
Mia baru saja tiba di rumah kedua orang tuanya.
Sepi,
Sepertinya papa Andri belum pulang. Mobilnya juga belum ada di garasi.
Mia memilih untuk langsung menuju ke kamar Kyara.
Saat baru tiba di lantai dua, samar-samar Mia mendengar suara mama Alin dan Kyara yang sepertinya sedang mengobrol.
Pintu kamar Kyara tampak terbuka.
Mia segera masuk ke dalam kamar tersebut. Benar saja, mama Alin sedang membantu Kyara mengemasi barang-barangnya.
"Kau jadi pergi besok?" Tanya Mia seraya mendaratkan bokongnya di atas kasur milik Kyara.
Kyara hanya mengangguk samar. Gadis itu sepertinya masih enggan berbicara dengan Mia. Mungkin Kyara masih marah pada Mia.
"Mia, apa kamu bisa membantu adikmu mengemasi barang-barangnya? Mama harus menyiapkan makan malam sebelum papa kamu pulang," tanya mama Alin seakan mencairkan ketegangan di antara Mia dan Kyara.
Mama Alin juga ingin memberi ruang untuk kedua putrinya tersebut agar saling bicara dari hati ke hati dan menyudahi konflik konyol di antara mereka.
"Kyara bisa melakukannya sendiri, Ma!" Sahut Kyara cepat. Gadis itu mendelik sebentar ke arah Mia sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Kyara," mama Alin menghela nafas.
"Nona kaya itu juga gak bakalan mau bantuin, Ma. Mengemasi pakaiannya sendiri saja dia tidak bisa," imbuh Kyara dengan nada sinis.
"Kata siapa? Jangan meremehkanku, nona muda! Aku bahkan bisa mencuci baju menggunakan papan penggilas tanpa mesin cuci," jawab Mia angkuh.
Dengan cepat, Mia menyambar baju dari tangan Kyara dan melipatnya dengan rapi lalu menyusunnya ke dalam koper.
"Kapan kamu mencuci menggunakan papan penggilasan, Mia? Bukankah ada mesin cuci di apartemenmu?" Tanya mama Alin khawatir.
"Saat seorang pria brengsek memanfaat seorang gadis yang mengalami amnesia untuk ia jadikan pembantu di rumahnya," jawab Mia dengan nada ketus.
Mama Alin menghela nafas sekali lagi.
"Kamu selalu mengatakan pria brengsek pria brengsek, tapi sampai sekarang kamu tidak memberitahu mama dan papa siapa pria brengsek itu..." Mama Alin menjeda kalimatnya.
"... Kalau memang kamu merasa di jahati oleh pria itu, kamu bisa menceritakan semuanya, Mia. Agar mama dan papa juga bisa segera melaporkan pria itu ke polisi," lanjut mama Alin lagi.
"Mungkin kak Mia jatuh cinta pada pria itu, Ma. Makanya dia enggan melaporkan pria brengsek itu ke polisi," timpal Kyara dengan nada menyindir.
"Jaga ucapanmu, nona muda! Aku tidak mungkin jatuh cinta pada pria brengsek dan mata duitan itu," sangkal Mia merasa tak terima.
Kyara hanya tersenyum simpul.
"Silahkan mengelak, kakakku yang kaya! Tapi ingatlah bahwa karma itu ada. Bukan tak mungkin kakak akan jatuh cinta pada pria itu suatu hari nanti," tukas Kyara masih tak berhenti menyindir Mia.
"Dan saat itu terjadi aku akan membelikanmu sebuah apartemen mewah. Tapi sayangnya itu tidak akan pernah terjadi. Seorang nona Mia tidak mungkin jatuh cinta pada pria brengsek dan juga mata duitan," sergah Mia dengan nada sombong dan angkuh. Sepertinya gadis itu masih tetap pada pendiriannya.
"Aku akan menagih janjimu suatu hari nanti, kakakku yang kaya," sahut Kyara seraya menatap tajam ke arah Mia.
Mia hanya mendengus dan memilih untuk melanjutkan mengemasi baju-baju adiknya tersebut.
"Apa hanya mama yang tidak paham di sini? Mama sungguh penasaran, siapa sebenarnya pria brengsek yang sedang kalian bicarakan itu?" Mama Alin ikut-ikutan menimpali.
"Mia rasa mama tak perlu mengenalnya, karena pria itu benar-benar brengsek," saran Mia masih dengan nada sinis.
__ADS_1
Mama Alin hanya terkekeh.
Meskipun Mia dan Kyara masih adu debat, tapi setidaknya kedua putrinya itu sudah saling bicara sekarang.
Apa mama Alin boleh bernafas lega sekarang?
"Bukankah seharusnya mama pergi ke dapur sekarang dan memasak sebelum papa pulang?" Kyara mengingatkan mama Alin yang tadi sudah berpamitan untuk pergi memasak, namun sampai sekarang mamanya tersebut malah masih ada di ruangan ini.
Mama Alin terkekeh,
"Apa kalian tidak akan baku hantam kalau mama tinggal? Mama takut kalian akan cakar-cakaran atau jambak-jambakan berebut pria brengsek kalau mama pergi dari sini" ujar mama Alin masih terkekeh.
Mia dan Kyara berdecak bersamaan,
"Kami bukan anak kecil, Ma!" Sergah Mia tak terima.
