkanmu," jawab Mia terkekeh. Bian ikut terkekeh.


Sesaat suasana hening.


Mia sudah menghabiskan sepiring buah apel tadi.


"Mau aku kupaskan buah lagi?" Tawar Bian memecah keheningan.


"Tidak, aku sudah kenyang," jawab Mia cepat.


Suasana kembali hening.


Bian memainkan pinggiran gelas yang ada di hadapannya.


"Jadi, sekolah koki dua tahun dan kau hanya membuka sebuah kedai es krim?" Gantian Mia yang memecah keheningan.


Bian terkekeh,


"Aku mengambil jurusan dessert dan patissier. Tadinya aku ingin sekalian membuka toko roti. Tapi aku lihat sudah terlalu banyak toko roti di kota ini, jadi aku memilih kedai es krim saja." Tutur Bian menjelaskan.


Mia hanya mengangguk,


"Lagipula, es krim di sukai oleh semua orang termasuk dirimu," imbuh Bian lagi menahan tawanya.


Mia mengernyit dan menatap tak mengerti ke arah Bian.


"Stok es krimmu di kulkas banyak sekali. Dan kenapa hanya ada rasa stroberi dan coklat?" Tanya Bian sedikit mengejek.


Terang saja, Mia langsung mencebik karena ejekan Bian barusan.


"Itu bukan es krim sembarangan. Itu obat penghilang stress kalau kau ingin tahu," Mia memberi alasan yang sontak membuat Bian tergelak.

__ADS_1


"Hentikan tawamu itu! Atau Galen akan bangun nanti," Mia kembali memukul bahu Bian


Bian langsung menghentikan tawanya. Pria itu melirik arloji di tangannya,


"Sebaiknya aku pulang sekarang," Bian sudah beranjak dari duduknya.


"Kau tadi ke sini naik apa?" Tanya Mia yang mengikuti langkah Bian menuju pintu depan.


"Naik taksi, jadi aku akan pulang naik taksi juga," jawab Bian cepat.


"Apa kau masih belum bisa mengemudi?" Tanya Mia yang kini bersedekap di depan pintu dan menghalangi langkah Bian.


Bian mengendikkan bahu,


"Tentu saja aku sudah bisa. Aku juga sudah punya SIM. Hanya saja aku belum punya cukup uang untuk membeli sebuah mobil," jawab Bian menjelaskan.


"Apa kau sudah tobat menjadi pria matre sekarang? Bukankah dulu kau suka merayu para nona kaya agar mereka membelikan barang-barang mewah untukmu?" Ejek Mia seraya terkekeh.


"Itu hanya masalalu, nona Mia yang kaya," sahut Bian seraya mengacak rambut Mia.


Mia dengan cepat menghentikan tangan Bian dengan tangannya. Nona direktur itu menatap tajam pada Bian.


Tatapan keduanya bertemu, dan mereka hanya saling diam tanpa berbicara sepatah katapun.


Mia cepat-cepat melepaskan tangan Bian dari genggamnya. Nona direktur itu sedikit salah tingkah.


"Aku boleh pulang sekarang?" Bian mengendikkan dagunya ke arah pintu yang ada di balik punggung Mia.


Mia mengambil sebuah kunci di meja panjang yang ada di dekat pintu masuk,


"Ini sudah tengah malam, aku yakin kau tidak akan mendapatkan taksi di depan sana," Mia menyodorkan sebuah kunci pada Bian.


Bian mengernyit tak mengerti,


"Pakai saja mobilku!" Imbuh Mia cepat seakan bisa menangkap raut bingung di wajah Bian.


Nona direktur itu meraih tangan Bian dan memaksa untuk memberikan kunci mobilnya pada Bian, lalu membuka pintu depan.


"Mobilmu ada banyak di basement. Aku harus memakai yang mana?" Tanya Bian bingung. Pria itu sudah melangkah keluar dari pintu apartemen Mia.


Mia tersenyum tipis,


"Memangnya yang mana lagi kesukaanmu selain si merah menyala?" Ucap Mia dengan nada menggoda,


"Selamat malam Bian!" pungkas Mia seraya menutup pintu apartemennya.


Bian hanya tertawa kecil. Dan segera melangkah menuju ke lift.


Hati Bian terasa berbunga-bunga sekarang.


****


Mia masih berdiri di dekat jendela besar yang ada di ruang tengah.


Mia tersenyum tipis saat melihat mobil Ferrari merah kesayangannya meluncur keluar dari basement gedung apartemen dan menembus heningnya jalanan malam.


.


.


.


Baper ya?


Sama 😷


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕


__ADS_2