
Mia sudah sampai di kedai es krim milik Bian. Sebelum ke sini, Mia sudah terlebih dahulu ke rumah Bian. Namun rumah itu kosong dan tidak ada tanda-tanda keberadaan pemiliknya.
Mia bertanya pada salah satu pelayan yang ada di kedai tersebut,
"Apa Pak Bian ada?" Tanya Mia sedikit ragu.
"Maaf, Nona. Pak Bian sedang ada keperluan di luar kota." Jawab pelayan itu sopan.
Hah? Bian di luar kota?
"Sampai kapan? Apa dia akan kembali ke sini?" Tanya Mia mulai khawatir.
Jangan sampai Bian brengsek itu kabur karena kata-kata papa Andri tempo hari.
Mia benar-benar akan membunuhnya kalau pria itu kabur dan tak kembali lagi ke sini.
"Maaf, saya kurang tahu, Nona. Mungkin anda bisa bertanya pada Nona Evelyn," Pelayan tadi menunjuk ke arah belakang punggung Mia.
Mia segera berbalik,
"Nona Mia, ada apa?" Sapa Eve ramah.
"Bian ke mana?" tanya Mia to the point.
"Abang Bian sedang mengurus cabang pusat. Mungkin dua minggu lagi baru kembali. Apa ada masalah?" Tanya Eve khawatir.
Kenapa mendadak nona Mia mencari abang Bian?
Apa nona Mia mau menjebloskan Abang Bian ke penjara karena sudah membawa kabur Galen tempo hari?
"Dua minggu? Apa tidak bisa di percepat?" Cecar Mia emosi.
Eve mengernyit tidak paham.
Mia berdecak.
"Galen sakit dan sekarang anak itu mencari papanya. Apa Bian tidak bisa pulang lebih cepat?" Jelas Mia akhirnya.
Nona direktur itu membuang wajahnya saat menjelaskan pada Eve seolah sedang menahan malu.
Dia sendiri yang mengusir Bian, sekarang dia juga yang minta Bian datang kembali.
Sungguh memalukan!
Eve mengeluarkan ponsel dari tas nya dan menghubungi seseorang,
"Nona Mia bisa bicara sendiri pada abang Bian!" Eve menyodorkan ponselnya pada Mia.
Meskipun sedikit ragu, Mia akhirnya menerima ponsel tersebut dan mendekatkannya ke telinga,
"Halo Eve ada apa?" Sambut Bian di seberang sana.
Ah, hati Mia sesaat terasa menghangat mendengar suara ini.
"Aku Mia, bukan Eve" jawab Mia cepat.
Mia berjalan sedikit menjauh dari Eve dan duduk di salah satu bangku yang ada di dalam kedai.
"Mia? Ada apa?" Suara Bian terdengar gugup.
__ADS_1
"Galen sakit dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit. Bisakah kau ke sini dan menemui Galen? Galen tidak mau makan dan minum obat sebelum bertemu denganmu," ujar Mia berusaha menahan nada bicaranya agar tidak terdengar ketus.
"Baiklah. Aku akan pulang hari ini. Katakan pada Galen kalau aku akan menemuinya sore nanti," balas Bian yang terdengar khawatir.
"Baiklah, hati-hati di perjalanan," pesan Mia sebelum menutup panggilannya pada Bian.
Setelah telepon terputus, Mia mengembalikan ponsel milik Eve.
"Dia akan pulang hari ini," ujar Mia pada Eve.
"Semoga Galen cepat pulih dan membaik, Nona Mia," balas Eve tulus.
Mia mengulas senyum di bibirnya,
"Terima kasih banyak, Eve. Aku akan kembali ke rumah sakit," pamit Mia sebelum pergi meninggalkan kedai es krim tersebut.
Eve hanya mengangguk dan mengantar nona direktur itu hingga ke pintu masuk kedai.
****
Mia sedang menyuapi Galen dengan susah payah, saat pria brengsek itu masuk ke ruang perawatan Galen.
Ada papa Andri dan juga Mike yang duduk di sofa.
"Selamat sore," sapa Bian ramah pada papa Andri dan Mike.
