Nona Mia

Nona Mia
TIDAK ADIL


__ADS_3

Dea membantu Bian yang tengah bersiap untuk pergi bersama nona Mia. Beberapa kali sepasang kekasih itu saling bersenda gurau membahas hal-hal lucu.


"Kau terlihat tampan malam ini," Dea memuji Bian sekali lagi.


"Terima kasih, aku memang sudah tampan sejak lahir," balas Bian menyombongkan diri. Terang saja hal itu langsung membuat Dea mencubit perut Bian.


Dan Bian langsung pura-pura mengaduh kesakitan.


"Kau cemburu aku pergi bersama nona Mia malam ini?" Tanya Bian menggoda.


Dea menunduk,


"Sedikit," jawab Dea lirih.


Bian meraup Dea ke dalam pelukannya.


"Aku hanya mencintaimu, Dea. Aku tidak ada perasaan apapun pada nona Mia yang sombong itu. Jadi kamu jangan khawatir," tukas Bian seraya mengecup kening Dea.


Gadis mungil itu mengangguk dan tersenyum. Tentu saja Dea percaya pada Bian.


"Baiklah, sudah siap semuanya. Sebaiknya kita turun sebelum nona sombong itu datang dan meledakkan kafe ini," ujar Bian seraya terkekeh.


Dea ikut terkekeh dengan candaan Bian barusan.


Sepasang kekasih itu pun turun ke lantai bawah. Dea kembali berjaga di belakang meja kasir, dan Bian masih berdiri di bawah tangga.


"Kau pulang jam berapa?" Tanya Dea yang kembali menatap pada Bian.


"Biasanya sampai tengah malam. Kau tidak perlu menungguku, aku membawa kunci cadangan. Kau bisa pulang jam sembilan," Bian sudah mendekat ke arah Dea dan mengusap lembut kepala kekasihnya tersebut.


Dea mengangguk dan membenarkan sekali lagi dasi Bian yang terlihat miring.


"Bian!" Suara Mia yang tiba-tiba sudah ada di dekat Bian dan Dea lumayan mengejutkan.


Kapan nona direktur itu sampai di sini?


"Selamat malam nona Mia," Dea yang terlebih dahulu menyapa Mia.


"Malam Dea," nona direktur itu membalas sapaan Dea dengan suara datar.


Malam ini Mia mengenakan gaun pesta selutut berwarna hitam. Bagian bawah gaun mengembang dengan garis leher lebar model sabrina, serta lengan sepanjang siku.


Potongan gaun itu terlihat sederhana, namun saat Mia yang mengenakannya, gaun itu menjadi terlihat mewah dan sangat pas menempel di badan Mia yang semampai.


"Kau sudah siap, Bian?" Tanya Mia pada Bian ýang malam ini terlihat tampan mengenakan setelan jas yang Mia kirim kemarin.


Bian mengangguk dengan cepat.


Mia segera berbalik dan melangkah ke arah pintu keluar kafe.

__ADS_1


"Aku pergi dulu, Dea," pamit Bian seraya mencium kening kekasihnya tersebut.


Setelah Dea mengangguk, Bian segera berlalu mengekori nona Mia yang kini sudah di luar kafe.


Bian sedikit celingukan karena tidak menemukan mobil Ferrari merah milik nona kaya tersebut.


Mia masuk ke dalam mobil lain berwarna hitam.


Bian segera menyusul nona direktur tersebut.


"Di mana Ferrarimu, nona?" Tanya Bian cengengesan.


Mia mendengus,


"Ada di basement apartementku. Aku sedang malas memakainya," jawab Mia ketus.


Bian hanya mengendikkan bahu.


"Kau tidak membawa supir?" Tanya Bian lagi.


Mia menatap ke arah pria yang kini sudah menjadi kekasih dari gadis lain tersebut.


"Supirku sedang sakit. Jadi aku mengemudi sendiri malam ini," tegas Mia masih dengan nada ketus.


Bian tak mengerti, ada apa dengan nona kaya ini?


Sejak tadi nada bicaranya ketus dan tak ada anggun-anggunnya. Padahal penampilannya sudah sempurna seperti bidadari, sayang tabiatnya masih saja seperti setan.


"Aku akan menikah dengan Dea sebentar lagi, tidak bisakah kau mencari pria lain saja sebagai pacar sewaanmu?" Bian memecah keheningan di antar dirinya dan Mia.


"Tidak bisa!" sahut Mia ketus


"Memangnya apa alasanmu memilih diriku ini menjadi pacar bayaranmu? Kenapa dulu kau tiba-tiba datang padaku, menawarkan bantuan untuk kafeku, lalu dengan entengnya memintaku menjadi pacar bayaran untukmu," Bian sepertinya mulai kesal dengan sifat ketus Mia malam ini.


