Nona Mia

Nona Mia
PEKERJAAN BARU


__ADS_3

Motor Bian berhenti di depan sebuah klinik yang sepertinya masih baru.


"Ini tempatnya, Eve?" tanya Bian ragu.


Eve melihat sekali lagi alamat yang kemarin di berikan Anggi. Alamatnya sudah benar.


"Iya, Bang. Memang di sini," jawab Eve sambil memperhatikan bangunan itu sekali lagi.


"Tapi ini kan klinik, Eve. Kamu bukan dokter atau perawat," ujar Bian bingung.


Eve langsung memukul punggung sang abang.


"Kata Anggi, pemilik klinik sedang butuh orang untuk bersih-bersih. Semacam cleaning service gitu," Eve menjelaskan pada Bian, dan pria itu langsung manggut-manggut mengerti.


"Eve akan masuk dan bertanya ke dalam." Eve sudah turun dari motor Bian. Gadis itu melihat sekali lagi penampilannya di spion motor Bian untuk memastikan tak ada yang salah dengan wajahnya.


"Perlu abang tunggu?" tanya Bian lagi.


"Kalau abang ada urusan, abang pergi saja tidak apa-apa. Eve bisa pulang naik angkutan umum nanti," jawab Eve bersungguh-sungguh.


Bian melihat ke ponselnya sejenak.


"Abang harus ke beberapa resto untuk melamar pekerjaan. Apa benar kau tidak apa-apa kalau abang tinggal?" Bian masih ragu.


"Iya, Bang! Eve akan baik-baik saja. Eve bukan lagi anak kecil, Bang!" Sekali lagi Eve berkata dengan sungguh-sungguh dan penuh keyakinan.


Bian menghela nafas,


"Baiklah, hati-hati pulangnya. Dan segera telpon abang jika ada masalah!" Bian mengacak rambut Eve sebelum memakai kembali helmnya.


"Abang ish! Rambut Eve jadi berantakan lagi." Eve mencebik seraya kembali merapikan rambutnya yang berantakan. Bian hanya terkekeh dan merasa tak berdosa.


Setelah berpamitan pada Eve, Bian segera melajukan motornya meninggalan klinik tersebut.


Setelah kepergian sang abang, Eve segera masuk ke dalam bangunan bercat putih tersebut.


Namun saat Eve baru membuka pintunya, seorang pria yang berperawakan tinggi, berkulit putih bersih serta memakai kacamata, tiba-tiba muncul di hadapan Eve.


"Pagi, nona. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pria itu ramah.


Eve sedikit ternganga saat melihat pria di hadapannya tersebut. Kenapa pria ini begitu tampan seperti yang ada di novel-novel yang sering Eve baca?


"Nona?" Pria yang mengenakan kemeja garis-garis tersebut mengibaskan tangannya di depan wajah Eve yang terlihat melongo.

__ADS_1


Saat itu juga, Eve langsung tersadar dari lamunannya,


"Eh, iya. Saya Eve tuan. Saya mau melamar pekerjaan di sini sebagai cleaning service," jawab Eve sedikit ragu.


Kenapa klinik ini begitu sepi?


Apa Anggi salah memberikan alamat?


Pria itu mengernyit bingung,


"Eve? Eve siapa?" Tanya pria itu.


"Sa...saya temannya Anggi, Tuan." jawab Eve masih ragu. Mungkin Eve benar-benar salah alamat.


Sesaat kemudian, pria itu segera tersenyum hangat.


"Oh, jadi kamu Eve temannya Anggi. Iya saya baru ingat. Anggi menghubungiku semalam. Kenapa datang pagi-pagi?" Cecar pria itu bertubi-tubi.


"Maaf, saya tidak tahu kalau klinik ini belum buka." jawab Eve lirih sambil menunduk malu.


Pria itu hanya tertawa kecil.


"Baiklah, tidak apa-apa. Tapi pagi ini aku ada janji dengan beberapa pasien di rumah sakit, jadi aku belum bisa mewawancaraimu." Ujar pria berkacamata itu lagi.


