Nona Mia

Nona Mia
DIPECAT


__ADS_3

"Kamu saya pecat!" Kalimat singkat dari sang bos cukup membuat seorang Bian terkejut luar biasa.


Ada apa ini?


Kenapa mendadak bosnya memecat Bian?


Bian tak masalah jika harus mendengarkan omelan sang bos setiap hari asalkan dirinya tetap bisa bekerja di kedai pizza ini, tapi sekarang Bian dipecat?


Apa ini sebuah lelucon?


"Bos, salah saya apa?" Bian mencoba untuk membela diri.


Bian tidak bisa diperlakukan semena-mena seperti ini. Bian juga merasa tidak membuat kesalahan apapun, lalu kenapa sang bos mendadak memecat Bian?


"Kau bisa menanyakan kesalahanmu pada nona Mia. Silahkan pergi!" usir sang bos.


Apa?


Apa sang bos baru saja menyebut nama nona kaya galak itu? Ada hubungan apa bosnya ini dengan nona Mia? Apa bosnya ini adalah pria simpanan dari nona kaya nan galak tersebut?


Bian hanya menghela nafas dan segera berlalu keluar dari ruangan tersebut. Tak lupa Bian juga mengambil gaji terakhirnya yang diberikan oleh bosnya tadi.


'Awas kau nona galak!' Bian bergumam dalam hati.


Bian bakalan balas dendam pada nona kaya yang semena-mena itu.


****


Eve berulang kali menarik nafas panjang selama berada di dalam lift yang akan membawanya ke lantai paling atas dari gedung kantor tersebut.


Beberapa saat yang lalu, seorang rekan Eve memberitahu pada Eve kalau nona Mia memanggil Eve ke ruangannya.


Eve sudah menyangka ini akan terjadi.


Seharusnya Eve sadar diri dan resign secepatnya dari perusahaan ini beberapa hari yang lalu.


Tapi Eve juga masih membutuhkan gaji bulan ini untuk membayar uang kontrakan yang sudah menunggak satu bulan.


Bukankah seharusnya nona Mia berterima kasih pada Eve dan Abang Bian, karena mereka berdua sudah bermurah hati menampung nona direktur itu?


Ah entahlah, Eve enggan untuk memikirkan itu semua.


Andai saat itu Eve bersikap lemah lembut pada nona direktur itu...


Ting,


Bunyi lift yang memberi tanda bahwa Eve sudah sampai di lantai yang di tuju, sukses membuat Eve tersentak kaget.


Baiklah, Eve benar-benar gugup sekarang. Eve merasa seperti akan masuk tiang gantungan saja.


Gadis itu berulang kali meremas tangannya untuk menghilangkan rasa gugup di hatinya.


Eve menarik nafas panjang sekali lagi sebelum keluar dari lift.


Harapan Eve hanya satu sekarang, bisa pulang ke rumah dengan anggota tubuh yang lengkap dan masih bernyawa tentu saja. Jangan sampai nona Mia melempar Eve dari jendela kantornya, karena sikap abang Bian yang sudah kejam dan semena-mena pada nona direktur itu tempo hari.


"Eve!" Anggi yang berada di depan ruangan nona Mia menyapa Eve dengan ramah.


Ya, sekretaris nona Mia ini memang ramah dan sangat bersahabat. Berbanding terbalik dengan nona Mia yang ketus dan galak.


Eve sendiri kadang bertanya-tanya, kenapa Anggi begitu betah menjadi sekretaris dari seorang nona Mia?


"Hai, Anggi. Aku dengar nona Mia memanggilku" Eve membalas sapaan dari Anggi sambil sedikit berbasa-basi.


Anggi mengangguk,


"Masuklah! Nona Mia ada di dalam," ujar Anggi selanjutnya.


Gadis itu kembali larut dengan setumpuk kertas di hadapannya.


Mendadak dada Eve kembali terasa sesak.

__ADS_1


Oh Tuhan, semoga Eve tidak kena serangan jantung setelah ini.


Sedikit ragu, namun Eve tetap mengetuk pintu kaca di hadapannya tersebut.


"Masuk!" Suara Mia langsung terdengar dari dalam ruangan.


Eve mendorong pintu kaca itu perlahan, dan melangkah masuk ke ruangan kantor yang mewah itu.


