
Bian melangkah masuk ke gedung apartemen Mia. Tangan kanannya menggandeng Galen dan tangan kirinya menyeret koper.
Rencananya, setelah mengantar Galen Bian akan sekalian berpamitan pada Mia dan berangkat ke bandara malam ini juga.
Bian akan kembali ke Australia, dan menetap di negeri kangguru itu selamanya.
Sebulan yang lalu Bian mendapat penawaran sebagai koki di negeri tersebut.
Tadinya Bian tidak berniat untuk mengambilnya, namun setelah melihat Mike melamar Mia pekan lalu, hati Bian mendadak menjadi porak poranda.
Meskipun rasanya sungguh berat berpisah dari Galen, namun Bian juga tidak bisa terus-terusan tinggal di negara ini.
Terlalu menyakitkan jika Bian harus terus menyaksikan kebahagiaan Mia bersama pria lain.
Mungkin dengan pergi jauh, Bian akan bisa membuka hati untuk wanita lain. Meskipun rasanya mustahil.
Hati Bian sudah terlanjur terpatri untuk Mia.
Nona kaya yang sombong itu, benar-benar sudah membuat hati Bian tidak bisa berpaling kemanapun.
Lift sudah sampai di lantai tempat unit apartemen Mia berada.
Bian kembali menarik nafas panjang dan menguatkan hatinya.
Semoga Mike tidak ada di apartemen Mia malam ini.
Bian hanya ingin berpamitan pada Mia dan Galen.
Bian menekan bel di depan pintu apartemen Mia.
Tak butuh waktu lama, dan pintu sudah dibuka dari dalam.
Mia berdiri di depan pintu mengenakan setelan piyama dan celana panjang. Rambut nona kaya itu di cepol sembarangan, membuat leher putih jenjang miliknya terlihat jelas.
"Mommy!" Galen segera menghambur ke pelukan sang mommy.
Bian membawa masuk kopernya dan menutup kembali pintu apartemen.
Netranya menyapu setiap sudut dari apartemen Mia. Tidak ada Mike di apartemen ini. Setidaknya doa Bian terkabul malam ini.
Mia menatap sekilas ke arah koper Bian sebelum melangkah masuk menuju ruang tengah.
Bian memilih untuk mengekori nona direktur tersebut dan ikut duduk di sofa yang ada di ruang tengah.
Galen sudah sibuk dengan legonya. Bocah itu tak lagi menghiraukan apa-apa yang ada di sekitarnya.
"Kau mau pindah ke apartemenku?" Tanya Mia memecah keheningan.
Bian menggeleng,
"Aku akan kembali ke Australia dan bekerja sebagai koki di sana," tutur Bian menjelaskan.
Mia tersentak kaget.
"Kenapa mendadak sekali?" Mia seakan tak terima.
"Sebenarnya aku ditawari pekerjaan ini sudah beberapa bulan yang lalu. Maaf kalau aku baru memberitahumu sekarang," tukas Bian dengan nada menyesal.
Mia menghela nafas,
"Bagaimana dengan Galen? Dia sudah terlanjur bergantung kepadamu," cecar Mia dengan nada khawatir.
"Aku sudah menjelaskan pada Galen. Dia sudah mengerti dan kamu tenang saja, Galen tidak akan menanyakan keberadaanku lagi," Bian menjeda kalimatnya.
Pria itu terlihat menarik nafas panjang.
"Lagipula, Galen akan mendapatkan seorang papa baru sebentar lagi. Jadi, apalagi yang kamu khawatirkan?" Suara Bian terdengar bergetar, seakan ada sesak yang sedang Bian tahan.
Sesaat suasana menjadi hening.
"Papa!" Galen memeluk kaki Bian.
__ADS_1
Bian segera berlutut dan mengusap wajah putranya tersebut,
"Apa Galen sudah mengantuk?" Tanya Bian seakan tanggap.
Galen mengangguk,
"Papa akan membacakan dongeng untuk Galen malam ini 'kan?" Pinta Galen yang kini sudah menguap lebar.
Bian mengangguk. Pria itu menggendong anak lelakinya tersebut dan membawanya masuk ke kamar.
