
Mia merenung di balkon villa tempatnya menginap. Hamparan perkebunan teh yang sudah siap dipetik, menjadi pemandangan Mia setiap pagi.
Di tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian inilah, Mia berusaha menyembuhkan luka di hatinya yang di torehkan oleh Bian.
Besok Bian akan menikah dengan Dea. Dan setelah itu mereka akan hidup bahagia selamanya.
Sedangkan Mia?
Mia bahkan belum bisa melupakan Bian hingga hari ini. Setiap malam, wajah pria brengsek itu selalu saja singgah di mimpi Mia.
Dasar pria brengsek!
Sudah akan menjadi suami gadis lain tapi masih saja menghantui otak dan hati Mia.
Ponsel Mia berbunyi nyaring, membuat nona direktur yang sedang melamun itu terlonjak kaget.
Papa Andri menelpon, sedikit malas namun Mia tetap mengangkatnya.
Mungkin papanya itu tengah khawatir dengan keadaan Mia.
"Halo, papa," jawab Mia dengan nada malas.
"Kamu di mana Mia?" Tanya papa Andri khawatir. Benar dugaan Mia, papanya itu tengah khawatir.
"Mia masih menenangkan diri, Papa. Mia akan kembali pekan depan," jawab Mia sedikit ketus.
"Kau sudah dengar kabar kalau calon istri Bian meninggal?" Sahut papa Andri lagi.
"Apa?" Mia terlonjak dari duduknya.
Apa ini sebuah lelucon?
Apa papa Andri berbohong?
"Jadi bagaimana? Kau akan pulang atau kau tetap akan berada di tempat persembunyianmu sampai pekan depan?" Papa Andri bertanya sekali lagi.
Mia tidak menjawab. Nona direktur itu terlalu kaget dengan berita yang baru saja didengarnya?
Mia menutup telepon dari papa Andri begitu saja dan segera masuk kembali ke dalam villla.
Mia akan pulang hari ini.
*****
Mia masih berdiri mematung di bawah pohon cempaka yang tak jauh dari makam Dea. Masih bisa Mia lihat, Bian yang bersimpuh di makam itu seraya mengusap batu nisan bertuliskan nama Dea.
Sepertinya Bian benar-benar terpukul dengan kepergian Dea.
Suasana pemakaman sudah sepi. Para pelayat yang tadi hadir untuk memberikan penghormatan terakhir pada gadis yatim piatu itu, kini sudah kembali ke rumah mereka masing-masing.
Menyisakan keheningan di area pemakaman Dea.
"Bian," Mia mendekat ke arah pria yang masih duduk bersimpuh tersebut.
Bian menoleh. Wajah pria itu terlihat sembab. Masih ada airmata yang menggenang di sudut matanya.
Bian menatap sekilas pada Mia yang datang menyapanya, sebelum kembali larut pada kesedihannya atas kepergian Dea yang mendadak ini.
__ADS_1
"Bi, Dea sudah tenang dan bahagia di sana. Kamu harus mengikhlaskannya," Mia mengusap lembut bahu Bian.
Namun pria itu masih diam.
Mudah saja kau mengatakan itu, nona kaya.
Kau tidak merasakan bagaimana hancurnya hatiku saat ini.
Suasana kembali hening.
Hanya ada desir angin yang menimbulkan suara gemerisik dari dedaunan yang ada di area pemakaman.
Mia yang melihat Bian tak jua bergeming dari tempatnya, memilih untuk meninggalkan pria tersebut.
Mia kembali ke parkiran dan bersandar ke mobilnya.
Mia masih ingin bicara pada Bian. Jadi mungkin Mia akan menunggu hingga pria itu selesai meratapi kepergian calon istrinya.
Lagipula, Bian sepertinya tidak membawa kendaraan ke area pemakaman ini. Mia bisa sekalian menawarkan tumpangan pada Bian.
Setelah menunggu hampir tiga puluh menit, Bian akhirnya keluar dari area pemakaman.
"Bian!" Mia segera menyapa Bian. Namun pria itu tak menjawab, dan berlalu mennggalkan Mia begitu saja.
Bian celingukan mencari kendaraan yang mungkin bisa mengantarnya pulang.
"Bi, aku antar kamu pulang, ya?" Mia menggamit lengan Bian sedikit memaksa pria itu agar mau ikut dengannya.