Wow, ruangan ini sungguh mewah.


Eve baru kali ini masuk ke ruangan nona Mia, dan Eve langsung mengagumi interior di dalamnya. Namun sepertinya Eve tidak bisa berlama-lama mengagumi kantor indah ini. Karena sebentar lagi Eve mungkin akan di terkam oleh nona macan pemilik ruangan indah ini.


"Eve, akhirnya kita bertemu lagi." Mia menyapa Eve dengan nada sinis.


Eve hanya berdiri sambil menunduk ketakutan. Gadis itu tak berani menatap wajah nona Mia yang kini tampil anggun dengan setelan baju kerja berwarna krem. Sangat berbeda jauh dengan penampilan nona Mia saat tinggal bersama Eve.


"Aku tidak menyangka, kamu masih punya muka untuk tetap datang ke kantorku dan bekerja di sini, lalu minta gaji kepadaku," Mia sudah beranjak dari kursi kebesarannya dan kini menghampiri Eve yang masih menunduk ketakutan.


"Saya minta maaf, nona Mia" cicit Eve takut-takut.


Mia tersenyum simpul, lalu memperhatikan Eve dari ujung kaki hingga ujung kepala,


"Berapa bulan kau bekerja di perusahaan ini?" Tanya Mia selanjutnya.


"Ti...tiga bulan, Nona" jawab Eve lirih.


"Angkat kepalamu, nona miskin! Aku sedang berbicara kepadamu," gertak Mia pedas.


Eve langsung mengangkat kepalanya dengan cepat. Dan sekarang Eve bisa melihat wajah pongah nona Mia, dan netra hitam nona direktur itu kini sedang menatap tajam ke arah Eve.


"Bukankah seharusnya kau mengenali wajahku? Kau juga seharusnya tahu siapa aku. Lalu kenapa kau malah membantu abang brengsekmu itu untuk menipuku?" Tanya Mia dengan nada geregetan.


Nada bicara Mia sudah tak terkendali, sepertinya kemarahan nona direktur ini sudah di ubun-ubun.


"Sa... saya minta maaf nona. Saya siap dipecat," lirih Eve takut-takut.


"Aku tidak akan memaafkanmu ataupun abangmu yang brengsek itu. Aku akan terus membuat hidup kalian berdua menderita hingga kalian akan menangis darah setiap hari." Ancam Mia dengan penuh emosi. Terang saja hal itu semakin membuat Eve ketakutan.


"Pergi dari ruanganku dan dari gedungku. Dan jangan pernah sekalipun menampakkan wajah miskinmu itu di hadapanku, atau aku akan membuat wajah mulusmu itu menjadi cacat seumur hidup." Mia mengusir sekaligus mengancam Eve dengan kata-kata kejam.


"Dan gajimu bulan ini..." Mia menyodorkan amplop coklat berisi gaji Eve pada gadis tersebut.


Eve merasa ragu untuk menerimanya. Namun tak bisa dipungkiri kalau Eve juga membutuhkan uang itu untuk menunjang hidupnya sebulan ke depan, atau sampai Eve dapat pekerjaan baru.


"Ambillah!" Mia yang seakan paham dengan keraguan Eve kembali menyodorkan amplop tersebut.


Eve sudah mengulurkan tangannya untuk menerima amplop gaji tersebut. Namun dengan cepat Mia menarik keluar isi amplop tersebut dan menghamburkannya di depan wajah Eve. Terang saja hal itu langsung membuat Eve terkejut.


"Ambil!" Perintah Mia sambil menunjuk dengan dagunya lembaran-lembaran rupiah yang berserakan di lantai kantornya.


Eve masih bergeming di tempatnya.


Eve punya harga diri. Meskipun Eve sangat butuh uang itu, tapi Eve tidak mau memunguti uang-uang yang kini berserakan di lantai tersebut.


"Ambil cepat!" Bentak Mia yang langsung membuat Eve tersentak kaget. Wajah gadis itu sudah berubah pucat, mungkin sebentar lagi airmatanya akan jatuh.


"Ambil! Apa kau tidak punya telinga?" Mia sudah menarik tangan Eve dan mendorong gadis itu hingga jatuh terjerembab ke lantai.


Air mata Eve sudah jatuh bercucuran sekarang. Eve memunguti satu persatu lembaran uang yang mayoritas berwarna merah tersebut.


