Nona Mia

Nona Mia
BERTANYA-TANYA


__ADS_3

Bian mematut penampilannya sekali lagi di cermin. Rambutnya sudah rapi, jambang dan kumis sudah ia cukur, dasinya tidak miring, dan semuanya sudah terpasang dengan benar.


Oh, Bian sudah seperti tuan direktur sekarang.


Menjadi pacar halu nona kaya itu, ternyata lumayan menguntungkan. Bian bisa memakai setelan jas mahal dan akan berkumpul bersama bos-bos besar malam ini.


Semoga setelah ini, Bian akan ketularan kaya dan menjadi bisnisman sukses yang punya banyak perusahaan.


Tidak ada salahnya bermimpi, Bian.


Bermimpi masih gratis.


Bian melirik arloji yang melingkar di tangannya, jam tujuh masih sepuluh menit lagi. Bian akan menunggu nona Mia di bawah saja.


Namun, saat Bian baru saja turun dari tangga, lonceng di pintu kafe berbunyi. Eve masuk ke kafe dan langsung terkejut saat melihat Bian yang sudah rapi mengenakan setelan jas mahal.


Mau kemana abangnya ini?


"Hai, Eve! Tumben ke sini?" Sapa Bian sedikit berbasa-basi. Pria itu terlihat salah tingkah.


"Abang? Abang mau kemana?" Eve sudah mendekat ke arah Bian dan mata gadis itu menelusur penampilan Bian dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Eeee... abang ada urusan malam ini. Apa kamu datang bersama Steve?" Bian mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Iya, Steve baru membeli makanan tadi,"


"Abang ada urusan bersama siapa? Kenapa penampilan abang rapi begini?" Tanya Eve curiga.


"Abang..." Bian menggaruk kepalanya yang tak gatal. Rambutnya jadi berantakan, buru-buru Bian merapikan rambutnya kembali.


"Abang mau ke pesta menemani nona Mia," Bian akhirnya berkata jujur.


"Apa?" Teriak Eve lebay


"Biasa saja Eve, tak perlu kaget seperti itu," timpal Bian berusaha santai.


"Sejak kapan abang menjalin hubungan dengan nona Mia?"cecar Eve tak sabaran.


"Nona Mia membantu abang menyelamatkan kafe ini. Dan sebagai gantinya, abang harus menjadi pacar pura-puranya agar orang tua nona Mia tidak menjodohkannya dengan seorang pria bernama Abram," jelas Bian panjang lebar.


Terang saja, penjelasan Bian barusan langsung membuat Eve mengernyit bingung.


"Ini hanya seperti bisnis, Eve! Jangan terlalu di pikirkan! Abang sungguh tidak ada hubungan apa-apa dengan nona kaya sombong itu," imbuh Bian lagi, seolah bisa menangkap kecemasan di hati Eve.


Bim... bim...


Mobil Ferrari merah milik Mia sudah tiba di depan kafe Bian.


"Nona Mia sudah datang. Abang harus pergi sekarang. Bye Eve!" Pamit Bian seraya berlalu dari hadapan adik perempuannya tersebut.


Eve masih bergeming di tempatnya.

__ADS_1


Berbagai macam pertanyaan mendadak menenuhi kepala Eve.


Bagaimana bisa abang Bian menjalin kerjasama dengan seorang nona Mia? Bukankah mereka saling bermusuhan dan selalu berseteru setiap kali mereka bertemu?


"Eve!" Tepukan dari Steve membuat Eve yang sedang melamun menjadi terlonjak kaget.


"Steve? Kau sudah kembali?" Sahut Eve sedikit tergagap.


"Abang Bian pergi dengan siapa? Aku lihat dia memakai jas mahal dan naik ke dalam mobil Ferrari mewah," tanya Steve penasaran.


"Nona Mia," jawab Eve seraya mendaratkan bokongnya ke kursi yang ada di dalam kafe tersebut.


"Serius?" pekik Steve berlebihan.


Sama persis dengan ekspresi Eve tadi saat mendengar nama nona Mia di sebut oleh Bian.


Eve memijit pelipisnya yang mendadak terasa pening.


"Jadi, apa sekarang Abang Bian menjalin hubungan dengan Mia?" Tanya Steve semakin penasaran.


Eve menggeleng,


"Entahlah aku juga tidak mengerti. Kata abang Bian, nona Mia membantu abang Bian menyelamatkan kafe ini dari kebangkrutan. Jadi sebagai balas jasa, abang Bian menjadi pacar nona Mia sekarang," tukas Eve dengan nada lirih.


"Aku tidak mengerti Steve. Kenapa abang Bian menjalin hubungan dengan gadis yang dia benci?" Eve menatap ke arah suaminya yang sedang menyesap minuman.


