
Tak sampai lima menit, Mia sudah sampai di kafe Bian. Suasana di dalam kafe remang-remang karena hanya ada satu lampu yang menyala.
Motor Bian terparkir di depan kafe, itu artinya pria itu ada di dalam kafe. Mia mengintip lewat jendela kafe dan melihat Bian yang sedang duduk termenung di salah satu bangku yang ada di dalam kafe.
Mia mengetuk pintu kafe dan Bian langsung terlonjak kaget.
Pria itu memperhatikan dengan seksama siapa yang saat ini berdiri di luar kafenya dan mengetuk pintu.
"Mia?" Bian membuka pintu kafe dan memastikan sekali lagi kalau yang datang memanglah Mia.
Bian memperhatikan gadis itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Nona direktur itu hanya mengenakan gaun tidur dan sebuah cardigan warna hitam.
Apa nona direktur ini sedang mabuk?
Kenapa tengah malam begini datang ke kafe memakai gaun tidur?
"Aku boleh masuk?" Tanya Mia memecah keheningan.
"Ya, masuklah!" Jawab Bian gelagapan.
Nona direktur itu sudah masuk ke kafe dan Bian mengunci kembali pintu depan kafe.
"Kau ke sini sendirian tengah malam begini?" Tanya Bian khawatir.
Dua orang itu kini sudah duduk berhadapan di bangku kafe.
"Apa kau baik-baik saja?" Bukannya menjawab pertanyaan Bian, Mia malah balik bertanya pada Bian.
"Ya, aku baik-baik saja. Kau sendiri? Kenapa ke sini tengah malam begini?" Bian mengulangi sekali lagi pertanyaannya.
"Aku mengkhawatirkanmu," jawab Mia seraya membuang wajahnya.
"Aku bukan pacar atau suamimu, jadi aku rasa kau tidak perlu khawatir berlebihan sampai harus kesini tengah malam dan hanya mengenakan gaun tidur seperti itu," Bian mengendikkan dagunya ke arah gaun tidur Mia yang sedikit terbuka bagian atasnya.
Cepat-cepat Mia merapatkan cardigannya.
"Aku peduli padamu, Bian. Apa itu salah?" Mia mencari pembenaran.
"Tidak salah. Tapi kau datang di waktu yang salah. Bagaimana kalau ada begal yang mencegatmu saat kamu menyetir sendirian ke kafe ini?" Sahut Bian dengan nada yang meninggi.
Apa Bian baru saja mengkhawatirkanku?
Sesaat wajah Mia bersemu merah. Namun nona direktur itu masih enggan menatap wajah Bian.
Sangat berbeda dengan Bian yang tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Mia.
Bian tak mengerti kenapa Mia tetap terlihat cantik meskipun gadis itu tidak mengenakan make up.
"Aku pikir kau marah padaku karena kejadian sore itu," suara Bian memecah keheningan.
__ADS_1
"Aku memang marah padamu. Aku bahkan membencimu. Kenapa kau melimpahkan semua kesalahan kepadaku? Padahal kau yang terlebih dahulu menyakiti hatiku," Mia mengeluarkan uneg-uneg yang ada di hatinya.
Netra gadis itu kini menatap tajam ke arah Bian.
Pandangan keduanya bertemu.
Bian yang terlebih dahulu membuang pandangannya.
"Kau sendiri yang menyakiti hatimu. Jelas-jelas kau tahu kalau aku hanya mencintai Dea. Tapi kenapa kau malah menyimpan sebuah perasaan yang tidak seharusnya kau simpan?" Bian mencari pembenaran.
Mia berdecak,
"Aku hanya jatuh cinta. Lalu apa masalahnya?" Sahut Mia tak mau kalah.
"Kau jatuh cinta pada pria yang salah, nona Mia!" Bian mendekatkan wajahnya ke arah Mia.
Mia kehilangan kata-kata. Lidahnya terasa kelu.
Tatapan tajam Bian seakan membuatnya mematung.
"Dan malam ini kau malah datang ke kafeku dengan baju kurang bahan seperti itu. Apa kau ingin menggodaku?" Bian masih menatap tajam ke arah Mia.
"Untuk apa aku menggodamu? Bukankah kau tidak pernah tertarik dengan nona kaya sepertiku." Sahut Mia seraya membuang wajahnya untuk menghindari tatapan tajam dari Bian.