Harga diri Eve sudah habis tercabik-cabik.


Meskipun Eve seorang gadis miskin, tapi Eve tidak bisa di perlakukan seperti pengemis begini.


Mia hanya tersenyum licik sambil bersedekap melihat Eve yang kini memunguti uang sambil menangis tersebut.


'Rasakan itu, gadis miskin!' Gumam Mia dalam hati.


Hari ini Bian juga sudah dipecat dari kedai pizza, dan Mia juga sudah memberi pelajaran pada Eve. Mia merasa sangat puas.


Apa Mia boleh tertawa jahat sekarang?

__ADS_1


Eve sudah selesai memunguti uang gajinya yang berserakan di lantai.


Tanpa berpamitan atau melihat ke arah Mia, gadis itu segera berlalu keluar dari ruangan Mia. Airmatanya masih belum berhenti mengalir di kedua pipinya.


*****


Anggi yang melihat Eve keluar dari ruangan nona Mia dengan wajah sembab segera menyapa gadis itu.


"Eve, apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Anggi khawatir.


Anggi menyambar beberapa lembar tisue untuk ia angsurkan pada Eve.


Eve masih menangis sesenggukan. Anggi segera memeluk gadis yang juga temannya tersebut.


"Eve, ada apa?" Tanya Anggi sekali lagi.


"Nona Mia...nona Mia memecatku" jawab Eve terbata-bata di sela isak tangisnya.


Bukan hal itu sebenarnya yang membuat Eve menangis sesenggukan, melainkan penghinaan yang baru saja dilakukan nona Mia yang membuat hati Eve terasa sakit.


Nona direktur itu ternyata benar-benar kejam.


Eve sungguh tidak mau lagi berurusan dengan nona kejam itu.


Anggi sedikit terkejut mendengar kata-kata Eve barusan,


"Apa? Kenapa nona Mia memecatmu? Kamu karyawan yang baik disini, Eve?" Tanya Anggi sedikit bingung.


Eve hanya menggeleng.


Eve sungguh tidak mau membahas hal bodoh ini bersama Anggi.


Anggi menghela nafas dan tidak mau bertanya lagi. Mungkin memang ada masalah antara Eve dan nona Mia yang tidak mungkin diceritakan oleh Eve. Dan Anggi menghargai itu.


"Kau akan bekerja di mana setelah ini?" Tanya Anggi mengalihkan topik pembicaraan.


Eve hanya menggeleng samar.


Eve bahkan tidak tahu akan melamar ke mana setelah dari sini. Eve hanya punya ijazah SMA. Pasti akan sangat sulit bagi Eve mencari sebuah pekerjaan di kota besar ini.


Anggi mengambil sesuatu dari dalam tasnya,


"Ini!" Anggi menyodorkan sebuah kartu nama pada Eve.


Eve membaca sekilas kartu nama tersebut sebelum mengernyitkan kedua alisnya.


"Itu kartu nama sepupuku, namanya dokter Steve. Dia baru saja membuka klinik baru, dan dia bilang dia butuh seseorang untuk membantunya bersih-bersih di kliniknya," Anggi yang menangkap kebingungan di wajah Eve, segera menjelaskan pada gadis itu.


Eve langsung mengangguk paham.


"Datanglah ke kliniknya dan katakan kalau kamu adalah sahabat Anggi." Ucap Anggi lagi.


"Terima kasih, Anggi" Eve memeluk Anggi sekali lagi.


Eve bersyukur karena bertemu gadis sebaik Anggi.


"Anggi!" Suara nona Mia dari dalam ruangan, membuat Eve cepat-cepat melepaskan pelukannya pada Anggi.


"Aku pulang dulu, Anggi. Terima kasih untuk semuanya," ucap Eve sekali lagi. Anggi hanya mengangguk dan segera berlalu masuk ke ruangan nona Mia.


Eve sedikit merapikan penampilannya, dan menghapus sisa-sisa airmata di wajahnya sebelum masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai paling bawah dari gedung ini.


Eve bukan lagi karyawan di sini.


Eve akan meninggalkan gedung kantor nona Mia yang jahat dan sombong itu.


****


Maaf belum bisa double up hari ini 😊


Terima kasih yang sudah like, komen, dan vote 😙

__ADS_1


__ADS_2