Ya ampun, kenapa pria ini tampan sekali?


Eve mungkin akan betah bekerja di sini nantinya jika atasannya setampan ini.


"Di mana rumah kamu? Apa dekat dari sini?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Eve, pria tadi malah balik bertanya.


Eve menggeleng sedikit ragu,


"Rumah saya di Jalan Kalingga, tuan" jawab Eve lirih. Dan pria itu langsung terkejut.


"Itu jauh dari sini, Eve? Kamu tadi naik apa?" Tanya pria itu khawatir. Bisa saja ia menganatar Eve pulang dulu, tapi itu arah yang berbeda dengan arah rumah sakit, dan waktunya tidak terlalu banyak. Ia pasti akan terlambat jika harus mengantar Eve pulang dulu.


Tapi menyuruh gadis ini pulang lagi, lalu nanti kembali lagi, sepertinya juga bukan pilihan yang bijak.


"Tadi saya di antar oleh abang saya, tuan. Tak apa saya akan pulang naik angkutan umum dan akan kembali lagi saat anda sudah kembali," jawab Eve sambil memasang senyuman tipis.


"Tidak, Eve. Itu terlalu jauh. Aku juga hanya sebentar bertemu pasien." Pria itu tampak berpikir.


"Begini saja, kamu masuklah dulu, dan menungguku di dalam. Kamu bisa menonton tivi atau duduk memakan camilan di dalam. Aku akan kembali mungkin dua jam lagi" pria itu membuka pintu klinik dan mempersilahkan Eve masuk.

__ADS_1


"Tapi, tuan..." Eve sedikit ragu dan takut tentu saja. Ia sedang di klinik asing bersama pria asing. Bukankah wajar jika Eve takut?


"Tidak apa-apa, Eve. Ayo masuk!" Pria itu sedikit memaksa.


Eve akhirnya menurut dan mengikuti pria itu masuk ke dalam klinik yang sepertinya juga merupakan rumah pribadi dari pemiliknya.


"Duduklah di sini, kamu bisa menonton tivi. Ada makanan juga di dapur kamu bisa mengambilnya semaumu. Tidak perlu sungkan. Teman Anggi adalah temanku juga." Pria itu menunjukkan beberapa ruangan pada Eve.


Eve hanya mengangguk meskipun gadis itu masih merasa ragu, kenapa sepupu Anggi ini baik sekali?


"Tuan..." Eve bingung harus berkata apa.


"Steve. Namaku Steve dan tolong jangan memanggilku tuan. Aku bukan tuanmu, oke!" Steve mengulurkan tangannya sekaligus memperkenalkan namanya pada Eve.


"Dokter Steve, maaf. Tapi apa tidak ada pekerjan yang bisa saya lakukan sambil menunggu anda kembali. Saya bisa bersih-bersih, atau mencuci piring, atau pekerjaan apa saja." Eve sungguh tidak enak jika hanya duduk saja di rumah orang dan menunggu si empunya kembali tanpa melakukan apapun.


Steve tampak berpikir sejenak,


"Baiklah jika kamu memaksa. Ayo ikut!" Steve memberi isyarat agar Eve mengikuti Steve naik ke lantai dua dari klinik tersebut.


Steve membuka pintu sebuah ruangan. Pemandangan yang pertama kali di tangkap oleh netra Eve adalah banyak buku dan kertas yang berserakan di dalam ruangan tersebut. Ruangan itu benar-benar bak kapal pecah.


"Mungkin kau bisa membereskannya sambil menunggu aku kembali." Steve menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Eve mengangguk dengan cepat,


"Baiklah, dokter. Akan saya membereskan semuanya," ujar Eve kemudian.


Dokter Steve tersenyum lebar.


"Aku pergi dulu, Eve!" Pamit dokter Steve selanjutnya.


Eve hanya mengangguk.


Setelah dokter tampan itu turun ke bawah, bergegas Eve membereskan buku dan kertas-kertas yang berserakan di ruangan tersebut.


****


Halo,


Sudah double up ya hari ini...


Ditunggu like, komen, dan vote nya

__ADS_1


__ADS_2