Papa Andri segera beranjak dari duduknya dan menyambut Bian.
"Sore, Bian. Senang akhirnya kau bisa datang," papa Andri menjawab sapaan Bian dengan hangat.
"Saya akan pulang sekarang, Om," Gantian Mike yang pamit dan undur diri.
Papa Andri mengangguk.
"Duduklah, Bian! Om ingin bicara," papa Andri membimbing Bian agar duduk di sofa.
"Apa Galen baik-baik saja, Om?" Tanya Bian khawatir.
"Ya, Galen sepertinya masih tidur." Jawab papa Andri.
"Om sungguh ingin minta maaf atas sikap Om tempo hari yang sudah kasar kepadamu," imbuh papa Andri dengan nada menyesal.
Bian menghela nafas seraya tersenyum tipis,
"Saya sudah melupakannya. Lagipula saya pantas menerima itu semua. Saya sudah menyakiti Mia," ujar Bia seraya menunduk.
Rasa bersalah di hati Bian belum juga hilang.
Entah bagaimana Bian akan menebusnya.
Bian hanya berpikir untuk menebus semuanya dengan menikahi Mia dan menjadi suami yang baik untuk nona direktur tersebut. Tapi sudah sangat jelas kalau Mia menolak Bian sekarang. Belum lagi sudah ada Mike yang lebih pantas bersanding dengan Mia.
Entahlah,
Mungkin Bian memang harus menanggung rasa bersalah ini seumur hidupnya.
Mungkin ini hukuman untuk Bian.
"Kau sudah datang?" Suara dari Mia membuyarkan lamunan Bian.
__ADS_1
"Ya, aku langsung ke sini tadi. Apa Galen masih tidur?" Bian mendongak untuk menatap wajah Mia.
Wajah itu terlihat lesu dan kurang tidur.
Mia menggeleng,
"Galen tidak mau makan. Maukah kau membujuknya?" Pinta Mia sedikit memohon.
Bian segera beranjak dari duduknya dan mengikuti Mia masuk ke dalam bilik perawatan Galen.
Ada mama Alin di dalam.
"Sore, tante," Bian mencium punggung tangan mama Alin. Dan wanita paruh baya itu membalasnya dengan senyuman hangat.
"Lihat Galen! Papa sudah datang," mama Alin menepuk punggung Galen yang sedari tadi merajuk dan membuang wajahnya menghadap ke tembok.
Bocah laki-laki itu segera berbalik,
"Papa!" Seru Galen saat melihat sang papa yang benar-benar sudah datang menemuinya.
Bian langsung memeluk erat anak lelakinya tersebut, menumpahkan semua kerinduan di dadanya.
Baru satu pekan mereka tidak berjumpa, dan rasa rindu itu sudah sangat menggunung.
Mia yang menyaksikan pemandangan mengharukan itu memilih untuk membuang wajahnya. Tak bisa dipungkiri kalau mata Mia juga sudah berkaca-kaca sekarang.
Mia sadar, Galen tidak bisa lagi terpisah dari Bian.
Kyara benar, mungkin sudah saatnya Mia menurunkan egonya dan mulai berdamai dengan Bian.
"Galen makan, ya! Sama papa," bujuk Bian lembut.
Dan Galen langsung mengangguk masih dengan mata yang berbinar bahagia.
Bian segera menyuapi Galen dengan telaten.
"Mommy!" Galen memanggil sang mommy.
"Iya sayang, kamu ingin sesuatu?" Tanya Mia yang kembali mendekat ke ranjang perawatan Galen.
"Galen mau bobok sama mommy," jawab Galen yang mulai menguap lebar.
Bergegas Mia naik ke atas ranjang Galen dan memeluk putranya tersebut.
"Papa!" Galen menyodorkan sebuah buku pada Bian.
Bian hanya tersenyum seraya menerima buku yang disodorkan oleh Galen, lalu pria itu duduk di samping ranjang Galen.
Bian mulai membacakan cerita untuk Galen.
Dan Mia tak berhenti memandangi wajah dari papa kandung Galen tersebut.
Hati Mia terasa menghangat.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