
"Aku mencintaimu, Dea"
Satu kalimat yang didesahkan oleh Bian, cukup bisa membuat hati Mia yang tadinya berbunga-bunga menjadi hancur berantakan.
Mia membeku, airmatanya turun begitu saja di kedua pipinya.
Apa ini artinya Bian mengira kalau Mia adalah Dea?
Apa ini artinya Bian hanya mencintai Dea dan tidak ada perasaan sedikitpun pada Mia?
Pergulatan panjang itu sudah berakhir.
Bian sudah terlelap seraya melingkarkan lengannya di tubuh polos Mia.
Berbeda dengan Mia yang belum memicingkan matanya barang sedetik pun sejak tadi malam.
Sinar matahari menyusup masuk melalui celah-celah tirai yang menutup jendela kecil yang ada di kamar Bian.
Dengan hati-hati, Mia menyingkirkan lengan Bian dari atas tubuhnya. Pria itu masih tertidur lelap.
Mia memungut gaun tidurnya yang kini sudah sobek menjadi dua bagian.
Sama seperti hati Mia yang juga sudah sobek dan hancur berkeping-keping.
Dasar bodoh!
Mia tak berhenti merutuki kebodohannya sendiri.
Mia berjalan ke arah lemari Bian untuk mengambil baju Bian yang mungkin bisa Mia kenakan saat pulang ke apartemen.
Nona direktur itu menahan nyeri di pangkal pahanya karena perbuatan Bian brengsek semalam.
Yang pertama ternyata sungguh menyakitkan, tapi ini tak sesakit hati Mia sekarang.
Bian mencumbunya semalam dan mengambil hal paling berharga miliknya, tapi pria brengsek itu terus saja mendesahkan nama Dea.
Dasar brengsek!
Sekali lagi Mia mengumpat pada Bian yang masih terlelap.
Mia sudah selesai mengenakan celana training dan jaket hoodie milik Bian. Nona direktur itu segera keluar dari kamar Bian dan menuruni tangga dengan cepat.
Namun saat membuka pintu kafe, Mia terkejut karena berpapasan dengan Eve.
"Nona Mia?" Eve membulatkan matanya saat melihat nona Mia keluar dari kafe pagi-pagi dan...
Apa nona Mia mengenakan baju abang Bian?
Mia tak menjawab sapaan dari Eve.
Nona direktur itu menaikkan hoodie jaket hingga menutupi kepalanya dan segera berlalu dari hadapan Eve.
Mia masuk ke mobilnya dengan cepat dan segera tancap gas meninggalkan kafe Bian brengsek.
Mia membenci pria itu sekarang.
****
"Abang!" Eve memanggil Bian dari bawah tangga.
Namun tak ada jawaban.
Mungkin abangnya itu masih tidur.
Tapi apa yang dilakukan nona Mia pagi-pagi di kafe ini?
Tidak mungkin, kan nona Mia menginap di sini semalam?
Berbagai macam pertanyaan bercokol di benak Eve.
__ADS_1
Gadis itu memutuskan untuk membereskan area bawah kafe yang berantakan. Sebentar lagi pemilik baru kafe ini akan datang berkunjung.
Ya, Bian memutuskan untuk menjual kafe ini sebelum pergi ke Australia.
Bian akan memulai kehidupan baru di negeri kanguru tersebut.
"Hai, Eve! Kau datang pagi-pagi?" Bian menuruni tangga seraya menyapa Eve. Pria itu hanya mengenakan celana pendek selutut dan kaos oblong.
"Abang baru bangun?" Bukannya menjawab sapaan Bian, Eve malah balik bertanya.
Bian mengucek matanya dan menguap lebar. Entah kenapa badan Bian terasa remuk redam dan kepalanya sedikit berdentum.
Mungkin ini efek dari bir yang Bian minum semalam.
"Ya, abang sedikit pusing," jawab Bian sekenanya.
"Apa nona Mia menginap di sini tadi malam?" Tanya Eve lagi.
Bian sedikit terkejut dengan pertanyaan dari Eve.
Bian bahkan lupa kalau nona Mia tadi malam datang ke kafe ini mengenakan gaun tidur sialan itu.
Tapi apa yang terjadi semalam, Bian benar-benar tak bisa mengingatnya dengan jelas.
Jangan sampai Bian tidur dengan nona direktur itu.
"A...apa maksudmu, Eve? Aku tak tahu kalau nona direktur itu datang ke sini." Bian sedikit salah tingkah.
Eve menatap abangnya itu dengan tatapan tajam.
"Kalian tidak tidur bersama kan?" Tuduh Eve curiga.
"Tentu saja tidak!" Jawab Bian cepat.
