Nona Mia

Nona Mia
MENIKAH SAJA


__ADS_3

Eve turun dari taksi dengan tergesa dan segera masuk ke dalam kafe milik abang Bian. Gadis itu masih sesenggukan dan berurai airmata.


Eve berjalan cepat dan langsung naik ke lantai dua dari kafe tersebut. Bahkan Bian yang berdiri di bawah tangga Eve abaikan begitu saja.


Eve ingin menumpahkan semua kesedihan dan rasa sakit di hatinya. Kenapa Steve bisa sejahat itu?


Bukankah Steve selalu bilang kalau dia mencintai Eve, lalu kenapa tadi Steve berciuman dengan nona Mia sambil berpelukan bak pasangan suami istri?


Jadi, selama ini Steve menganggap Eve apa?


"Eve, ada apa?" Bian meraup adiknya tersebut ke dalam pelukannya.


"Steve, Bang. Steve jahat! Dia..." Eve belum menyelesaikan kalimatnya, saat tiba-tiba terdengar suara Steve yang entah sejak kapan sudah ada di ruangan tersebut.


"Eve, aku bisa menjelaskan semuanya," ucap Steve dengan nada memohon.


"Menjelaskan apa? Bahwa kamu lebih memilih nona Mia yang kaya itu ketimbang aku? Silahkan saja Steve! Silahkan! Aku tidak akan menghalangimu," sergah Eve berapi-api. Gadis itu seperti sedang meluapkan emosi yang membuncah di dadanya.


"Ada apa sebenarnya ini, Steve? Apa yang sudah kamu lakukan?" Bian ikut-ikutan menghakimi.


"Dia baru saja berciuman dengan nona Mia di kliniknya, mungkin jika Eve tidak datang, mereka juga akan tidur bersama tadi," sahut Eve dengan nada sinis. Sepertinya emosi gadis itu belum reda.


Terang saja, kata-kata Eve barusan langsung membuat Bian mendelikkan matanya ke arah Steve.


"Eve, itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Mia yang menyerangku dan memaksa untuk menciumku," Steve berusaha menjelaskan detail kejadian yang sebenarnya.


"Eve, aku berani bersumpah, aku sudah tidak ada perasaan apapun pada Mia. Aku hanya mencintaimu, Eve" imbuh Steve dengan nada bersungguh-sungguh.


Bian menatap bergantian ke arah Eve dan Steve. Rasanya aneh jika Steve mendadak berselingkuh dan berciuman dengan Mia.


Beberapa hari yang lalu saat Mia menghina Eve habis-habisan, Steve jelas-jelas membela Eve dan mengusir Mia.


"Eve, biarkan Steve menceritakan detail kejadiannya. Jangan buru-buru mengambil kesimpulan seperti ini," ujar Bian bijak.


Sepertinya Bian berusaha untuk menengahi salah paham di antara Steve dan Eve.


"Abang membela Steve?" Protes Eve merasa tak terima.


"Bukan membela, abang hanya minta kamu berpikir jernih dulu. Steve mencintaimu selama ini dan nona kaya itu ingin merebut Steve darimu serta menghancurkan hubungan kalian. Jadi bisa saja 'kan, nona kaya itu menjebak Steve?" tutur Bian panjang lebar menjelaskan asumsi yang ada di kepalanya.


Steve mendekat ke arah Eve dan kini duduk di sebelah gadis yang sudah beberapa bulan menjadi tunangannya tersebut.


"Eve, aku benar-benar minta maaf." Steve menggenggam kedua tangan Eve lalu mengecupnya.


"Apa kamu masih mencintai nona Mia?" Tanya Eve sekali lagi. Sepertinya masih ada keraguan di hati gadis itu.


Sebuah keraguan atau ketakutan?


Steve menggeleng dengan cepat.


"Aku hanya mencintaimu, Eve. Aku bersumpah kalau aku tidak lagi mencintai Mia..." Steve menjeda kalimatnya,


"Mia hanya bagian dari masa laluku. Dan aku sudah melupakan semuanya. Sekarang yang ada di hatiku cuma kamu," lanjut Steve bersungguh-sungguh.


Eve menghela nafas.

__ADS_1


Hatinya menghangat mendengar pernyataan Steve barusan. Tapi tetap saja, rasa takut itu masih ada.


Bagaimana kalau nona Mia kembali mengganggu hubungannya dengan Steve dan membuat masalah seperti tadi?


"Apa sekarang kamu percaya pada Steve, Eve?" Tanya Bian sekali lagi.


Eve tidak menjawab. Gadis itu masih bingung dan sedikit ragu.


"Bang, aku ingin pernikahanku dengan Eve dipercepat saja," pinta Steve tiba-tiba yang langsung membuat Bian dan Eve terkejut bersamaan.


"Apa?" Seru Eve dan Bian berbarengan.


Steve hanya mengendikkan bahu,


"Mia akan terus mengganggu hubungan kita, Eve. Jadi aku pikir lebih baik kita menikah saja sekarang, jadi kita bisa terus bersama dan Mia tidak akan punya celah untuk mengganggu hubungan kita," tutur Steve mengemukakan alasannya.


"Ide bagus. Abang setuju," sahut Bian bersemangat.


"Tapi, Bang. Kuliah Eve bagaimana?" Berbeda dengan kedua pria itu, Eve sepertinya sedikit keberatan.


"Kamu tetap bisa melanjutkan kuliah setelah kita menikah, Eve." Steve sudah bersimpuh di depan Eve dan memegang kedua tangan gadis itu.