Mia hanya diam saja dan membiarkan ayah dan anak tersebut menghabiskan waktu berdua.
****
Setelah tiga puluh menit di kamar Galen, Bian akhirnya keluar.
Mia masih duduk di sofa ruang tengah dan kini menatap tajam ke arah Bian, membuat Bian menjadi salah tingkah.
Apa nona direktur ini sedang marah pada Bian?
"Galen sudah tidur. Aku juga sudah berpamitan pada Galen. Jadi aku akan berangkat sekarang," ujar Bian masih salah tingkah.
"Bagaimana denganku? Kau tidak berpamitan kepadaku?" Sahut Mia yang masih menatap tajam pada Bian.
Bian yang tadinya sudah akan mengambil kopernya, memilih untuk berbalik dan segera menghampiri Mia.
Pria itu mengulurkan tangan pada Mia. Namun Mia tak kunjung membalasnya.
"Apa kau memang tidak pernah mencintaiku, Bian?" Tanya Mia tiba-tiba.
Bian terdiam.
Tentu saja Bian mencintai Mia. Bian sendiri tidak tahu sejak kapan rasa itu ada. Namun yang Bian tahu, selama enam tahun ini hanya Mia yang Bian cintai. Tidak pernah ada gadis lain di hati Bian selain Mia.
"Aku...." Bian membeku. Lidahnya terasa kelu.
"Kau tahu, saat pertama tahu kalau aku mengandung anakmu aku berpikir untuk menggugurkannya saja karena aku membencimu." Kata-kata Mia benar-benar membuat Bian tersentak kaget.
"Lalu saat mama mengantarku ke rumah sakit untuk check up rutin, hanya aku yang datang tanpa suami. Ibu hamil lain pasti ditemani oleh suami mereka," airmata Mia yang sedari tadi menggenang di sudut matanya, kini mulai meluncur turun.
"Lalu malam itu saat aku merasakan sakitnya melahirkan, kau juga tidak ada di sampingku. Bukankah seharusnya kau di sampingku? Menemaniku, atau sekedar memberiku semangat agar aku bisa melalui semuanya. Tapi kau entah berada dimana malam itu,"
"Lalu selama lima tahun aku membesarkan Galen, kau sibuk dengan duniamu sendiri.
Kau tidak tahu bagaimana paniknya aku saat mendapati Galen demam malam-malam.
Atau bingungnya aku saat Galen mulai menanyakan dimana papanya," Mia sudah menangis sesenggukan.
Dan Bian masih mematung.
"Lalu saat semuanya sudah berjalan sesuai keinginanku, tiba-tiba kau muncul, membuka semua masa lalu itu. Kau yang dengan seenak hatimu membuat Galen menjadi bergantung padamu,"
"Kau yang membuat Galen bahagia dengan kehadiranmu. Tapi sekarang, tiba-tiba kau ingin pergi begitu saja. Apa kau memang pria brengsek yang tidak punya perasaan?" Mia mulai emosi di tengah isak tangisnya.
"Kau ingin pergi begitu saja hanya karena kau berpikir kalau aku akan menikah dengan Mike. Tapi kau sendiri tidak pernah bertanya ada hubungan apa sebenarnya antara aku dan Mike," nada bicara Mia mulai meninggi.
"Mia, aku..." lidah Bian masih terasa kelu.
"Apa kau tidak melihat ini?" Mia menunjukkan jari manisnya yang masih kosong tanpa ada satupun cincin yang melingkar di sana.
Bukankah kemarin Mike melamar Mia?
Bukankah seharusnya Mia sudah mengenakan sebuah cincin di jari manis itu?
Bian tertegun.
"Mike tidak pernah melamarku jika kau ingin tahu. Mike dan aku tidak pernah menjalin hubungan apapun. Kami hanya teman dan tidak pernah lebih dari itu,"
Bian mendekat ke arah Mia.
"Aku tidak tahu, kenapa aku bisa jatuh cinta dan tergila-gila pada pria bodoh sepertimu. Aku menunggumu selama enam tahun ini, Bian." Ujar Mia yang tangisnya semakin menjadi.