Eve berdecak,
"Eve masih tak mengerti dengan hubungan rumit diantara abang dan nona Mia," gumam Eve seraya menggelengkan kepalanya.
Eve hanya mengendikkan bahu dan tidak mau membahas hal itu lagi.
Eve mengambil sesuatu dari dalam tasnya,
"Ini tiket dan paspor abang," Eve menyodorkan sebuah amplop panjang pada Bian.
Bian memeriksa sejenak isi amplop tersebut.
"Terima kasih, Eve" ujar Bian seraya tersenyum tulus.
"Dan orang yang membeli kafe ini akan datang siang nanti. Eve tidak bisa menemani abang untuk menemuinya karena Eve harus pergi bersama Steve pagi ini," imbuh Eve lagi.
"Kalian akan bulan madu?" Tanya Bian menggoda.
"Eve hanya menemani Steve menghadiri seminar di luar kota, Bang!" Sanggah Eve cepat.
Bian hanya terkekeh.
"Semoga abang benar-benar bisa bangkit dan melupakan semua hal menyakitkan ini setelah pindah ke luar negeti nanti." Eve memeluk Bian dengan haru.
"Abang akan berusaha, Eve," timpal Bian seraya menepuk-nepuk punggung adik perempuannya tersebut.
"Jadi kau tidak akan mengantar abang ke bandara lusa nanti?" Tanya Bian sekali lagi.
"Eve minta maaf, Bang" jawab Eve dengan nada bersalah.
Bian tersenyum lebar,
"Jangan terlalu di ambil pusing. Abang akan menghubungimu saat sudah tiba di sana. Kita akan sering berkomunikasi nanti," janji Bian pada sang adik.
Eve mengangguk dengan cepat dan kembali memeluk abang kesayangannya tersebut.
__ADS_1
****
Mia masih membenamkan tubuhnya di bathtube saat ponselnya berbunyi dengan nyaring.
Mia mengangkatnya dengan malas,
"Ada apa Adel?" Tanya Mia malas.
"Maaf nona, saya hanya mengingatkan kalau pesawat nona berangkat dua jam lagi," jawab Adel di seberang telpon.
"Baiklah. Siapkan saja berkas-berkas yang harus ku bawa. Supirku akan mengambilnya. Aku tidak ke kantor hari ini" titah Mia cepat.
"Baik, Nona. Selamat pagi." Jawab Adel sebelum menutup telepon.
Mia menyudahi ritual berendamnya dan segera bersiap-siap untuk perjalanan bisnis panjang dua pekan ke depan.
Mungkin dengan menyibukkan diri seperti ini, Mia akan bisa melupakan Bian dan menyembuhkan hatinya yang porak-poranda.
Kali ini Mia akan benar-benar melupakan pria brengsek itu. Mia tidak akan berhubungan lagi dengan semua hal yang menyangkut Bian brengsek.
****
Bian membereskan kekacauan yang ada di kamarnya.
Bian masih belum bisa mengingat apa yang terjadi semalam diantara dirinya dan nona Mia.
Netra Bian tak sengaja menemukan gaun tidur berwarna merah muda yang semalam Mia kenakan. Tapi kenapa gaun ini sudah sobek menjadi dua bagian? Apa yang sudah Mia lakukan pada gaun sialan ini?
Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di benak Bian.
Perasaannya mulai tak enak.
Jika benar Bian sudah tidur dengan nona Mia semalam, semoga Bian bukanlah pria pertama yang tidur bersama nona direktur sombong itu.
Namun sekali lagi, Bian harus merutuki dirinya sendiri saat mendapati bercak merah mirip darah di atas sprei tempat tidurnya.
Bian berulang kali memastikan kalau bercak itu hanya noda biasa dan bukan darah dari nona Mia.
Tidak!
Tidak!
Tidak!
Ini adalah darah.
"Ya Tuhan! Apa yang sudah aku lakukan tadi malam?" Bian mengacak rambutnya sendiri demi meluapkan rasa kesal sekaligus emosi di dadanya.
Bian sudah menyakiti hati Mia, dan semalam Bian juga sudah merenggut hal paling berharga milik nona direktur itu. Padahal jelas-jelas Bian dan Mia belum menikah.
Ini sebuah kesalahan besar, Bian!
Apa yang sudah kamu lakukan?
Mia!
Bian harus menemui Mia sekarang.
Bian akan minta maaf dan bertanggung jawab atas perbuatannya semalam.
Bian benar-benar tidak mau dihantui rasa bersalah seumur hidupnya.
Bian melirik arloji di tangannya,
Ah sial!
Pembeli kafe akan datang sebentar lagi.
Baiklah, Bian akan menemui Mia nanti saja setelah makan siang.
__ADS_1
Semoga nona direktur itu mau memaafkan semua kesalahan serta kebodohan Bian.