Eve tersipu malu,


"Baiklah Steve, kalau menurutmu itu yang terbaik. Aku akan menurut saja," jawab Eve malu-malu.


Steve segera meraih Eve ke dalam pelukannya, dan jangan tanya bagaimana ekspresi Bian sekarang.


Bian tentu saja bahagia karena akhirnya Eve akan hidup bahagia bersama Steve.


Dan Bian juga berharap, suatu hari nanti akan ada gadis sebaik Eve yang akan menjadi pendamping hidupnya. Jadi Bian juga bisa menikah dan membangun sebuah keluarga bahagia. Menua bersama gadis yang benar-benar Bian cintai.


*****


Mia sedang memandang keluar dari jendela kantornya, saat tiba-tiba ada yang membuka pintu ruangannya dengan kasar dan tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Siapa orang tak tahu diri itu?


Lancang sekali dia masuk ke ruangan nona direktur tanpa mengetuk atau membuat janji terlebih dahulu.


"Papa?" Ujar Mia tak percaya.


Kenapa tiba-tiba papanya itu datang ke kantor Mia?


"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tegur papa Andri yang melihat penampilan Mia yang lain dari biasanya. Gadis itu tampak berantakan.


" Mia sedang banyak pikiran, Pa," keluh Mia seraya mendaratkan bokongnya di sofa yang ada di ruangan tersebut.


Papa Andri ikut duduk di samping Mia.


"Papa mau tanya, ada masalah apa sebenarnya di antara kamu dan Kyara? Kenapa anak itu mendadak minta pindah kuliah ke luar negeri?" Selidik papa Andri dengan raut wajah serius.


"Apa?" Seru Mia terkejut.


"Terakhir kali kamu pulang kerumah, kalian bertengkar hebat. Dan sekarang Kyara ingin kuliah ke luar negeri. Apa ada sesuatu diantara kalian? Apa kamu mengganggu hubungan Kyara dan pacarnya lagi?" cecar papa Andri meminta penjelasan.

__ADS_1


"Mia tidak mengganggu, Pa. Mia hanya membuktikan pada Kyara bahwa pria yang berpacaran dengannya itu pria brengsek yang hanya moroti uangnya Kyara," sanggah Mia cepat.


Mia sungguh tidak suka di tuduh sebagai perusak hubungan orang lain.


Papa Andri berdecak,


"Darimana kamu tahu? Apa kamu menyelidiki setiap pria yang menjalin hubungan dengan Kyara?" Tebak papa Andri menghakimi.


"Mia menyayangi Kyara, Pa. Mia tidak mau kalau Kyara itu menjalin hubungan dengan pria brengsek," sangkal Mia membela diri.


Papa Andri berdecak sekali lagi.


Berdebat dengan Mia sepertinya tidak akan ada habisnya. Putrinya ini selalu bisa mencari alasan dan pembenaran.


"Kyara akan berangkat lusa, pulanglah dan minta maaf pada adikmu. Kamu sebagai kakak harus mengalah, Mia. Jangan kekanak-kanakan seperti ini," Nasehat papa Andri seraya membelai rambut putrinya yang keras kepala tersebut.


"Baiklah, Mia akan pulang dan minta maaf. Apa papa senang sekarang?" Sergah Mia dengan nada ketus.


Papa Andri tak menjawab dan hanya menghela nafas. Pria paruh baya itu beranjak dari duduknya, dan berjalan ke meja kerja Mia untuk memeriksa beberapa berkas.


"Pergilah liburan, jika memang kamu suntuk dengan pekerjaan ini, Mia. Kamu bos di sini, kamu bisa berlibur kapanpun kamu mau," nasehat papa Andri masih sambil memeriksa beberapa berkas di tangannya.


Mia hanya menghela nafas. Sudah lama memang Mia tidak berlibur. Terlalu banyak pekerjaan dan proyek yang harus Mia tangani.


Tapi bukan hal ini yang sebenarnya menjadi beban pikiran Mia.


Mia hanya sedang memikirkan Steve yang menolaknya dan lebih memilih Eve yang miskin itu. Tentu saja Mia merasa terhina dan tidak terima dengan semua keputusan Steve itu.


Mia masih mencintai Steve.


Papa Andri baru selesai berbicara di telepon entah dengan siapa. Pria itu sekarang menghampiri Mia yang masih duduk termenung di sofa.


"Papa harus pergi sekarang. Ada urusan yang harus papa selesaikan. Papa harap kamu pulang ke rumah sebelum Kyara berangkat dan menyelesaikan semuanya," papa Andri mengecup singkat kening putrinya tersebut.


Mia hanya mengangguk sedikit malas.


Setelah papa Andri keluar dari ruangannya, Mia memilih untuk melanjutkan lamunannya tentang Steve.


Mia masih berharap Steve akan meninggalkan Eve dan kembali kepadanya.


.


.


.


Maaf ya, kalau up nya hanya dikit-dikit belakangan ini. Tabungan naskah udah habis dan author lagi kerepotan dampingin anak belajar online 🙈


Author sendiri sebenarnya juga udah greget pengen cepat-cepat lanjutin nulis episode baru. Tapi waktunya selalu gak sempat. Andai ini tablet bisa ngetik sendiri dan authornya tinggal berhalusinasi 😂 mungkin bakalan bikin crazy up setiap hari.


Terima kasih buat yang tetap setia ngikutin ceritanya nona Mia.


Nanti pas hari Minggu author usahakan bikin double up atau triple up kalo perlu.


Tapi kalau hari Senin sampai Sabtu, mohon maaf sementara cuma bisa up satu episode 🙏

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih like, komen, dan vote.


__ADS_2