__ADS_1
Bian sudah meraup Mia ke dalam pelukannya.
"Baiklah sudah cukup. Aku memang pria bodoh yang tidak peka. Maafkan aku karena sudah menyakiti hatimu," Bian semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau memang brengsek! Apa kau masih ingin pergi sekarang? Apa kau ingin meninggalkan aku dan Galen lagi?" Mia memukul-mukul dada Bian demi meluapkan emosinya.
Nona direktur itu masih menangis sesenggukan.
Bian menggeleng dengan cepat,
"Aku memang pria brengsek dan bodoh, Mia. Seharusnya kau tidak jatuh cinta kepadaku,"
"Tapi aku sudah terlanjur jatuh cinta dan tergila-gila padamu. Jadi jangan pernah mencoba untuk meninggalkan aku dan Galen lagi." Mia masih belum berhenti memukul-mukul dada Bian.
"Tidak akan. Aku akan menjagamu dan menjaga Galen. Aku akan menebus semua kesalahanku selama enam tahun ini. Aku mencintaimu, Mia," Bian menangkup wajah Mia dan menghapus airmata yang sudah memenuhi wajah Mia.
Bian merapikan rambut Mia yang berserakan di wajahnya, dan menatap dengan penuh cinta wajah itu sebelum kembali membawanya ke dalam pelukan.
"Aku membencimu," cicit Mia yang semakin membenamkan dirinya ke dalam pelukan Bian.
"Dan aku mencintaimu," balas Bian cepat.
Mia menyodorkan kotak cincin pada Bian,
Terang saja hal itu langsung membuat Bian terkejut,
"Kau menemukannya?" Tanya Bian tak percaya.
"Kau meninggalkannya di kamar Galen. Tentu saja aku menemukannya. Dasar bodoh!" Sahut Mia dengan nada kesal.
Bian membuka kotak cincin itu, mengambil cincin di dalamnya dan segera melingkarkannya di jari manis Mia.
"Menikahlah denganku, nona Mia yang kaya. Karena aku sungguh tidak menerima penolakan malam ini. Aku bahkan sudah membawa satu koper baju ke apartemenmu," pinta Bian sedikit terkekeh.
"Apa kau sedang melamarku? Tidak ada orang melamar seperti itu," Mia mencebik.
"Baiklah, baiklah," Bian bangun dari duduknya, mengambil bunga pajangan di atas meja dan segera berlutut di depan Mia,
"Menikahlah denganku, nona Mia. Karena aku sangat tergila-gila padamu," ucap Bian seraya menyodorkan bunga pada Mia dan mengecup tangan nona direktur itu.
"Apa kau akan mendesahkan nama wanita lain lagi saat kita bercinta?" Tanya Mia masih mencebik.
"Tidak akan! Aku hanya akan mendesahkan namamu. Kita bisa mencobanya malam ini kalau kau masih ragu," tawar Bian seraya tersenyum nakal pada Mia.
"Dalam mimpimu! Dasar mesum!" Mia memukul pundak Bian dengan bunga yang tadi disodorkan Bian.
Bian hanya terkekeh,
"Aku tidak akan melakukannya sebelum kita resmi menikah," Mia sudah bersedekap dan menatap tajam pada Bian.
Bian segera bangun dari berlutut dan duduk sambil merangkul Mia.
"Baiklah, kita menikah besok saja kalau begitu," Bian kembali membawa Mia kedalam pelukannya.
Mia hanya diam dan memilih untuk membenamkan tubuhnya semakin dalam ke pelukan Bian.
Mungkin dua orang yang pernah saling membenci itu akan saling memeluk semalaman.
"Jangan berlebihan saat benci pada seseorang, karena rasa benci itu justru bisa berubah menjadi rasa cinta kapan saja" -Mia & Bian-
********** TAMAT**********
Happy Ending 😍
Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk para reader yang sudah setia mengikuti cerita Nona Mia.
Mohon maaf kalau masih ada typo atau alur yang tidak sesuai.
Terima kasih juga untuk yang sudah menyumbangkan like, vote, serta komennya.
Kalian luar biasa 💕💕
__ADS_1
Salam penuh cinta dari Author untuk kalian semua 💕