"Lagipula, Kyara juga sudah tidak tertarik dengan pria brengsek itu. Kyara ikhlas jika kak Mia mau menjadikannya sebagai suami," timpal Kyara asal.
Sontak Mia langsung menyentil kening adik perempuannya tersebut.
"Auuw, sakit kakak!" Protes Kyara seraya mencebik.
Mia hanya melengos dan tak merasa bersalah.
"Baiklah, mama akan pergi memasak sekarang." Pamit mama Alin seraya berlalu dari kamar Kyara.
Sesaat suasana menjadi hening setelah kepergian mama Alin.
"Jadi, kau patah hati pada Bian dan sekarang ingin kuliah ke luar negeri untuk melupakan pria brengsek itu?" Tebak Mia memecah keheningan.
Kyara mengendikkan bahu,
"Kau hanya terlalu lugu dan polos. Itu saja," jawab Mia sambil mengusap lembut kepala adiknya tersebut.
"Tapi aku merasa sudah menjadi gadis paling bodoh di dunia ini. Aku menghambur-hamburkan uang kakak untuk pria brengsek seperti Bian. Bodoh sekali," Kyara tak berhenti merutuki dirinya sendiri.
"Apa kamu mencintai pria brengsek itu?" Tanya Mia serius.
"Tadinya begitu. Tapi setelah Bian mengatakan kalau selama ini dia hanya menganggap aku ini adiknya, mendadak aku jadi membenci pria brengsek itu." Jawab Kyara datar.
Namun Mia bisa menangkap raut kekecewaan di wajah adiknya tersebut.
"Kamu gadis yang baik, Kya. Kamu akan mendapatkan pria yang baik yang benar-benar mencintaimu suatu hari nanti," hibur Mia seraya mengusap punggung tangan Kyara.
"Kakak benar. Mungkin setelah pergi dari kota ini, aku akan bisa melupakan pria brengsek bernama Bian itu," imbuh Kyara seraya terkekeh.
Apa Kyara sedang menertawakan dirinya sendiri sekarang?
Mia segera memeluk adik semata wayangnya tersebut,
"Fokuslah pada masa depanmu, jangan terlalu memikirkan pria-pria brengsek itu," nasehat Mia sekali lagi.
"Apa kakak ingin mengajakku menjadi perawan tua seperti kakak?" Kyara sudah melepaskan pelukan Mia.
"Kakak belum tua, Kya!" Protes Mia tak terima.
"Baiklah, baiklah. Lalu kapan kakak akan punya pacar. Apa kakak tidak pernah jatuh cinta seumur hidup?" Tanya Kyara penasaran.
"Tentu saja pernah. Kakak pernah punya pacar saat SMA," jawab Mia pamer.
__ADS_1
"Lalu? Di mana pria itu sekarang? Apa dia kabur setelah pacarnya berubah jadi galak dan sombong?" Cecar Kyara semakin penasaran.
Mia mendengus seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Dia sudah tergila-gila dengan seorang gadis miskin adik dari Bian brengsek," jawab Mia dengan nada ketus.
"Maksud kakak Eve? Jadi tunangan Eve itu mantan pacar kak Mia? Oh, dunia sempit sekali," Kyara sedikit tergelak.
Berbeda dengan Mia yang kini mencebik karena kesal.
"Kau kenal dengan Eve?" Tanya Mia menyelidik.
Kyara mengendikkan bahu,
"Ya, Bian pernah mengenalkan kami berdua. Eve gadis yang baik, wajar jika Steve lebih memilih gadis itu ketimbang kak Mia yang galak, " ujar Kyara mengungkapkan asumsinya.
"Apa katamu?" Sahut Mia tak terima. Gadis itu sudah bersiap untuk menyentil kening Kyara.
Namun secepat kilat Kyara mengelak dan nyengir tanpa dosa.
Mia hanya bisa mendengus kesal.
Kyara dan Mia sudah selesai mengemasi semua barang yang akan Kyara bawa besok.
Kyara beranjak dari duduknya dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Ini, Kak. Aku kembalikan." Kyara menyodorkan sebuah kartu kredit pada Mia.
Mia tidak langsung menerima benda plastik itu, Mia mengernyit tak mengerti,
"Kamu bisa membawanya, Kya." Ujar Mia dengan nada serius.
Kyara menggeleng,
"Aku sudah terlalu banyak mengamburkan uang kakak, aku ingin mencoba mencari uang sendiri, Kak," tolak Kyara memberi alasan.
Mencari uang sendiri?
Ada apa dengan Kyara?
"Aku ingin belajar jadi gadis mandiri yang bisa mencari uang sendiri seperti kak Mia. Sudah cukup aku bermanja-manjaan selama ini," imbuh Kyara dengan nada bersungguh-sungguh.
Baiklah, kini Mia mengerti maksud Kyara. Mia segera menerima kartu kredit yang tadi disodorkan oleh Kyara.
Bibir Mia melengkungkan sebuah senyuman,
"Kakak senang dengan pemikiran kamu, Kya. Tapi kalau kamu membutuhkan benda ini, kamu bisa mengambilnya kembali kapan saja," tukas Mia seraya mengusap kepala adik kesayangannya tersebut.
Kyara segera menghambur ke pelukan sang kakak.
Meskipun Kyara dan Mia sering berdebat dan meributkan hal-hal kecil, namun kakak beradik itu selalu menyayangi satu sama lain.
.
.
.
Masih di tunggu like, komen, dan vote nya. Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1