Bian menghela nafas. Jarak kompleks pemakaman ini ke kafenya lumayan jauh. Belum tentu juga Bian akan mendapatkan tumpangan untuk pulang. Jadi ketimbang jalan kaki, sebaiknya Bian menuruti kata-kata nona kaya ini.
Bian dan Mia segera masuk ke mobil Mia. Tak butuh waktu lama dan mobil itu sudah meluncur meninggalkan area pemakaman.
Sejenak suasana di dalam mobil menjadi hening. Baik Bian maupun Mia sama-sama tidak ada yang berbicara.
"Bian, aku turut berduka atas kepergian Dea," suara lirih Mia memecah keheningan di dalam mobil tersebut.
Mendung hitam yang tadi menggantung, sudah berubah menjadi rintik-rintik hujan yang membasahi kaca depan mobil Mia.
"Kau kemana saja satu pekan ini? Menghilang begitu saja bak di telan bumi saat aku sedang membutuhkanmu," jawab Bian dengan nada ketus.
Aku sedang berusaha bangkit dan menyembuhkan sakit hatiku karena penolakanmu tempo hari, bodoh!
Mia hanya bergumam dalam hati.
"Aku ada urusan di luar kota," jawab Mia berbohong.
Luka di hati Mia belum sepenuhnya mengering.
Mia patah hati karena Bian menolak cintanya dan lebih memilih untuk menikah dengan Dea.
Namun tiba-tiba Dea meninggal beberapa hari menjelang pernikahan mereka. Entah apa ini namanya?
Apakah ini artinya Mia masih punya kesempatan untuk kembali meluluhkan hati Bian?
"Tapi apa kau juga harus memblokir semua nomorku? Apa kau marah kepadaku karena aku menolak cintamu tempo hari?" Cecar Bian dengan emosi yang meledak-ledak.
Ya aku marah.
__ADS_1
Sangat marah.
Terima kasih karena akhirnya kau memahaminya.
Mia kembali bergumam dalam hati.
"Aku sibuk, Bian. Aku punya banyak urusan yang harus aku selesaikan," Mia menghentikan mobilnya karena kini mereka sudah tiba di depan kafe Bian.
"Tapi kau tidak seharusnya memblokir semua nomorku. Kau punya banyak uang, Mia. Kau seharusnya bisa membantuku membawa Dea berobat ke luar negeri atau kemana saja agar Dea bisa sembuh dan kami bisa menikah," Bian meluapkan semua emosi dan uneg-uneg di dalam hatinya.
"Apa kau sedang menyalahkanku sekarang?" Tanya Mia yang ikut-ikutan emosi.
Mia sungguh tak menyangka jika Bian melimpahkan semua kesalahan kepadanya.
Padahal jelas-jelas Bian yang terlebih dahulu menyakiti hati Mia. Jika Bian tidak menolak cinta Mia, Mia pasti juga tidak akan pergi dan memblokir nomor Bian.
"Aku tidak menyalahkanmu. Semua memang kesalahanmu. Kau bukan teman sejatiku, Mia. Kau menghilang saat aku membutuhkanmu. Kau yang sudah membuat Dea kehilangan nyawanya," cecar Bian penuh emosi.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Bian.
"Keluar dari mobilku!"
"Keluar!" Bentak Mia seraya mengusir Bian. Wajah nona direktur itu sudah merah padam menahan emosi.
Bian benar-benar keterlaluan.
Pria itu tidak memikirkan perasaan Mia yang terluka dan sekarang malah menyalahkan Mia atas kepergian Dea.
Bian membuka pintu mobil Mia dengan kasar dan segera turun dari mobil nona kaya tersebut.
Pria itu kembali menutup pintu mobil dengan kasar sesaat setelah turun dari mobil Mia.
Bian langsung masuk ke kafenya tanpa menoleh ataupun berpamitan pada Mia.
Pun dengan Mia, gadis itu menatap kosong ke jalan panjang di hadapannya.
Hati Mia yang sakit terasa semakin sakit sekarang.
Mia memilih untuk menekan pedal gas dan segera pulang ke apartemennya. Tanpa Mia sadari, airmatanya sudah jatuh bercucuran di kedua pipinya bersamaan dengan hujan yang semakin deras mengguyur bumi.
Kamu jahat, Bian!
.
.
.
Satu episode doang?
Hihihi, nanti malam aku tambahin kalau banyak yang like 😩
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕
__ADS_1