Dasar nona direktur aneh!


Kalau memang dia marah atau benci pada Bian, kenapa masih mengajak Bian ke pesta malam ini?


"Karena kau pria paling brengsek yang ada di dunia ini. Kau pandai menipu dan berbohong...." Mia menjeda kalimatnya.


"Lagipula, hanya kau pria yang tahu semua hal tentang diriku. Kau satu-satunya pria yang pernah lancang mengaku sebagai suamiku," lanjut Mia lagi masih dengan nada ketus.


"Kalau begitu mulailah untuk mencari pacar agar kau tidak terus-terusan mengganggu dan merepotkanku!" Bian memberi saran dengan nada yang tak kalah ketus.


"Kau mau menjadi pacarku, Bian?" Sahut Mia cepat.


"Apa?" Bian pura-pura tuli.


"Apa kau mau jadi pacarku? Aku punya banyak uang, aku kaya dan punya segalanya. Bukankah kau pria mata duitan yang suka dengan nona kaya seperti diriku?" Ulang Mia sekali lagi.

__ADS_1


Bian tergelak,


"Apa kau sedang mabuk, nona kaya?" Bian menaruh punggung tangannya di kening Mia untuk memastikan kalau nona direktur itu tidak sedang mabuk atau demam atau meracau.


Mia membiarkannya saja.


"Aku tidak sedang mabuk. Kau menyuruhku mencari pacar, dan aku menurutinya. Aku memintamu untuk menjadi pacarku sekarang. Apa kau mau, Bian?" tukas Mia mengulangi pertanyaannya sekali lagi. Gadis itu masih fokus dengan jalanan di depannya.


"Tidak terima kasih. Aku sungguh tidak tertarik denganmu, nona kaya. Lagi pula aku sudah memiliki Dea yang sempurna. Jadi aku tidak akan berpaling pada gadis lain, termasuk dirimu," ujar Bian pedas.


Mia hanya mendengus,


"Aku jauh lebih sempurna ketimbang Dea, aku cantik, aku kaya, aku cerdas, aku punya segalanya," timpal Mia dengan nada yang mulai meninggi.


"Sayangnya sifat dan tabiatmu itu yang membuatku tidak akan pernah meyukaimu. Dan aku yakin bukan hanya aku satu-satunya pria yang tidak suka dengan tabiatmu itu," balas Bian mengejek.


Mia berdecak,


"Bagaimana denganmu? Kau juga seorang pria brengsek. Kau pernah memanfaatkan seorang gadis polos untuk ajang balas dendam. Kau juga pernah menipu seorang gadis amnesia untuk kamu jadikan pembantu di rumahmu. Bukankah kamu juga sama jahatnya seperti diriku?" balas Mia ketus.


"Tentu saja kita berbeda. Aku sudah berubah menjadi pria baik sekarang. Jadi jangan iri kalau akhirnya aku mendapatkan seorang pendamping hidup yang sempurna dan baik hati," Bian mencari pembenaran.


"Tetap saja kamu adalah pria jahat. Tidak adil rasanya jika kamu menikah dengan gadis yang sempurna dan baik hati," timpal Mia masih tak mau kalah.


"Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus menikah denganmu, si nona kaya yang jahat dan semena-mena? Begitu maumu?" Cecar Bian yang mulai emosi.


Mia hanya mengendikkan bahu.


"Silahkan kamu saja yang bermimpi menikah denganku. Tapi satu hal yang perlu kamu ingat, aku tidak akan pernah menikah dengan gadis seperti dirimu. Meskipun kamu kaya, cantik dan terhormat," pungkas Bian seraya bersedekap.


Ouuh, menyakitkan sekali kata-kata pria ini.


Mia menarik nafas dalam-dalam demi mengusir rasa nyeri yang mendadak hinggap di hatinya karena kata-kata pedas Bian barusan.


Nona direktur itu membelokkan mobilnya masuk ke halaman sebuah gedung mewah yang cukup terkenal. Mereka sudah sampai di tempat pernikahan Abram.


"Ini pesta pernikahan Abram. Pria itu masih ingin membuktikan kalau kamu hanya pacar sewaanku. Jadi aku harap kamu bisa kembali bersikap profesional malam ini dan melupakan perseteruan di antara kita malam ini," pesan Mia sebelum turun dari mobilnya. Ada sedikit nada memohon.


"Tentu saja, nona Mia yang terhormat. Mari kita turun bersama dan bersikap mesra," sahut Bian dengan nada mencibir.


Mia hanya menghela nafas dan segera turun dari mobilnya. Seperti sebelumnya, Mia menggamit lengan Bian dan keduanya melangkah ke dalam gedung bak sepasang kekasih yang sedang kasmaran.


.


.


.


Kok jadi mblundet begini ya 😧

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕


__ADS_2