Steve mengendikkan bahu.


"Terlalu benci dengan seseorang kadang malah bisa membuatnya berubah menjadi rasa cinta. Mungkin itu yang terjadi pada abang Bian dan Mia," sahut Steve mengemukakan teorinya.


"Sudah jangan terlalu dipikirkan! Abang Bian adalah pria dewasa, Eve. Dia juga pasti tahu mana yang terbaik untuk hidup dan masa depannya," nasehat Steve bijak.


"Kau benar." Eve mengangguk dan mencoba membuang jauh semua hal negatif yang ada di pikirannya.


"Ayo makan!" Steve membuka kotak makanan yang tadi ia beli dan menyodorkannya pada Eve.


Tadinya mereka ingin mengajak Bian makan malam bersama. Namun pria itu malah pergi ke pesta bersama nona Mia.


Jadi biarlah Eve dan Steve saja yang menikmati makan malam ini berdua.


*****


Mia sudah tiba di depan kafe milik Bian menaiki Ferrari merah kesayangannya. Seperti biasa, gadis itu menekan klakson untuk memanggil pacar bayarannya tersebut.


Tak butuh waktu lama, dan Bian sudah keluar dari pintu kafenya sesaat setelah Mia menekan klakson.


Akhirnya pria itu benar-benar bisa menghargai waktu.


Perasaan Mia saja, atau Bian memang terlihat tampan malam ini?


Mungkin karena jas mahal yang ia kenakan membuat level ketampanan Bian meningkat dua ratus persen.

__ADS_1


Bukankah sejak awal Mia sudah menebaknya?


Pria itu hanya butuh sedikit sentuhan barang-barang branded, dan dalam sekejap seorang pria gembel sudah berubah menjadi seorang eksekutif muda.


Tapi meskipun penampilan Bian tampan dan keren malam ini, pria itu tetaplah pria kere dan miskin yang tidak pantas untuk seorang nona direktur sekelas Mia.


Bian tak lagi mengagumi mobil Mia. Pria itu memilih untuk langsung membuka pintu dan masuk ke dalam mobil nona kaya tersebut.


Dan...


Bian benar-benar dibuat tercengang dengan penampilan sempurna Mia malam ini.


Gaun satin warna burgundy dengan garis leher off shoulder itu benar-benar menonjolkan bahu mulus nona Mia. Dan rambut Mia yang biasanya selalu tergerai hingga ke punggung, malam ini di gelung rapi, sehingga leher jenjang nona direktur itu bisa terlihat dengan jelas. Benar-benar nona kaya yang sempurna dan nyaris tanpa cela.


Andai kesempurnaan fisik nona Mia ini dibarengi juga dengan tabiat yang lemah lembut dan penyayang, mungkin akan banyak pria yang mengantri untuk menjadi pendamping hidup dari nona Mia. Termasuk juga Bian.


"Sudah puas memandangi kecantikanku?" Sindir Mia pedas yang kini sudah fokus mengemudi dan memperhatikan jalan di depannya.


Bian langsung salah tingkah dan buru-buru membuang pandangannya ke arah lain.


Namun secara tak sengaja mata Bian malah menangkap belahan gaun nona Mia yang menampakkan paha mulusnya.


Oh, astaga!


Apa nona kaya ini memang berniat menggoda Bian malam ini?


"Aku hanya bertanya-tanya, apa fungsi dari kain panjang di belakang gaunmu itu, jika belahannya saja nyaris menampakkan celana dalammu?" sahut Bian yang masih berusaha keras memalingkan mata brengseknya dari paha mulus nona Mia.


Sial!


Jiwa kejantanan Bian seakan meronta gara-gara penampilan seksi nona Mia malam ini.


Jangan sampai setelah ini Bian benar-benar menculik nona kaya ini dan membawanya ke lantai dua kafenya.


Kendalikan dirimu, Bian!


"Fashion! Aku yakin kau tak akan memahaminya," timpal Mia dengan nada ketus.


Bian hanya mencibir.


"Aku harap otakmu tidak berpikiran mesum hanya karena melihat pahaku yang mulus," sindir Mia sekali lagi seakan bisa membaca isi pikiran Bian.


"Aku pria terhormat yang tidak mudah tergoda, nona Mia. Jadi kau tenang saja!" ujar Bian dengan nada sedikit sombong.


Dan Mia hanya tersenyum simpul mendengar jawaban dari Bian.


.


.


.

__ADS_1


Gemes aku pengen cepet namatin ni novel.. tapi ngetiknya kayak keong 😩


Terima kasih yang sudah like, komen, dan vote💕


__ADS_2