Bian tersenyum simpul.
"Aku pria normal, Mia. Dan bajumu itu sangat bisa membuatku kehilangan kendali. Apa kamu mau jika aku memperkosamu malam ini?" Sergah Bian kembali dengan nada tinggi.
Mungkin Mia sudah gila.
Kenapa gadis ini seakan mengusik macan yang sedang tertidur.
Bagaimana jika Bian benar-benar menidurinya malam ini?
Bian tertawa sumbang,
"Apa kau baru saja menantangku? Apa kau benar-benar sudah gila, nona direktur?" Tanya Bian dengan seringai mengejek.
"Ya. Aku memang sudah gila! Aku tergila-gila padamu. Kau yang sudah membuatku seperti orang gila. Kau terus saja datang di mimpiku dan membuatku merasa khawatir hingga aku datang ke kafemu jam satu malam dan hanya mengenakan gaun tidur sialan ini," jawab Mia berapi-api.
Nona direktur itu seperti sedang mengungkapkan semua uneg-uneg yang ada di hatinya.
Bian beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju arah tangga.
"Pulanglah, Mia! Sebelum aku benar-benar hilang kendali," ujar Bian yang mulai menaiki anak tangga dan dengan cepat pria itu sudah menghilang ke lantai dua kafe.
Mia masih bergeming di tempatnya. Gadis itu menarik nafas panjang sebelum beranjak dari duduknya dan melangkah lunglai menuju pintu keluar kafe.
Bodoh!
Seharusnya aku tadi tidak perlu datang ke kafe ini ataupun mengkhawatirkan pria brengsek itu
__ADS_1
Mia seakan merutuki kebodohannya sendiri.
Mia baru akan membuka kunci pintu kafe, namun tiba-tiba...
"Mia!" Suara Bian yang kini sudah berdiri di bawah tangga membuat Mia menoleh ke arah pria tersebut.
"Hari masih gelap, kau tidak bisa pulang sekarang. Bajumu itu sungguh tidak enak dilihat. Bagaimana jika ada orang brengsek yang mencegatmu di jalan?" Ujar Bian yang kini sudah mendekat ke arah Mia.
Bagaimana denganmu?
Bukankah kau juga seorang pria brengsek?
Mia hanya bergumam dalam hati.
"Ayo naik ke atas! Kau bisa pulang nanti saat matahari sudah terbit," ucap Bian lagi.
Tanpa menunggu persetujuan dari Mia, pria itu sudah menarik tangan Mia dan membawanya menaiki tangga menuju ke lantai dua kafe.
"Hanya ada satu ranjang di sini. Apa kau mau mengajakku tidur bersama?" Tanya Mia dengan nada sinis.
"Kau yang terlebih dulu menggodaku. Jadi jangan salahkan aku jika aku hilang kendali," Bian mendekatkan wajahnya ke arah Mia. Dengan satu gerakan cepat, bibir Bian sudah menempel erat di bibir Mia.
Bian benar-benar hilang kendali setelah melihat tubuh molek Mia yang hanya terbalut gaun tidur tipis sialan itu.
Mungkin Bian lupa kalau dirinya baru saja menghabiskan tiga botol bir sebelum Mia datang ke kafenya.
Mia sendiri seperti tidak menolak dengan apa yang dilakukan Bian malam ini kepadanya. Jika dengan cara ini Mia bisa meluluhkan hati Bian, biarlah Mia melakukan kesalahan besar ini.
Mia sudah jatuh cinta pada Bian. Mia sudah tergila-gila pada pria brengsek ini. Dan sekarang Mia akan menyerahkan hal paling berharga miliknya pada pria brengsek ini.
Mia tahu ini sebuah kesalahan.
Seharusnya Mia memberontak, seharusnya Mia menampar Bian, saat pria brengsek ini menyentak masuk ke dalam miliknya.
Tapi Mia tidak melakukannya.
Mia terlanjur tergila-gila pada Bian.
"Aku mencintaimu, Bian. Aku mencintaimu" desah Mia sesaat setelah penyatuan miliknya dengan milik Bian.
"Aku juga mencintaimu, Dea."
.
.
Author gak salah ketik lho ya di kalimat yang terakhir 😷
Maaf kalo ada adegan nganunya.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